AS Selidiki Praktik Dagang Indonesia, Purbaya: Ini Hal Biasa dalam Perdagangan Global


 AS Selidiki Praktik Dagang Indonesia, Purbaya: Ini Hal Biasa dalam Perdagangan Global Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menjawab pertanyaan wartawan dalam taklimat media di kantor Kementerian Keuangan Jakarta, Jumat (26/9/2025). (ANTARA/Imamatul Silfia)

JAKARTA, ARAHKITA.COM – Pemerintah Indonesia tetap optimistis terhadap prospek perdagangan nasional meskipun Amerika Serikat memulai investigasi dagang terhadap sejumlah negara mitra, termasuk Indonesia.

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menilai penyelidikan yang dilakukan oleh Perwakilan Dagang Amerika Serikat atau U.S. Trade Representative (USTR) merupakan hal yang lazim dalam dinamika perdagangan internasional. Karena itu, ia menilai langkah tersebut tidak perlu disikapi secara berlebihan.

“Saya pikir tidak apa-apa. Investigasi seperti itu hal yang biasa dalam hubungan dagang,” ujar Purbaya kepada wartawan di kantor Kementerian Keuangan, Jakarta, Jumat (13/3/2026).

Menurut Purbaya, Indonesia masih memiliki keunggulan kompetitif dalam perdagangan dengan Amerika Serikat. Salah satu faktor utama adalah harga produk Indonesia yang relatif lebih kompetitif dibandingkan produk serupa dari Amerika.

Selain itu, biaya tenaga kerja yang lebih rendah di Indonesia turut memberikan daya saing tersendiri bagi produk ekspor nasional di pasar global.

Faktor-faktor tersebut membuat neraca perdagangan Indonesia terhadap Amerika Serikat masih mencatat surplus dalam beberapa tahun terakhir.

Meski demikian, pemerintah tetap mencermati kemungkinan kebijakan lanjutan dari penyelidikan tersebut, terutama jika berujung pada penetapan tarif impor baru.

Purbaya menjelaskan, Indonesia tidak akan terlalu terdampak apabila kenaikan tarif diberlakukan secara merata kepada semua negara mitra dagang.

Namun situasinya bisa berbeda jika tarif yang dikenakan kepada Indonesia lebih tinggi dibandingkan negara lain. Selisih tarif yang cukup besar, misalnya hingga 10 persen, berpotensi memberikan tekanan terhadap kinerja ekspor nasional.

“Kalau misalnya tarifnya sama dengan negara lain, dampaknya tidak terlalu signifikan,” jelasnya dikutip dari Antara.

Meski begitu, pemerintah telah menyiapkan langkah antisipasi apabila kondisi tersebut benar-benar terjadi. Salah satu strategi yang dapat ditempuh adalah meningkatkan efisiensi di berbagai sektor ekonomi.

“Kami akan melakukan usaha efisiensi lain jika memang terpaksa. Tapi seharusnya prospek perdagangan ke depan tetap baik, meskipun ada investigasi dari USTR,” kata Purbaya.

Sebelumnya, pemerintah Amerika Serikat pada Rabu (11/3/2026) memulai penyelidikan terhadap sejumlah negara mitra dagang, termasuk Indonesia dan Jepang. Penyelidikan ini dilakukan setelah Mahkamah Agung AS mencabut kebijakan tarif impor tinggi yang sebelumnya berlaku.

Perwakilan Dagang AS Jamieson Greer menyatakan bahwa investigasi tersebut bertujuan menelusuri dugaan praktik perdagangan tidak sehat, khususnya yang berkaitan dengan kapasitas produksi berlebih dan praktik manufaktur tertentu.

Hasil penyelidikan tersebut nantinya dapat menjadi dasar bagi pemerintah AS untuk menetapkan kebijakan tarif impor baru terhadap negara-negara yang terlibat.

Meski demikian, pemerintah Indonesia menilai hubungan perdagangan kedua negara masih berada dalam jalur yang konstruktif, sehingga peluang ekspor nasional tetap terbuka di pasar Amerika.

 

Editor : Farida Denura

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Ekonomi Terbaru