Ekonom: KEM-PPKF 2027 Jadi Penanda Fase Baru Pembangunan Ekonomi Indonesia


 Ekonom: KEM-PPKF 2027 Jadi Penanda Fase Baru Pembangunan Ekonomi Indonesia Kepala Ekonom Trimegah Sekuritas Indonesia, Fakhrul Fulvian. (Foto: YouTube Adinda Pandjaitan)

JAKARTA, ARAHKITA.COM – Chief Economist Trimegah Sekuritas Indonesia, Fakhrul Fulvian, menilai arah kebijakan dalam KEM-PPKF 2027 yang disampaikan Presiden Prabowo Subianto menandai dimulainya fase baru pembangunan ekonomi Indonesia.

Menurutnya, pemerintah kini tidak hanya berfokus mengejar pertumbuhan ekonomi tinggi, tetapi juga mulai memperbesar kapasitas negara agar mampu menopang pertumbuhan jangka panjang secara berkelanjutan.

Fakhrul mengatakan pertumbuhan ekonomi yang kuat tidak bisa terus-menerus bergantung pada konsumsi domestik atau lonjakan harga komoditas. Indonesia, kata dia, membutuhkan fondasi ekonomi yang lebih kokoh agar target pertumbuhan tinggi benar-benar realistis.

“Pertumbuhan ekonomi tinggi tidak bisa hanya bergantung pada konsumsi atau booming komoditas semata. Untuk mencapai pertumbuhan yang lebih tinggi secara berkelanjutan, kapasitas negara harus ikut membesar,” ujarnya di Jakarta, Rabu (20/5/2026).

Ia menjelaskan, kapasitas negara bukan semata soal besarnya APBN, melainkan juga kemampuan pemerintah menjaga kepercayaan pasar, memperkuat stabilitas eksternal, serta menciptakan sumber pembiayaan jangka panjang yang stabil.

Menurut Fakhrul, agenda besar seperti hilirisasi, industrialisasi, hingga upaya memperbesar kelas menengah membutuhkan ruang fiskal yang jauh lebih kuat dibanding saat ini.

Ia juga menyoroti rasio penerimaan negara terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia yang masih berada di kisaran 11 persen. Angka tersebut dinilai menunjukkan bahwa ruang untuk memperkuat kapasitas fiskal nasional masih sangat terbuka dibandingkan banyak negara berkembang lainnya.

Meski demikian, ia mengingatkan bahwa penguatan fiskal tidak boleh hanya dilakukan lewat penambahan tarif maupun pungutan baru. Pemerintah justru perlu fokus meningkatkan kepatuhan pajak, memperluas basis ekonomi formal, serta mempercepat digitalisasi administrasi perpajakan.

Di sisi lain, konsistensi kebijakan dinilai menjadi faktor penting dalam menjaga kepercayaan pasar di tengah kondisi ekonomi global yang semakin volatil.

Menurut Fakhrul, pasar keuangan modern bergerak berdasarkan tingkat kepercayaan investor. Negara yang dipercaya akan memperoleh biaya pendanaan lebih murah, sementara ketidakpastian kebijakan justru meningkatkan premi risiko dan membebani pembiayaan.

Ia juga menyoroti ketidakseimbangan antara surplus perdagangan Indonesia yang besar dengan masih terjadinya net outflow pada neraca finansial nasional.

Kondisi tersebut, kata dia, menunjukkan bahwa Indonesia masih rentan terhadap pergerakan dolar global. Meski neraca perdagangan mencatat surplus, tekanan terhadap pasar keuangan domestik tetap muncul ketika dolar AS menguat.

“Artinya struktur balance of payments kita masih harus diperkuat,” katanya dikutip Antara.

Untuk mendukung target pertumbuhan ekonomi tinggi, Fakhrul menilai Indonesia perlu segera membangun arsitektur pembiayaan yang lebih tahan terhadap gejolak eksternal.

Ia menyebut terdapat tiga strategi utama yang perlu dipercepat pemerintah bersama otoritas keuangan. Pertama, memperdalam pasar derivatif domestik agar pelaku usaha memiliki instrumen lindung nilai atau hedging yang lebih kuat terhadap risiko global.

Kedua, melakukan internasionalisasi rupiah secara bertahap melalui perluasan local currency settlement di kawasan regional.

Sementara strategi ketiga adalah memperluas sumber pembiayaan non-dolar, termasuk melalui penerbitan obligasi berbasis renminbi oleh pemerintah maupun sektor swasta.

Selain itu, Indonesia juga dinilai perlu membangun long-IDR environment guna memperkuat pembiayaan domestik jangka panjang.Fakhrul menegaskan tantangan terbesar Indonesia ke depan bukan sekadar mengejar pertumbuhan ekonomi tinggi, tetapi memastikan negara memiliki fondasi pembiayaan yang cukup kuat untuk menopang transformasi ekonomi nasional secara berkelanjutan.

Editor : Farida Denura

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Ekonomi Terbaru