Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menjawab pertanyaan wartawan saat ditemui di Kompleks Parlemen, Jakarta, Kamis (27/11/2025). (ANTARA/Imamatul Silfia)
JAKARTA, ARAHKITA.COM — Pemerintah mulai menyiapkan langkah untuk meredam tekanan terhadap rupiah yang terus melemah terhadap dolar Amerika Serikat. Salah satu strategi yang akan dilakukan adalah menjaga stabilitas pasar obligasi negara agar investor tetap percaya terhadap pasar keuangan Indonesia.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan pemerintah siap masuk ke pasar obligasi mulai Rabu (13/5/2026) guna membantu menjaga stabilitas nilai tukar rupiah yang kini telah menyentuh level Rp17.500 per dolar AS.
“Kita akan mulai membantu besok, mungkin dengan masuk ke bond market,” ujar Purbaya di Kantor Kementerian Keuangan, Jakarta, Selasa (12/5/2026).
Langkah tersebut akan dilakukan melalui mekanisme bond stabilization fund (BSF), yaitu skema stabilisasi pasar obligasi dengan memanfaatkan anggaran yang tersedia. Selain itu, pemerintah juga membuka kemungkinan melakukan buyback atau pembelian kembali surat utang negara di pasar.
Menahan Kenaikan Yield SBN
Di tengah tekanan terhadap rupiah, pemerintah berupaya menjaga agar imbal hasil atau yield Surat Berharga Negara (SBN) tidak melonjak terlalu tinggi. Sebab, kenaikan yield yang tajam bisa memicu kerugian bagi investor asing dan mendorong keluarnya modal dari Indonesia.
Purbaya menjelaskan, jika arus modal keluar terus terjadi, tekanan terhadap rupiah akan semakin besar. Karena itu, pemerintah berusaha menjaga pasar obligasi tetap stabil agar investor asing tetap bertahan, bahkan tertarik kembali masuk ke pasar domestik.
Baca juga:
Pemerintah Intervensi Pasar Obligasi demi Stabilkan Rupiah, Menkeu Siapkan Rp2 Triliun per Hari“Kita kendalikan itu supaya asing tidak keluar, atau malahan masuk kalau yield-nya membaik. Sehingga rupiah akan menguat,” kata dia.
Menurutnya, langkah stabilisasi ini juga menjadi bentuk dukungan pemerintah terhadap Bank Indonesia dalam menjaga kestabilan nilai tukar sesuai mandat yang dimiliki bank sentral.
Pemerintah Klaim APBN Masih Aman
Meski nilai tukar rupiah kini berada di atas asumsi APBN 2026, pemerintah memastikan kondisi fiskal masih dalam batas aman. Purbaya menyebut simulasi APBN telah menggunakan asumsi kurs yang lebih tinggi sehingga masih mampu mengantisipasi gejolak pasar.
Sebelumnya, pada Senin (11/5/2026), pemerintah juga menegaskan masih akan mengandalkan sumber pendanaan internal seperti kas negara dan Saldo Anggaran Lebih (SAL) untuk menjaga stabilitas pasar obligasi.
Artinya, pemerintah belum sepenuhnya mengaktifkan skema BSF yang melibatkan special mission vehicle (SMV) maupun lembaga terkait lainnya.Dalam konferensi pers Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) pekan lalu, Purbaya menegaskan bahwa keberadaan BSF bertujuan menjaga pasar surat utang Indonesia agar tidak mudah diguncang oleh pergerakan investor asing dikutip Antara.
Langkah ini dinilai penting untuk mencegah gejolak lebih besar di pasar keuangan domestik sekaligus menjaga kepercayaan investor terhadap ekonomi Indonesia.
Rupiah Ditutup Melemah
Pada penutupan perdagangan Selasa (12/5/2026), nilai tukar rupiah tercatat melemah 115 poin atau sekitar 0,66 persen menjadi Rp17.529 per dolar AS. Posisi ini turun dibanding perdagangan sebelumnya yang berada di level Rp17.414 per dolar AS.
Pelemahan rupiah terjadi di tengah tekanan global dan meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap arus modal asing di negara berkembang.