Loading
Pelemahan rupiah hingga Rp17.300 per dolar AS mendorong ekonom menekankan pentingnya sinergi lintas lembaga. (Net)
BANDUNG, ARAHKITA.COM – Pelemahan nilai tukar rupiah yang menembus level Rp17.300 per dolar AS dalam beberapa hari terakhir kembali menjadi sorotan. Di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik global, stabilisasi rupiah dinilai tidak bisa hanya dibebankan pada satu institusi saja.
Ekonom sekaligus Associate Faculty LPPI, Ryan Kiryanto, menegaskan bahwa peran Bank Indonesia (BI) tetap krusial, namun tidak cukup jika bekerja sendiri tanpa dukungan otoritas lain.
Menurut Ryan, stabilitas nilai tukar harus ditopang oleh sinergi kebijakan lintas sektor. Artinya, setiap lembaga memiliki peran masing-masing yang harus dijalankan secara selaras demi menjaga keseimbangan ekonomi nasional.
“BI sudah menjalankan tugasnya. Tapi stabilisasi rupiah membutuhkan kontribusi otoritas lain agar dampaknya lebih efektif dan menyeluruh,” ujarnya dalam diskusi di Bandung.
Strategi Mikro Perlu Diperkuat
Sejumlah langkah mikro sebenarnya sudah mulai dilakukan, seperti penyesuaian ambang batas pembelian valuta asing (valas) dolar AS di sektor perbankan. Namun, Ryan menilai upaya tersebut perlu diperkuat dengan pendekatan yang lebih kolaboratif.
Salah satu langkah yang diusulkan adalah mendorong perbankan untuk mengonversi pinjaman berbasis valas ke rupiah, terutama bagi debitur dengan eksposur besar. Strategi ini diyakini dapat menekan permintaan dolar AS dan membantu meredam tekanan terhadap rupiah.
Dorong Perbaikan Struktural Ekonomi
Selain kebijakan jangka pendek, Ryan juga menekankan pentingnya reformasi struktural dalam perekonomian. Salah satunya adalah mengurangi ketergantungan pada impor melalui penggunaan bahan baku lokal, seperti di sektor industri farmasi.
Langkah ini tidak hanya memperkuat ketahanan ekonomi domestik, tetapi juga menekan kebutuhan valas yang selama ini menjadi salah satu penyebab tekanan terhadap rupiah.
Peran KSSK Harus Lebih Solid
Ryan juga menyoroti pentingnya penguatan peran Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK). Menurutnya, harmonisasi kebijakan antar lembaga dalam KSSK harus lebih ditingkatkan agar menghasilkan kebijakan yang konsisten dan ramah terhadap pasar.Koordinasi yang solid dinilai mampu meningkatkan kepercayaan investor di tengah kondisi global yang penuh ketidakpastian.
Rupiah Tertekan, Risiko Ekonomi Meningkat
Pada perdagangan akhir pekan, rupiah tercatat berada di level Rp17.229 per dolar AS. Bahkan sehari sebelumnya sempat menyentuh Rp17.304 per dolar AS, menjadi salah satu titik terlemah sepanjang sejarah.
Ryan menilai tekanan ini tidak lepas dari dinamika global, termasuk konflik geopolitik yang memicu volatilitas harga energi dan komoditas. Dampaknya pun meluas ke sektor perdagangan, keuangan, hingga investasi.
Kondisi tersebut membuat ruang bagi BI untuk menurunkan suku bunga menjadi semakin terbatas, karena harus tetap menjaga stabilitas nilai tukar dikutip Antara.
Kurs Ideal Mengacu APBN 2026
Untuk jangka menengah, Ryan memandang asumsi nilai tukar dalam APBN 2026 di kisaran Rp16.500 per dolar AS bisa menjadi titik keseimbangan yang realistis.
Level tersebut dianggap mampu menjaga kepentingan eksportir dan importir sekaligus menjadi acuan dalam mengarahkan kebijakan stabilisasi rupiah ke depan.