Loading
Ekonom Center of Reform on Economics CORE Yusuf Rendy Manilet. ANTARA/HO Core
JAKARTA, ARAHKITA.COM – Kinerja ekonomi Indonesia di awal tahun 2026 tampil cukup meyakinkan. Pertumbuhan sebesar 5,61 persen pada kuartal I dinilai menjadi sinyal positif sekaligus modal awal untuk menjaga laju ekonomi sepanjang tahun.Peneliti dari Center of Reform on Economics (CORE), Yusuf Rendy Manilet, menyebut angka ini bahkan melampaui ekspektasi banyak pihak.
“Angkanya terlihat kuat dan bisa dibilang di atas ekspektasi,” ujarnya.
Namun, di balik capaian tersebut, ada sejumlah faktor yang perlu dicermati. Yusuf menilai, sebagian dorongan pertumbuhan masih bersifat sementara dan terkonsentrasi di awal tahun.
Momentum seperti Ramadhan dan Idul Fitri yang jatuh sepenuhnya di kuartal pertama menjadi salah satu pendorong utama konsumsi masyarakat. Selain itu, belanja pemerintah yang cukup besar di awal tahun serta basis perbandingan tahun sebelumnya yang relatif rendah ikut mendongkrak angka pertumbuhan.
Artinya, meskipun terlihat tinggi, kekuatan tersebut belum tentu berlanjut secara konsisten.
“Secara kuartalan sebenarnya ekonomi sempat mengalami kontraksi. Ini menunjukkan momentumnya tidak sekuat yang terlihat dari angka tahunan,” jelasnya.
Tantangan Mulai Terlihat
Ke depan, tantangan ekonomi Indonesia diperkirakan tidak ringan. Tekanan eksternal seperti harga energi global dan pelemahan nilai tukar rupiah menjadi faktor yang perlu diwaspadai.
Jika kondisi ini berlanjut, dampaknya bisa merembet ke inflasi dan daya beli masyarakat—dua faktor penting yang selama ini menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi.
Yusuf menekankan bahwa pertumbuhan pada kuartal I sebaiknya dilihat sebagai pijakan awal, bukan jaminan tren berkelanjutan. Untuk menjaga momentum, diperlukan dorongan dari sektor yang lebih fundamental.
Peran Investasi dan Sektor Riil
Salah satu kunci keberlanjutan pertumbuhan ada pada investasi. Data menunjukkan tren investasi cukup positif, namun tetap perlu dijaga melalui percepatan proyek, kepastian regulasi, dan iklim usaha yang kondusif.
Di sisi lain, kondisi sektor industri mulai menunjukkan tekanan. Indikasi awal dari PMI manufaktur yang berada di bawah level ekspansif menjadi sinyal bahwa sektor ini belum sepenuhnya pulih, padahal perannya sangat vital dalam menciptakan lapangan kerja formal.
Selain itu, konsumsi masyarakat pada kuartal I juga banyak ditopang faktor musiman seperti THR dan belanja Lebaran. Tanpa dorongan serupa di kuartal berikutnya, daya beli berpotensi melemah.
Risiko Inflasi dan Nilai Tukar
Menurut Yusuf, kombinasi antara inflasi dan nilai tukar menjadi risiko utama yang harus dijaga. Meski inflasi saat ini masih terkendali, tekanan biaya di tingkat produsen mulai meningkat.
Biasanya, kenaikan ini akan berdampak ke harga konsumen dalam beberapa waktu ke depan.
Pelemahan rupiah juga menambah tekanan, terutama karena meningkatkan biaya impor bahan baku dan energi. Jika tidak diantisipasi, kondisi ini bisa menekan dunia usaha sekaligus daya beli masyarakat.
Kinerja Ekspor dan Data BPS
Dari sisi eksternal, kinerja ekspor mulai melambat sementara impor meningkat. Kondisi ini membuat kontribusi sektor perdagangan terhadap pertumbuhan tidak sekuat sebelumnya dan berpotensi memengaruhi stabilitas ekonomi.
Sementara itu, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia pada kuartal I 2026 mencapai Rp3.447,7 triliun (ADHK) dan Rp6.187,2 triliun (ADHB).
Kepala BPS, Amalia Adininggar Widyasanti, menyebut pertumbuhan ekonomi tersebut masih ditopang oleh aktivitas domestik yang solid.
Momentum yang Harus Dijaga
Pertumbuhan 5,61 persen memang menjadi awal yang menjanjikan bagi ekonomi Indonesia di 2026. Namun, tantangan yang ada menunjukkan bahwa keberlanjutan tidak bisa hanya mengandalkan faktor musiman.
Penguatan investasi, stabilitas harga, serta daya beli masyarakat akan menjadi kunci utama agar pertumbuhan tetap terjaga hingga akhir tahun.