Loading
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral ESDM Bahlil Lahadalia. (Net)
MANADO, ARAHKITA.COM – Di tengah ketegangan geopolitik global yang terus meningkat, terutama di kawasan Timur Tengah, pemerintah Indonesia memastikan satu hal penting bagi masyarakat: harga BBM dan LPG subsidi tidak akan naik.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, menegaskan komitmen tersebut saat menghadiri Musyawarah Daerah (Musda) XI Partai Golkar Sulawesi Utara di Manado, Sabtu (11/4/2026).
“Pemerintah terus berupaya agar harga BBM dan LPG subsidi tetap stabil. Kami mencari berbagai solusi agar tidak ada kenaikan,” ujar Bahlil.
Stabilitas Harga Jadi Prioritas
Langkah ini bukan tanpa alasan. Di tengah ketidakpastian global, stabilitas harga energi menjadi salah satu kunci menjaga daya beli masyarakat dan kestabilan ekonomi nasional.
Bahlil juga menyampaikan bahwa kebijakan ini sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto, yang mendorong Indonesia untuk mencapai swasembada energi dan pangan.
Kurangi Ketergantungan Impor
Untuk menjaga stabilitas tersebut, pemerintah terus berupaya mengurangi ketergantungan pada impor energi. Salah satunya dengan memaksimalkan potensi sumber daya alam dalam negeri.
“Kita harus memberdayakan sumber daya yang kita miliki agar swasembada energi bisa tercapai,” jelasnya.
Saat ini, produksi BBM dalam negeri masih berada di kisaran 600 ribu barel per hari, sementara kebutuhan nasional mencapai 1,5 hingga 1,6 juta barel per hari.
Artinya, lebih dari 59 persen kebutuhan BBM Indonesia masih bergantung pada impor, terutama dari Singapura dan Malaysia.
Stok Nasional Masih Aman
Di sisi lain, pemerintah memastikan kondisi stok energi nasional masih dalam batas aman.
Dengan kondisi ini, pemerintah optimistis kebutuhan masyarakat tetap terpenuhi meskipun situasi global sedang bergejolak.
Komitmen Jaga Ekonomi Rakyat
Kebijakan untuk tidak menaikkan harga BBM subsidi dan LPG 3 kg menjadi bagian dari upaya pemerintah menjaga stabilitas ekonomi, terutama bagi masyarakat menengah ke bawah yang sangat bergantung pada energi bersubsidi dikutip Antara.
Di tengah tekanan global, keputusan ini menjadi sinyal bahwa pemerintah berusaha hadir menjaga keseimbangan antara tantangan internasional dan kebutuhan domestik.