Selasa, 11 Agustus 2026

Ekonom: Ekonomi Tumbuh 5,61 Persen, Bank Masih Selektif Salurkan Kredit


 Ekonom: Ekonomi Tumbuh 5,61 Persen, Bank Masih Selektif Salurkan Kredit Kepala Ekonom Permata Bank Josua Pardede menjawab pertanyaan media dalam sesi doorstop usai acara Wealth Wisdom 2025 di Jakarta, Selasa (7/10/2025). (ANTARA/Rizka Khaerunnisa)

JAKARTA, ARAHKITA.COM – Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I 2026 yang mencapai 5,61 persen memang membawa angin segar bagi dunia usaha dan perbankan. Namun, tingginya pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) ternyata belum cukup kuat untuk membuat bank langsung agresif menyalurkan kredit.

Kepala Ekonom Permata Bank Josua Pardede menilai, pertumbuhan ekonomi yang positif memang dapat meningkatkan rasa percaya diri perbankan. Meski begitu, bank tetap akan berhitung dengan hati-hati sebelum memperbesar penyaluran kredit.

Menurut Josua, sektor perbankan saat ini masih mempertimbangkan banyak faktor sebelum memberikan pinjaman, mulai dari kualitas debitur, kondisi arus kas perusahaan, prospek usaha, hingga kemampuan bayar nasabah.

“Bank tetap akan melihat kualitas debitur, arus kas, prospek sektor, dan kemampuan bayar, terutama di tengah tekanan rupiah, harga energi, dan ketidakpastian global,” ujar Josua di Jakarta, Rabu (6/5/2026).

Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada awal tahun ini ditopang oleh sejumlah faktor penting, seperti konsumsi rumah tangga, belanja pemerintah, investasi, hingga momentum musiman Ramadhan dan Idul Fitri. Aktivitas ekonomi yang tetap bergerak kuat menjadi sinyal positif bagi permintaan kredit di berbagai sektor.

Namun, Josua mengingatkan bahwa sebagian pertumbuhan tersebut bersifat musiman. Belanja pemerintah yang terealisasi lebih cepat dan konsumsi selama Lebaran dinilai belum tentu mencerminkan kondisi jangka panjang.

Karena itu, bank masih menunggu apakah momentum tersebut benar-benar berlanjut pada kuartal berikutnya, terutama dalam bentuk peningkatan pesanan usaha, produksi, dan ekspansi bisnis.

Sikap hati-hati itu juga tercermin dalam hasil Survei Perbankan Bank Indonesia. Data menunjukkan penyaluran kredit baru pada kuartal I 2026 memang masih tumbuh, tetapi lajunya melambat dibandingkan kuartal sebelumnya.

Nilai Saldo Bersih Tertimbang (SBT) penyaluran kredit baru turun menjadi 38,74 persen pada kuartal I 2026, dari sebelumnya 88,92 persen pada kuartal IV 2025.

Selain itu, standar penyaluran kredit juga cenderung lebih ketat. Indeks standar penyaluran kredit tercatat positif sebesar 0,15, yang menunjukkan bank tetap membuka keran kredit, tetapi lebih selektif dalam memilih calon debitur.

Meski demikian, prospek pada kuartal II 2026 diperkirakan membaik. SBT penyaluran kredit baru diproyeksikan melonjak menjadi 96,65 persen dan standar kredit diprediksi mulai lebih longgar.

Josua mengatakan, peluang pemulihan kredit tetap terbuka apabila pertumbuhan ekonomi mampu berlanjut secara konsisten setelah momentum Lebaran berakhir.

“Jadi, ada peluang perbaikan, tetapi tetap bergantung pada apakah pertumbuhan kuartal I benar-benar berlanjut ke pesanan baru, produksi, dan ekspansi usaha setelah efek Lebaran berakhir,” katanya dikutip Antara.

Di sisi lain, besarnya fasilitas kredit yang belum ditarik atau undisbursed loan juga menjadi perhatian. Berdasarkan data BI, nilainya masih sangat besar, mencapai Rp2.527,46 triliun atau sekitar 22,59 persen dari total plafon kredit yang tersedia.

Meski terlihat sebagai peluang besar untuk mempercepat pertumbuhan kredit, Josua menilai pencairannya tidak akan otomatis terjadi hanya karena ekonomi tumbuh tinggi.

Banyak perusahaan, kata dia, masih menahan ekspansi usaha karena berbagai pertimbangan. Mulai dari proyek yang belum berjalan, permintaan pasar yang belum stabil, harga bahan baku yang bergejolak, hingga ketidakpastian nilai tukar rupiah dan biaya energi.

Selain itu, sejumlah perusahaan juga masih menunggu proses izin dan pengadaan selesai sebelum mulai menggunakan fasilitas kredit yang sudah tersedia.

Kondisi ini menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi yang kuat memang penting, tetapi dunia usaha dan perbankan tetap membutuhkan kepastian serta stabilitas agar aktivitas kredit benar-benar bisa tumbuh lebih agresif dalam jangka panjang.

 

Editor : Farida Denura

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Ekonomi Terbaru