Rumor Merger SpaceX dan Tesla Kian Menguat, Elon Musk Disebut Siapkan Langkah Besar ke Nasdaq


 Rumor Merger SpaceX dan Tesla Kian Menguat, Elon Musk Disebut Siapkan Langkah Besar ke Nasdaq Rumor merger SpaceX dan Tesla kembali mencuat jelang IPO SpaceX di Nasdaq. (Ilustrasi AI)

JAKARTA, ARAHKITA.COM – Rumor mengenai kemungkinan merger antara SpaceX dan Tesla kembali menjadi perbincangan hangat di dunia bisnis dan teknologi. Isu ini mencuat seiring langkah Elon Musk yang disebut tengah mempersiapkan SpaceX menuju pasar saham Nasdaq.

Jika rencana itu benar terjadi, Elon Musk berpotensi memimpin dua perusahaan teknologi terbesar di Amerika Serikat dalam satu ekosistem bisnis raksasa yang berfokus pada kecerdasan buatan (AI), antariksa, kendaraan listrik, hingga infrastruktur komputasi masa depan.

Dilaporkan dan dikutip dari CNBC, Musk disebut telah beberapa kali mendiskusikan kemungkinan penggabungan SpaceX dan Tesla dengan orang-orang terdekatnya. Meski belum ada konfirmasi resmi, pembahasan internal mengenai peluang merger disebut sudah berlangsung cukup lama.

Spekulasi tersebut semakin kuat karena kedua perusahaan memang memiliki hubungan yang sangat erat. SpaceX dan Tesla selama ini diketahui berbagi sumber daya, tenaga ahli, hingga kolaborasi teknologi untuk menyelesaikan berbagai tantangan teknik, khususnya terkait daya komputasi dan pengembangan AI.

Saat ini, SpaceX diperkirakan memiliki valuasi sekitar US$1,25 triliun setelah bergabung dengan perusahaan AI milik Musk, xAI. Sementara Tesla masih menjadi salah satu perusahaan otomotif paling bernilai di dunia dengan kapitalisasi pasar sekitar US$1,6 triliun.

Fokus Baru: AI dan Infrastruktur Masa Depan

Meski bergerak di sektor berbeda, SpaceX dan Tesla kini memiliki arah pengembangan yang semakin mirip. Keduanya sama-sama agresif membangun teknologi AI dan infrastruktur komputasi berskala besar.

SpaceX diketahui menggelontorkan sebagian besar belanja modalnya untuk pengembangan AI dan pusat data. Di sisi lain, Tesla juga meningkatkan investasi besar-besaran untuk pengembangan teknologi kendaraan otonom dan sistem AI generatif.

Investor teknologi dari Theory Ventures, Tomasz Tunguz, menilai kedua perusahaan sebenarnya menghadapi tantangan teknis yang serupa.

Menurutnya, Tesla harus menjalankan sistem AI canggih di kendaraan bergerak dengan keterbatasan daya dan pendinginan, sementara SpaceX menghadapi tantangan komputasi di orbit luar angkasa yang juga memerlukan efisiensi energi ekstrem.

Karena itulah, kolaborasi antara keduanya dinilai semakin masuk akal.

Banyak Sumber Daya Sudah Terhubung

Hubungan SpaceX dan Tesla sebenarnya sudah sangat terintegrasi dalam beberapa tahun terakhir.

Beberapa petinggi dan anggota dewan direksi diketahui memiliki posisi di kedua perusahaan. Elon Musk sendiri masih memegang kendali besar di SpaceX dengan hak suara mencapai sekitar 85 persen.

Selain itu, Tesla juga tercatat telah menginvestasikan dana miliaran dolar ke xAI yang kemudian menjadi bagian dari ekosistem bisnis SpaceX setelah merger internal perusahaan tersebut.

Dalam dokumen prospektusnya, SpaceX juga mengungkap pembelian baterai Megapack Tesla senilai ratusan juta dolar untuk mendukung pusat data AI milik xAI di Memphis, Tennessee. Tak hanya itu, SpaceX bahkan membeli armada Tesla Cybertruck untuk kebutuhan operasional perusahaan.

Kerja sama mereka juga mencakup penggunaan teknologi material, pengembangan komponen khusus, hingga penggunaan jet pribadi SpaceX oleh Tesla.

Bagi sebagian pemasok teknologi, perusahaan-perusahaan Elon Musk bahkan mulai dipandang sebagai satu kelompok bisnis besar yang saling terhubung.

Merger Dinilai Rumit tapi Sangat Mungkin

Meski peluang merger terlihat realistis, sejumlah analis hukum dan pasar menilai proses tersebut tidak akan mudah.

Tantangan terbesar diperkirakan muncul dari sisi struktur kepemilikan saham, penentuan valuasi gabungan, hingga kepentingan pemegang saham masing-masing perusahaan.

Namun, sebagian pengamat menilai Musk memiliki kekuatan besar untuk mendorong langkah itu karena pengaruh dominannya di kedua perusahaan.

CEO Gerber Kawasaki, Ross Gerber, sebelumnya menyebut merger SpaceX dan Tesla bisa membantu Musk membangun satu perusahaan teknologi super besar yang lebih kuat dalam persaingan AI global melawan perusahaan seperti Google.

Sementara investor SpaceX, Tejpaul Bhatia, melihat peluang pertumbuhan industri antariksa masih sangat besar, terutama setelah SpaceX resmi melantai di bursa saham.

Jika merger benar-benar terjadi, langkah tersebut berpotensi menjadi salah satu transaksi korporasi terbesar dalam sejarah industri teknologi modern.

 

Editor : Farida Denura

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Ekonomi Terbaru