Loading
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memberikan pemaparan dalam konferensi pers APBN KiTa Edisi April 2026 di kantor Kementerian Keuangan, Jakarta, Selasa (5/4/2026). ANTARA/Imamatul Silfia.
JAKARTA, ARAHKITA.COM – Kinerja Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) hingga akhir Maret 2026 menunjukkan dinamika yang cukup kontras. Di satu sisi, pendapatan negara tumbuh positif. Namun di sisi lain, lonjakan belanja membuat APBN mencatatkan defisit.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa melaporkan, pendapatan negara terkumpul sebesar Rp574,9 triliun, sementara belanja negara mencapai Rp815 triliun. Selisih keduanya membuat APBN mengalami defisit Rp240,1 triliun, setara dengan 0,93 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) per 31 Maret 2026.
“Defisit mencapai Rp240,1 triliun atau 0,93 persen dari PDB,” ujar Purbaya dalam konferensi pers APBN KiTa edisi April 2026.
Pendapatan Negara Tumbuh, Pajak Jadi Penopang Utama
Dari sisi penerimaan, kinerja APBN masih menunjukkan tren positif. Total pendapatan negara telah mencapai 18,2 persen dari target APBN, dengan pertumbuhan 10,5 persen secara tahunan (year-on-year/yoy).
Kontributor terbesar tetap berasal dari sektor perpajakan, dengan total Rp462,7 triliun atau tumbuh 14,2 persen (yoy).
Rinciannya:
Meski penerimaan dari bea dan cukai mengalami kontraksi, pemerintah optimistis kinerja kedua sektor ini akan terus membaik sepanjang tahun.
Sementara itu, Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) menyumbang Rp112,1 triliun atau sekitar 24,4 persen dari target APBN. Angka ini menunjukkan kontribusi yang tetap solid meski mengalami normalisasi dibandingkan tahun sebelumnya.
Belanja Negara Melonjak, Dorong Defisit
Di sisi belanja, pemerintah terlihat lebih agresif. Hingga kuartal I 2026, realisasi belanja negara mencapai 21,2 persen dari pagu APBN, dengan pertumbuhan signifikan 31,4 persen (yoy)—jauh lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Belanja pemerintah pusat menjadi pendorong utama dengan realisasi Rp610,3 triliun (tumbuh 47,7 persen yoy).
Detailnya:
Sementara itu, Transfer ke Daerah (TKD) tercatat Rp204,8 triliun, sedikit menurun 1,1 persen (yoy).
Menurut pemerintah, lonjakan ini mencerminkan strategi pemerataan belanja agar tidak menumpuk di akhir tahun.
Keseimbangan Primer Juga Defisit
Selain defisit APBN secara keseluruhan, keseimbangan primer—indikator kesehatan fiskal tanpa memperhitungkan pembayaran bunga utang—juga mencatatkan defisit sebesar Rp95,8 triliun.
Hal ini menunjukkan tekanan fiskal masih cukup terasa, seiring percepatan belanja negara di awal tahun dikutip Antara.
Awal Tahun Agresif, Pemerintah Jaga Momentum
Secara umum, APBN kuartal I 2026 mencerminkan strategi pemerintah yang cenderung ekspansif. Pendapatan negara tumbuh stabil, namun akselerasi belanja menjadi faktor utama pelebaran defisit.
Ke depan, tantangan terbesar adalah menjaga keseimbangan antara dorongan pertumbuhan ekonomi dan disiplin fiskal agar defisit tetap terkendali hingga akhir tahun.