Loading
Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka Kementerian Perindustrian (Kemenperin) Reni Yanita dalam ajang Indonesia Cosmetic Ingredients (ICI) ke-16 di Hall D dan A3 JIExpo Kemayoran, Jakarta, Rabu (6/5/2026). ANTARA/HO-PERKOSMI/aa.
JAKARTA, ARAHKITA.COM – Industri kosmetik Indonesia terus menunjukkan geliat yang menjanjikan. Tidak hanya tumbuh di pasar domestik, sektor ini juga dinilai semakin mampu bersaing di tingkat global dan menjadi salah satu penggerak pertumbuhan ekonomi nasional.
Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menilai perkembangan industri kosmetik saat ini menjadi sinyal positif bagi masa depan industri manufaktur nasional, terutama karena didukung oleh semakin banyaknya pelaku usaha di sektor tersebut.
Data Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) mencatat, saat ini terdapat sekitar 1.684 industri kosmetik di Indonesia. Menariknya, sekitar 85 persen di antaranya berasal dari sektor industri kecil dan menengah (IKM).
Baca juga:
Thrifting Resmi Dilarang: Pemerintah Ingatkan Dampak Negatif Pakaian Bekas Impor bagi Industri LokalDirektur Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka Kemenperin, Reni Yanita mengatakan pertumbuhan industri kosmetik nasional masih menunjukkan tren yang positif dalam beberapa tahun terakhir.
“Industri kosmetik Indonesia terus berkembang, dan hampir 85 persen pelaku industrinya merupakan IKM. Ini menunjukkan sektor ini memiliki potensi besar untuk terus tumbuh,” ujar Reni dalam keterangan bersama Persatuan Perusahaan Kosmetika Indonesia (PERKOSMI) di Jakarta, Jumat (8/5/2026).
Potensi pasar kosmetik Indonesia juga diperkirakan akan semakin besar. Berdasarkan proyeksi sejumlah lembaga riset, termasuk Statista, nilai pasar kosmetik Indonesia pada 2026 diperkirakan menembus lebih dari 10 miliar dolar AS atau sekitar Rp160 triliun.
Dalam lima tahun ke depan, industri ini diproyeksikan tumbuh rata-rata lebih dari 5,5 persen per tahun. Pertumbuhan tersebut didorong meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap perawatan diri, tren kecantikan, hingga berkembangnya penjualan digital.
Meski demikian, Kemenperin menilai masih ada tantangan besar yang perlu diatasi, terutama terkait ketergantungan bahan baku impor yang masih mencapai sekitar 80 persen.
Menurut Reni, penguatan ekosistem industri kosmetik nasional menjadi langkah penting agar Indonesia tidak hanya menjadi pasar, tetapi juga pemain utama dalam rantai industri kecantikan global.
Karena itu, pemerintah mendorong pengembangan bahan baku lokal melalui penguatan riset, hilirisasi hasil penelitian, hingga kolaborasi antara pemerintah, regulator, asosiasi, dan pelaku industri.
Direktur Industri Kimia Hilir dan Farmasi Kemenperin, Sopar Halomoan Sirait menambahkan Indonesia sebenarnya memiliki modal besar untuk mengurangi ketergantungan impor.
Menurutnya, kekayaan biodiversitas Indonesia dapat menjadi sumber bahan baku kosmetik alami yang bernilai tinggi.“Indonesia memiliki lebih dari 30 ribu jenis tanaman berkhasiat yang berpotensi dikembangkan menjadi bahan baku kosmetik,” kata Sopar dikutip Antara.
Sementara itu, Ketua Umum PERKOSMI, Sancoyo Antarikso menilai industri kosmetik saat ini juga sedang bergerak menuju standar baru yang lebih modern dan berkelanjutan.
Konsumen, kata dia, kini tidak hanya mencari produk yang efektif, tetapi juga aman digunakan, transparan, serta diproduksi dengan memperhatikan dampak lingkungan.
“Teknologi, keamanan produk, dan keberlanjutan kini menjadi faktor utama dalam pengembangan industri kecantikan. Karena itu, kolaborasi lintas sektor menjadi sangat penting,” ujarnya.
Dengan pertumbuhan pasar yang terus meningkat dan dukungan sumber daya alam yang melimpah, industri kosmetik Indonesia dinilai memiliki peluang besar untuk menjadi salah satu kekuatan ekonomi kreatif dan manufaktur nasional di masa depan.