Gubernur Sherly: Hilirisasi Nikel Dongkrak Ekonomi Maluku Utara, Kini Fokus Perkuat Manfaat untuk Masyarakat Lokal


 Gubernur Sherly: Hilirisasi Nikel Dongkrak Ekonomi Maluku Utara, Kini Fokus Perkuat Manfaat untuk Masyarakat Lokal Gubernur Maluku Utara Sherly Tjoanda menyampaikan paparan dalam diskusi Responsible Downstreaming at Scale: North Maluku Sustainable Experience di Jakarta, Rabu (3/6/2026). ANTARA/Aria Ananda

JAKARTA, ARAHKITA.COM – Program hilirisasi nikel yang berkembang pesat di Maluku Utara tidak hanya mengubah wajah industri daerah tersebut, tetapi juga menjadi motor penggerak pertumbuhan ekonomi yang signifikan.

Gubernur Maluku Utara, Sherly Tjoanda, menyebut daerahnya kini bertransformasi dari wilayah penghasil bahan mentah menjadi salah satu pusat industri strategis nasional yang terhubung dengan rantai pasok global.

Dalam diskusi bertajuk Responsible Downstreaming at Scale: Lessons from North Maluku di Jakarta, Rabu (3/6/2026), Sherly mengungkapkan bahwa dampak hilirisasi terlihat jelas dari lonjakan pertumbuhan ekonomi daerah.

"Tahun lalu pertumbuhan ekonomi Maluku Utara mencapai 34 persen secara tahunan. Pada triwulan pertama tahun ini masih tumbuh tinggi, yakni 19,6 persen," ujarnya.

Menurut Sherly, pengembangan industri pengolahan nikel telah menarik investasi dalam jumlah besar, membuka lapangan pekerjaan baru, mempercepat pembangunan infrastruktur, sekaligus memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok global industri kendaraan listrik dan baja nirkarat.

Salah satu penggerak utama transformasi tersebut adalah kawasan industri Indonesia Weda Bay Industrial Park (IWIP) di Halmahera Tengah. Kawasan ini memiliki ekosistem industri yang terintegrasi mulai dari aktivitas pertambangan hingga pengolahan nikel menjadi bahan baku untuk industri baja nirkarat dan baterai kendaraan listrik.

"Hilirisasi telah mengubah perekonomian Maluku Utara secara signifikan," kata Sherly.

Menjadi Pemain Penting Nikel Dunia

Saat ini, Maluku Utara memiliki posisi strategis dalam industri nikel global. Sherly menyebut provinsi tersebut menyumbang sekitar seper tujuh produksi nikel dunia, menjadikannya salah satu daerah penting dalam rantai pasok mineral kritis internasional.

Meski demikian, menurutnya, keberhasilan hilirisasi tidak boleh hanya diukur dari nilai investasi atau pertumbuhan ekonomi semata. Tahap berikutnya adalah memastikan manfaat industri dapat dirasakan lebih luas oleh masyarakat setempat.

"Tahap berikutnya harus fokus pada manfaat yang lebih luas bagi masyarakat," tegasnya.

UMKM Lokal Didorong Masuk Rantai Pasok Industri

Pemerintah Provinsi Maluku Utara kini berupaya memperbesar keterlibatan pelaku usaha lokal dalam ekosistem industri yang berkembang.

Berbagai sektor jasa seperti katering, logistik, laundry industri, perawatan fasilitas, hingga penyedia alat keselamatan kerja mulai didorong agar dapat menjadi bagian dari rantai pasok kawasan industri.

Tak hanya itu, sektor pertanian dan perikanan juga menjadi perhatian utama. Pemerintah daerah ingin kebutuhan pangan kawasan industri yang terus meningkat dapat dipenuhi oleh petani dan nelayan lokal.

Sherly mengungkapkan, nilai kebutuhan konsumsi pangan di kawasan industri Maluku Utara mencapai sekitar Rp100 miliar setiap bulan atau setara Rp1,2 triliun per tahun. Namun hingga kini sebagian besar pasokan masih berasal dari luar daerah.

Saat ini, produksi lokal baru mampu memenuhi sekitar 20 persen kebutuhan tersebut.

Karena itu, pemerintah daerah terus memperkuat infrastruktur pertanian dan perikanan guna meningkatkan kapasitas produksi dalam negeri secara bertahap.

"Harapannya kebutuhan ayam, daging, telur, hingga beras nantinya dapat diproduksi secara lokal," ujarnya dikutip Antara.

Siapkan SDM untuk Industri Masa Depan

Selain penguatan ekonomi lokal, pemerintah daerah juga fokus menyiapkan sumber daya manusia yang mampu bersaing di sektor industri modern.

Pengembangan pendidikan vokasi dan politeknik menjadi salah satu strategi utama agar masyarakat Maluku Utara dapat mengisi lebih banyak posisi teknis maupun manajerial di sektor hilirisasi.

Saat ini pemerintah daerah tengah menjajaki kerja sama dengan sejumlah perguruan tinggi, termasuk Institut Pertanian Bogor, untuk mengembangkan pendidikan vokasi di bidang metalurgi, teknik kelistrikan, dan berbagai bidang teknik lainnya yang dibutuhkan industri.

Sherly berharap pertumbuhan industri hilirisasi ke depan tidak hanya menciptakan kawasan industri yang maju, tetapi juga meningkatkan kesejahteraan petani, nelayan, pelaku UMKM, serta masyarakat Maluku Utara secara keseluruhan.

Editor : Farida Denura

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Ekonomi Terbaru