Loading
Pekerja melintas di depan layar yang menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Rabu (4/3/2026). IHSG ditutup turun 362,71 poin setara 4,57 persen ke level 7.577,06. ANTARA FOTO/Asprilla Dwi Adha/YU.
JAKARTA, ARAHKITA.COM – Ketidakpastian global belum benar-benar reda. Di tengah tekanan suku bunga tinggi dan konflik geopolitik yang belum usai, pergerakan dana investor kini menjadi semakin sensitif dan penuh kehati-hatian.
Analis pasar modal Reydi Octa menilai, arah pasar keuangan saat ini sangat dipengaruhi oleh dinamika global, terutama ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran yang turut memicu volatilitas harga minyak dunia.
Dalam situasi seperti ini, investor cenderung mengalihkan portofolionya ke aset yang lebih aman. Instrumen seperti emas dan obligasi kembali dilirik, sementara aset berisiko mulai ditinggalkan untuk sementara waktu.
“Arus dana saat ini sangat bergantung pada perkembangan konflik dan inflasi global,” jelas Reydi.
Arah Suku Bunga dan Harga Minyak Jadi Kunci
Menurut Reydi, suku bunga global berpotensi bertahan tinggi lebih lama atau higher for longer. Kondisi ini membuat pasar bergerak lebih hati-hati, apalagi jika dibarengi dengan harga minyak yang fluktuatif akibat eskalasi geopolitik.
Konflik antara AS dan Iran pun menjadi salah satu faktor utama yang menentukan arah pasar dalam waktu dekat.
Jika ketegangan mereda, pasar berpeluang mengalami pemulihan. Namun sebaliknya, jika konflik semakin memanas, tekanan terhadap pasar keuangan bisa kembali meningkat.
IHSG Menguat, tapi Masih Dibayangi Risiko
Di tengah ketidakpastian tersebut, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) justru mencatatkan penguatan pada perdagangan Rabu (25/3/2026).
IHSG naik 146,93 poin atau 2,07 persen ke level 7.253,77 pada pukul 15.25 WIB, sejalan dengan penguatan bursa saham di kawasan Asia.
Penguatan ini didorong oleh beberapa faktor, mulai dari efek technical rebound setelah libur panjang Lebaran, membaiknya sentimen global, hingga rotasi sektor ke energi dan barang konsumsi non primer.
Selain itu, meredanya tensi geopolitik dan penurunan harga minyak juga memberi ruang bagi pasar saham untuk bergerak naik.
Investor Mulai Masuk, Tapi Masih Selektif
Meski pasar menunjukkan tanda pemulihan, investor belum sepenuhnya agresif. Arus dana asing mulai masuk, namun masih dalam tahap terbatas.
Investor cenderung melakukan akumulasi secara bertahap sambil menunggu kepastian arah ekonomi global dan stabilitas makro.
Artinya, optimisme mulai muncul, tetapi kehati-hatian tetap menjadi kunci utama dalam mengambil keputusan investasi saat ini.
Bursa Asia Ikut Menguat
Tak hanya IHSG, sejumlah indeks saham utama di Asia juga mencatatkan kenaikan signifikan dikutip Antara.
Indeks Nikkei melonjak 2,82 persen, diikuti indeks Shanghai yang naik 1,30 persen. Sementara itu, Hang Seng menguat 0,87 persen dan Strait Times naik 0,71 persen.
Kenaikan ini menunjukkan bahwa sentimen positif mulai kembali muncul, meskipun risiko global masih belum sepenuhnya hilang.