Jepang Dilirik untuk Proyek Hilirisasi Timah hingga Giant Sea Wall, RI Bidik Investasi Hijau


 Jepang Dilirik untuk Proyek Hilirisasi Timah hingga Giant Sea Wall, RI Bidik Investasi Hijau Wakil Kepala Perwakilan RI Tokyo Maria Renata Hutagalung. (ANTARA/HO-KBRI Tokyo)

JAKARTA, ARAHKITA.COM – Pemerintah Indonesia terus memperkuat kerja sama investasi dengan Jepang melalui ajang Indonesia-Japan Investment Forum (IJIF) 2026. Dalam forum tersebut, Indonesia menawarkan sejumlah proyek strategis, mulai dari hilirisasi timah di kawasan industri JIIPE Gresik hingga proyek ambisius Tanggul Laut Raksasa atau Giant Sea Wall (GSW).

Langkah ini menjadi bagian dari upaya pemerintah menarik investasi berkualitas yang mendukung ekonomi hijau, hilirisasi industri, dan transisi energi berkelanjutan.

Wakil Kepala Perwakilan KBRI Tokyo, Maria Renata Hutagalung, mengatakan Indonesia dan Jepang saat ini sedang membangun mesin pertumbuhan ekonomi baru yang lebih tangguh dan ramah lingkungan.

Menurut Renata, Jepang bukan hanya salah satu investor terbesar di Indonesia, tetapi juga mitra strategis yang telah berkontribusi besar terhadap penciptaan lapangan kerja dan pengembangan industri nasional.

“Jepang telah menjadi mitra pembangunan terpercaya bagi Indonesia, termasuk dalam mendukung agenda hilirisasi industri dan transisi energi,” ujarnya dalam keterangan yang diterima di Jakarta, Selasa (26/5/2026).

Selain proyek hilirisasi timah, pemerintah juga menawarkan pengembangan kawasan Industropolis Batang SEZ atau Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Batang di Jawa Tengah. Kawasan ini diproyeksikan menjadi pusat industri berteknologi tinggi yang fokus pada kendaraan listrik (EV), pusat data, dan manufaktur modern.

Tak hanya itu, Indonesia juga memperkenalkan proyek energi biomassa di Grobogan, Jawa Tengah. Proyek tersebut memanfaatkan limbah pertanian jagung sebagai sumber energi terbarukan dengan nilai investasi mencapai 15,5 juta dolar AS.

Menariknya, proyek ini disebut telah menarik perhatian perusahaan Jepang, Kobelco, untuk dibahas lebih lanjut sebagai peluang kerja sama strategis di sektor energi hijau.

Direktur Promosi Wilayah Asia Timur, Asia Selatan, Timur Tengah, dan Afrika Kementerian Investasi/BKPM, Cahyo Purnomo, mengungkapkan bahwa realisasi investasi langsung Jepang di Indonesia sejak 2021 hingga kuartal pertama 2026 mencapai 18,1 miliar dolar AS.

Angka tersebut menunjukkan pertumbuhan tahunan rata-rata sebesar 13,2 persen, menandakan tingginya minat investor Jepang terhadap pasar Indonesia.

Namun demikian, pemerintah menilai distribusi investasi masih belum merata. Saat ini, sekitar 94 persen proyek investasi Jepang masih terkonsentrasi di Pulau Jawa.

Karena itu, pemerintah mulai mendorong investor Jepang untuk menjajaki peluang investasi di berbagai daerah luar Jawa yang dinilai memiliki potensi besar untuk berkembang.

Forum IJIF 2026 juga menghasilkan sejumlah komitmen bisnis konkret dari perusahaan Jepang. Salah satunya datang dari Pongamia Co., Ltd yang menyatakan minat investasi di sektor energi terbarukan melalui pengembangan perkebunan tanaman Pongamia di Indonesia.

Tanaman tersebut nantinya akan diolah menjadi biodiesel dan bioavtur sebagai bagian dari roadmap energi hijau nasional.

Sementara itu, Onoda Inc. juga menyatakan minat investasi di sektor manufaktur dengan rencana perakitan alat gas meter ultrasonik asal Jepang di Indonesia. Kehadiran investasi ini diharapkan dapat mendukung perluasan jaringan gas rumah tangga nasional.

Dengan berbagai proyek strategis yang ditawarkan, pemerintah berharap kerja sama Indonesia dan Jepang tidak hanya memperbesar nilai investasi, tetapi juga mempercepat transformasi industri nasional menuju ekonomi yang lebih hijau dan berkelanjutan.

 

Editor : Farida Denura

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Ekonomi Terbaru