Jumat, 11 September 2026

BI Naikkan Bunga SRBI, Modal Asing Kembali Masuk dan Rupiah Diproyeksi Menguat


 BI Naikkan Bunga SRBI, Modal Asing Kembali Masuk dan Rupiah Diproyeksi Menguat Tangkapan virtual Gubernur Bank Indonesia BI Perry Warjiyo. (Net)

JAKARTA, ARAHKITA.COM – Langkah Bank Indonesia menaikkan suku bunga Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) mulai menunjukkan hasil positif. Kebijakan tersebut dinilai berhasil menarik kembali aliran modal asing masuk ke Indonesia sekaligus membantu menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah tekanan ekonomi global.

Gubernur Perry Warjiyo mengatakan kenaikan imbal hasil SRBI dalam dua bulan terakhir menjadi salah satu faktor utama yang mendorong investor asing kembali menempatkan dananya di pasar keuangan domestik.

“Langkah kenaikan bunga SRBI berhasil mendorong kembali portfolio inflow setelah sebelumnya terjadi outflow cukup besar pada triwulan pertama,” ujar Perry dalam konferensi pers hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI di Jakarta, Rabu (20/5/2026).

Berdasarkan data BI per 13 Mei 2026, suku bunga SRBI naik menjadi 6,21 persen untuk tenor enam bulan, 6,31 persen untuk tenor sembilan bulan, dan 6,45 persen untuk tenor 12 bulan.

Kenaikan imbal hasil tersebut membuat instrumen SRBI semakin menarik bagi investor global, terutama di tengah ketidakpastian ekonomi dunia akibat konflik geopolitik di kawasan Timur Tengah.

Pada triwulan I 2026, Indonesia sempat mengalami arus modal keluar bersih (net outflow) sebesar 0,8 miliar dolar AS. Namun situasi mulai berbalik pada triwulan II 2026. Hingga 18 Mei 2026, BI mencatat arus modal asing masuk bersih (net inflow) mencapai 5,5 miliar dolar AS dikutip Antara.

Masuknya dana asing itu terutama mengalir ke instrumen SRBI dan Surat Berharga Negara (SBN) seiring meningkatnya tingkat imbal hasil kedua instrumen tersebut.

BI mencatat posisi SRBI hingga 18 Mei 2026 mencapai Rp921,88 triliun. Dari jumlah tersebut, kepemilikan investor nonresiden meningkat menjadi Rp221,59 triliun atau sekitar 24,04 persen dari total outstanding.

Selain mengandalkan instrumen SRBI, BI juga terus memperkuat strategi stabilisasi rupiah melalui berbagai kebijakan moneter dan intervensi pasar valuta asing.

Bank sentral meningkatkan intensitas intervensi di pasar Non Deliverable Forward (NDF) offshore, serta transaksi spot dan Domestic Non Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik guna menjaga pergerakan rupiah tetap stabil.

Tak hanya itu, BI juga melakukan penyesuaian aturan transaksi pasar valas sejak April 2026. Kebijakan tersebut meliputi peningkatan batas transaksi beli tunai valas tanpa underlying, kenaikan threshold jual DNDF dan forward, hingga penyesuaian transaksi swap.

Dalam upaya memperluas penggunaan mata uang lokal, BI turut memperkenalkan instrumen spot dan swap menggunakan offshore Chinese Renminbi (CNH) terhadap rupiah serta memperluas implementasi Local Currency Transaction (LCT).

Di sisi lain, ketahanan eksternal Indonesia juga dinilai tetap solid. Posisi cadangan devisa pada akhir April 2026 tercatat sebesar 146,2 miliar dolar AS. Nilai tersebut setara dengan pembiayaan 5,8 bulan impor atau 5,6 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah.

Jumlah itu juga jauh di atas standar kecukupan internasional yang umumnya berada di kisaran tiga bulan impor.

Dalam RDG Mei 2026, BI juga memutuskan menaikkan BI-Rate sebesar 50 basis poin dari 4,75 persen menjadi 5,25 persen. Kenaikan ini menjadi penyesuaian pertama setelah suku bunga acuan ditahan di level 4,75 persen sejak September 2025.

Sebelumnya, sepanjang 2025, BI tercatat telah memangkas suku bunga acuan sebanyak lima kali dengan total penurunan mencapai 125 basis poin.

Dengan kombinasi berbagai kebijakan tersebut, BI optimistis nilai tukar rupiah akan bergerak lebih stabil bahkan cenderung menguat pada Juli hingga Agustus 2026, terutama setelah tekanan permintaan valuta asing domestik mulai mereda.

 

Editor : Farida Denura

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Ekonomi Terbaru