Loading
Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) Filianingsih Hendarta menghadiri forum ASEAN+3 Finance Ministers and Central Bank Governors' Meeting (AFMGM+3) ke-29 di Samarkand, Uzbekistan, pada 2-3 Mei 2026. (ANTARA/HO-Bank Indonesia)
JAKARTA, ARAHKITA.COM – Integrasi sistem pembayaran digital antara QRIS Indonesia dan JPQOR Jepang diyakini akan membuka peluang baru bagi peningkatan transaksi perdagangan kedua negara. Bank Indonesia (BI) optimistis konektivitas pembayaran lintas negara ini dapat memperkuat hubungan ekonomi Indonesia dan Jepang dalam beberapa tahun ke depan.
Deputi Gubernur Bank Indonesia, Filianingsih Hendarta, mengatakan integrasi QRIS dengan standar pembayaran QR Jepang atau JPQOR mulai diterapkan sejak 17 Agustus 2025. Langkah ini dinilai menjadi terobosan penting dalam memperlancar transaksi digital antarnegara, khususnya bagi pelaku usaha dan merchant di kedua negara.
Menurut Filianingsih, nilai perdagangan Indonesia dan Jepang pada 2025 telah mencapai 224 triliun yen. Dengan integrasi sistem pembayaran tersebut, transaksi lintas negara diharapkan menjadi lebih praktis, cepat, dan efisien.
“Integrasi ini memungkinkan transaksi merchant dilakukan secara langsung sehingga arus pembayaran digital antarnegara menjadi semakin mulus,” ujarnya dalam keterangan yang diterima di Jakarta, Selasa (26/5/2026).
Selain integrasi QRIS-JPQOR, BI juga terus mendorong penggunaan skema Local Currency Transaction (LCT) dalam perdagangan internasional. Skema ini memungkinkan transaksi dilakukan menggunakan mata uang lokal sehingga dapat mengurangi risiko fluktuasi nilai tukar sekaligus menekan biaya bisnis.
Pandangan serupa disampaikan Wakil Kepala Perwakilan KBRI Tokyo, Maria Renata Hutagalung. Ia menilai kemudahan sistem pembayaran menjadi faktor penting dalam mempererat hubungan ekonomi Indonesia dan Jepang.
Menurut Renata, kerja sama finansial melalui LCT menunjukkan perkembangan positif seiring kuatnya fundamental ekonomi Indonesia. Bahkan, Jepang kini tercatat sebagai mitra LCT terbesar kedua bagi Indonesia.
Sementara itu, Executive Vice President JETRO, Kenichi Hirano, menegaskan bahwa Jepang masih memandang Indonesia sebagai salah satu mitra ekonomi paling strategis di Asia Tenggara.
Besarnya pasar domestik Indonesia, pertumbuhan ekonomi yang stabil, serta regulasi investasi yang semakin matang menjadi alasan utama meningkatnya minat investor Jepang untuk menanamkan modal di Indonesia.
Pernyataan tersebut disampaikan dalam forum Indonesia-Japan Investment Forum 2026 yang mempertemukan pelaku usaha dan investor dari kedua negara.
Forum tersebut tidak hanya menjadi ajang diskusi bisnis, tetapi juga menghasilkan komitmen investasi nyata dari sejumlah perusahaan Jepang. Dua perusahaan yang menyampaikan Letter of Intent (LoI) adalah Pongamia Co., Ltd dan Onoda Inc..
Pongamia Co., Ltd menyatakan minat investasi di sektor energi terbarukan melalui pengembangan perkebunan tanaman pongamia di Indonesia. Proyek tersebut diproyeksikan menghasilkan biodiesel dan bioavtur yang mendukung transisi energi hijau nasional dikutip Antara.
Di sisi lain, Onoda Inc. berencana mengembangkan perakitan gas meter ultrasonik asal Jepang di Indonesia. Investasi ini ditargetkan membantu perluasan jaringan gas rumah tangga nasional yang tengah didorong pemerintah.
Dengan integrasi sistem pembayaran digital dan meningkatnya minat investasi Jepang, hubungan ekonomi Indonesia-Jepang diperkirakan akan semakin erat, baik di sektor perdagangan, manufaktur, maupun energi berkelanjutan.