Menteri Koordinator Bidang Perekonomian saat menghadiri Indonesia-Philippines High Level Business Roundtable di Cebu, Kamis (7/5/2026) (ANTARA/HO-Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian)
JAKARTA, ARAHKITA.COM — Indonesia dan Filipina resmi memperkuat kerja sama strategis di sektor mineral kritis, khususnya industri nikel. Langkah ini ditandai dengan penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) Strategic Nickel Industry Development Cooperation antara Asosiasi Penambang Nikel Indonesia (APNI) dan Philippine Nickel Industry Association (PNIA).
Penandatanganan kerja sama tersebut disaksikan langsung oleh Airlangga Hartarto bersama Menteri Perdagangan dan Industri Filipina Hon. Maria Cristina A. Roque dalam forum Indonesia-Philippines High Level Business Roundtable di Cebu, Kamis (7/5/2026).
Menurut Airlangga, kolaborasi ini bukan sekadar hubungan dagang biasa, melainkan fondasi pembentukan Indonesia-Philippines Nickel Corridor. Platform ini dirancang untuk menghubungkan kekuatan hilirisasi dan smelter Indonesia dengan pasokan bijih nikel dari Filipina.
“Ini akan menjadi poros cadangan dan produksi nikel yang tak terpisahkan bagi dunia,” ujar Airlangga dalam keterangannya di Jakarta, Jumat (8/5/2026).
Kerja sama tersebut mencakup sejumlah agenda strategis jangka panjang. Di antaranya pertukaran informasi untuk menjaga stabilitas perdagangan nikel regional dan global, pengembangan teknologi hilirisasi, hingga pemanfaatan produk sampingan industri pengolahan nikel agar memiliki nilai tambah ekonomi.
Tak hanya itu, Indonesia dan Filipina juga sepakat memperkuat pengembangan sumber daya manusia guna mendukung ekosistem industri nikel yang berkelanjutan di kawasan ASEAN.
Indonesia Butuh Pasokan Bijih Stabil
Airlangga menjelaskan, Indonesia saat ini telah memiliki ekosistem hilirisasi nikel yang sangat besar. Pada 2025, nilai ekspor produk olahan nikel Indonesia tercatat mencapai 9,73 miliar dolar AS.
Pemerintah juga memproyeksikan investasi sektor ini dapat mencapai 47,36 miliar dolar AS hingga 2030 dengan potensi penyerapan tenaga kerja sekitar 180.600 orang.
Besarnya industri smelter di Indonesia membutuhkan pasokan bijih nikel yang stabil, termasuk bijih dengan rasio silikon dan magnesium (Si:Mg) tertentu. Kebutuhan itu dinilai dapat dipenuhi melalui kerja sama pasokan bahan baku dari Filipina melalui proses blending.
Melalui kerja sama ini, Filipina tidak lagi hanya berperan sebagai eksportir bijih mentah, tetapi mulai terintegrasi ke dalam rantai nilai industri yang lebih tinggi.
Sementara bagi Indonesia, kerja sama ini memberikan kepastian keamanan pasokan bahan baku (feedstock security) untuk mendukung industri baterai kendaraan listrik dan baja tahan karat nasional.
Nikel Jadi Kunci Transisi Energi
Pemerintah menilai nikel kini menjadi salah satu mineral paling strategis dalam mendukung transisi energi dunia. Produk turunan nikel memiliki peran penting dalam pengembangan baterai kendaraan listrik (electric vehicle/EV) maupun sistem penyimpanan energi panel surya.
Karena itu, hilirisasi nikel tidak hanya berdampak pada pertumbuhan industri, tetapi juga mendukung penguatan energi bersih dan berkelanjutan.
Untuk mempercepat pengembangan industri tersebut, pemerintah terus mendorong pembangunan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) yang terintegrasi dengan rantai pasok mineral kritis. KEK diharapkan menjadi pusat investasi smelter, pengolahan bahan baku baterai, sekaligus pusat inovasi teknologi hilirisasi berstandar internasional.
Indonesia dan Filipina Kuasai Produksi Nikel Dunia
Berdasarkan data United States Geological Survey (USGS) 2026, Indonesia dan Filipina secara bersama menguasai 73,6 persen produksi nikel global pada 2025.
Indonesia menjadi produsen terbesar dengan kontribusi sekitar 66,7 persen atau setara 2,6 juta ton. Sementara Filipina menyumbang sekitar 6,9 persen atau 270 ribu ton.
Dari sisi cadangan, Indonesia juga memegang sekitar 44,5 persen cadangan nikel dunia atau mencapai 62 juta ton. Adapun Filipina memiliki sekitar 3,4 persen cadangan global atau sekitar 4,8 juta ton.
Hubungan perdagangan kedua negara pun terus menunjukkan tren positif. Sepanjang 2025, nilai ekspor Indonesia ke Filipina mencapai 10,22 miliar dolar AS atau sekitar 8,4 persen dari total impor Filipina dikutip Antara.
Capaian itu menjadikan Indonesia sebagai mitra dagang terbesar ketiga bagi Filipina setelah China dan Jepang.
Selain sektor energi, Filipina juga menjadi pasar strategis bagi berbagai produk otomotif Indonesia di kawasan Asia Tenggara.