Kamis, 13 Agustus 2026

Indef Ingatkan Risiko Ekonomi Global, Pemerintah Diminta Perkuat Strategi Fiskal


 Indef Ingatkan Risiko Ekonomi Global, Pemerintah Diminta Perkuat Strategi Fiskal Direktur Eksekutif INDEF, Esther Sri Astuti, dalam Diskusi Publik-Catatan Akhir Tahun INDEF: Liburan di Tengah Tekanan Fiskal. (Tangkapan layar Infobanksnews)

JAKARTA, ARAHKITA.COM – Tekanan ekonomi global yang semakin meningkat mendorong pemerintah Indonesia untuk bersiap dengan berbagai langkah strategis guna menjaga stabilitas ekonomi nasional.

Institute for Development of Economics and Finance (Indef) menilai kondisi global yang tidak menentu, mulai dari pelemahan nilai tukar rupiah hingga kenaikan harga minyak dunia, dapat berdampak pada kondisi fiskal Indonesia.

Direktur Eksekutif Indef Esther Sri Astuti mengatakan pelemahan rupiah terhadap dolar Amerika Serikat berpotensi mendorong defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) melewati batas aman 3 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).

Saat ini nilai tukar rupiah mendekati Rp17.000 per dolar AS, sementara asumsi nilai tukar dalam APBN berada di kisaran Rp16.500 per dolar AS.

Perbedaan tersebut berpotensi meningkatkan tekanan pada anggaran negara, terutama untuk berbagai komponen belanja yang menggunakan denominasi dolar AS.

“Jika rupiah melemah, maka beban anggaran negara juga akan meningkat karena sejumlah pengeluaran menggunakan dolar AS,” kata Esther di Jakarta, Sabtu (14/3/2026).

Selain faktor nilai tukar, kenaikan harga minyak dunia juga menjadi perhatian. Harga minyak yang saat ini menembus 100 dolar AS per barel jauh melampaui asumsi harga minyak dalam APBN yang berada di kisaran 70 dolar AS per barel.

Kondisi ini dapat mempersempit ruang fiskal pemerintah karena anggaran negara harus menanggung beban tambahan untuk subsidi maupun kebutuhan energi.

Strategi Menjaga Ketahanan Ekonomi

Meski tekanan global meningkat, Indef menilai pemerintah masih memiliki ruang untuk mengantisipasi dampaknya melalui sejumlah strategi ekonomi.

Pertama, pemerintah perlu mengarahkan belanja negara pada sektor produktif yang mampu mendorong pertumbuhan ekonomi sekaligus meningkatkan penerimaan negara.

Sebaliknya, belanja yang bersifat konsumtif dinilai perlu dikurangi agar penggunaan anggaran menjadi lebih efisien dan tepat sasaran.

Kedua, pemerintah didorong untuk memperluas sektor penghasil devisa. Langkah ini penting karena kebutuhan dolar AS diperkirakan akan semakin besar, terutama untuk pembayaran utang luar negeri serta transaksi internasional.

Ketiga, pemerintah perlu memperkuat strategi lindung nilai (hedging) terhadap nilai tukar rupiah. Dengan mekanisme ini, dampak pelemahan rupiah terhadap kewajiban pembayaran dalam mata uang asing dapat diminimalkan.

Pentingnya Ketahanan Energi Nasional

Selain strategi fiskal, Indef juga menekankan pentingnya memperkuat ketahanan energi nasional.

Salah satu langkah yang dinilai penting adalah menambah kapasitas kilang minyak di dalam negeri agar minyak mentah Indonesia dapat diolah secara optimal tanpa terlalu bergantung pada impor bahan bakar.

Di sisi lain, pemerintah juga perlu mempercepat pengembangan energi baru dan terbarukan (EBT) seperti tenaga air, surya, dan angin.

Menurut Esther, Indonesia memiliki potensi besar dalam sumber energi alternatif tersebut, sehingga investasi di sektor energi bersih perlu terus didorong.

“Dorong investasi renewable energy agar Indonesia tidak sepenuhnya tergantung pada energi fosil. Indonesia memiliki banyak potensi energi terbarukan seperti air, surya, dan angin. Berikan lebih banyak insentif,” ujarnya.

Pemerintah Waspadai Dampak Konflik Timur Tengah

Sementara itu, Presiden Prabowo Subianto sebelumnya juga mengingatkan jajarannya untuk mengantisipasi dampak konflik geopolitik di Timur Tengah terhadap perekonomian global.

Dalam Sidang Kabinet Paripurna di Istana Negara, Jakarta, Jumat (13/3/2026), Presiden menyatakan pemerintah telah menyiapkan sejumlah langkah antisipatif, termasuk kemungkinan penghematan anggaran.

Ia berharap konflik yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel tidak berkembang menjadi perang berkepanjangan.

“Kita berharap skenario terburuk tidak terjadi di Timur Tengah. Tetapi banyak analisis yang mengatakan konflik ini bisa menjadi perang yang panjang,” kata Prabowo.

Meski demikian, Presiden menilai kondisi Indonesia saat ini masih relatif aman. Namun pemerintah diminta tetap waspada dan menyiapkan berbagai langkah antisipasi.

“Walaupun merasa aman dan tidak panik, kita tetap harus mempersiapkan diri untuk kemungkinan yang paling buruk,” ujarnya.

Skenario Dampak Perang terhadap APBN

Dalam sidang kabinet tersebut, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto memaparkan sejumlah skenario dampak konflik Timur Tengah terhadap perekonomian Indonesia.

Jika konflik berlangsung selama lima bulan, harga minyak dunia diperkirakan bisa mencapai sekitar 90 dolar AS per barel.Jika berlanjut hingga enam bulan, harga minyak dapat naik hingga 97 dolar AS per barel. Bahkan jika konflik berlangsung hingga 10 bulan, harga minyak berpotensi melonjak hingga 115 dolar AS per barel.

Dalam simulasi pemerintah, kombinasi kenaikan harga minyak, pelemahan rupiah, dan kenaikan imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) dapat mendorong defisit APBN mencapai 3,18 persen dari PDB, sedikit di atas batas aman yang ditetapkan.

Karena itu, pemerintah terus memantau perkembangan global sambil menyiapkan berbagai langkah kebijakan untuk menjaga stabilitas ekonomi nasional.

Editor : Farida Denura

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Ekonomi Terbaru