Loading
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia (kanan) didampingi Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya (kiri) menjawab pertanyaan pers di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Kamis (16/4/2026). ANTARA/HO-Humas Kementerian ESDM
JAKARTA, ARAHKITA.COM – Pemerintah Indonesia mulai mengambil langkah strategis untuk menjaga ketahanan energi nasional. Salah satunya dengan membuka peluang impor minyak mentah (crude oil) dari Rusia yang ditargetkan mulai masuk pada April 2026.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, mengungkapkan bahwa proses pengiriman minyak mentah dari Rusia saat ini tengah dipersiapkan dan berpeluang terealisasi dalam waktu dekat.
“Untuk crude, kemungkinan bulan ini sudah bisa dikirim ke Indonesia. Insyaallah,” ujar Bahlil di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Jumat (17/4/2026).
Pasokan LPG Masih Dalam Tahap Finalisasi
Tak hanya minyak mentah, pemerintah juga tengah menjajaki impor LPG dari Rusia. Namun hingga kini, prosesnya masih dalam tahap finalisasi, termasuk penentuan besaran porsi impor terhadap kebutuhan nasional.
Indonesia sendiri diproyeksikan membutuhkan sekitar 10 juta ton LPG pada 2026, sementara produksi dalam negeri hanya mampu memenuhi sekitar 1,6 juta ton. Artinya, sekitar 8,4 juta ton LPG harus dipenuhi melalui impor.
Selama ini, mayoritas impor LPG Indonesia berasal dari Amerika Serikat dengan porsi mencapai 70–75 persen. Sementara itu, sekitar 20 persen dipasok dari kawasan Timur Tengah, dan sisanya dari negara lain seperti Australia.
Dampak Geopolitik Global
Ketegangan geopolitik global turut memengaruhi stabilitas pasokan energi dunia. Salah satu contohnya adalah gangguan pada fasilitas energi di Timur Tengah yang berdampak langsung pada rantai pasok global.
Menurut Bahlil, kondisi tersebut membuat harga dan distribusi energi menjadi tidak stabil, sehingga Indonesia perlu mencari sumber alternatif.
“Ketika fasilitas energi di Timur Tengah terdampak konflik, tentu berpengaruh ke pasar global,” jelasnya.
Rusia Jadi Alternatif Strategis
Dalam situasi global yang tidak menentu, Rusia dipandang sebagai salah satu alternatif pemasok energi bagi Indonesia. Kerja sama ini merupakan hasil dari pertemuan bilateral antara pemerintah Indonesia dan Rusia dalam kunjungan Presiden Prabowo Subianto bersama Menteri ESDM ke Moskow pada April 2026.
Dari pertemuan tersebut, kedua negara sepakat memperkuat kerja sama di sektor energi, termasuk rencana pembelian minyak mentah oleh Indonesia.
“Dalam pertemuan dengan pemerintah Rusia, kita sudah sepakat untuk mendapatkan dukungan pasokan crude. Ini juga kita lakukan dengan negara lain seperti Amerika,” kata Bahlil dikutip Antara.
Strategi Diversifikasi Energi
Langkah ini menjadi bagian dari strategi besar pemerintah untuk melakukan diversifikasi sumber energi. Tujuannya jelas: mengurangi ketergantungan pada satu kawasan dan menjaga stabilitas pasokan dalam negeri.
Dengan membuka akses ke berbagai negara pemasok, Indonesia berharap dapat menghadapi gejolak global dengan lebih adaptif.“Diversifikasi itu penting. Dengan begitu, pasokan energi kita bisa lebih terjamin,” pungkas Bahlil.