Tarif Nol Persen ke AS, 53 Komoditas Pertanian Indonesia Dapat Akses Pasar Lebih Luas


 Tarif Nol Persen ke AS, 53 Komoditas Pertanian Indonesia Dapat Akses Pasar Lebih Luas Presiden RI Prabowo Subianto (kiri) dan Presiden Amerika Serikat Donald Trump (kanan) mendatangani perjanjian perdagangan timbal balik di Washington DC, Amerika Serikat, Kamis (19/2/2026). ANTARA/HO-Sekretariat Kabinet

JAKARTA, ARAHKITA.COM – Kabar baik datang bagi sektor pertanian nasional. Sebanyak 53 kelompok komoditas pertanian Indonesia kini resmi bebas tarif masuk ke pasar Amerika Serikat (AS). Kebijakan tarif 0 persen ini merupakan hasil dari diplomasi ekonomi yang dipimpin langsung Presiden Prabowo Subianto melalui kesepakatan dagang resiprokal Indonesia–Amerika Serikat.

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menegaskan, capaian tersebut bukan sekadar hasil pembicaraan teknis, melainkan buah dari negosiasi strategis yang berpihak pada kepentingan nasional, khususnya petani dan pelaku usaha pertanian.

“Pembebasan tarif ini benar-benar hasil negosiasi yang berpihak pada petani kita. Presiden menunjukkan kepemimpinan yang tegas dan diplomasi ekonomi yang kuat, sehingga produk pertanian Indonesia bisa masuk pasar global dengan akses yang lebih adil dan kompetitif,” ujar Amran di Jakarta, Sabtu (21/2/2026).

Menurutnya, akses tarif nol persen ke pasar AS—salah satu pasar terbesar dunia—akan meningkatkan daya saing produk pertanian Indonesia secara signifikan. Dari sisi harga, komoditas nasional kini memiliki ruang bersaing yang jauh lebih besar dibandingkan sebelumnya.

“Dengan tarif nol persen, produk kita menjadi lebih kompetitif. Ini peluang besar untuk meningkatkan ekspor sekaligus membuka pasar yang lebih luas bagi petani dan pelaku usaha,” lanjutnya.

Untuk memastikan peluang ini benar-benar memberi dampak nyata, Kementerian Pertanian akan fokus pada peningkatan kualitas produk, pemenuhan standar internasional, serta kesinambungan pasokan. Langkah ini penting agar permintaan ekspor dapat dipenuhi secara konsisten.

“Kesempatannya sudah ada di depan mata. Tinggal memastikan produksi cukup dan mutu terjaga, supaya manfaatnya benar-benar dirasakan petani,” kata Amran.

Secara rinci, kesepakatan dagang resiprokal Indonesia–Amerika Serikat membebaskan 173 pos tarif (HS Code) yang mencakup 53 kelompok komoditas pertanian dan turunannya. Kebijakan ini menjadi tonggak penting dalam memperkuat posisi komoditas unggulan Indonesia di tengah persaingan perdagangan global.

Perjanjian tersebut berada dalam kerangka Agreements on Reciprocal Trade (ART) yang ditandatangani Presiden Prabowo Subianto bersama Presiden Amerika Serikat Donald Trump, sebagai bagian dari penguatan kemitraan ekonomi kedua negara.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menjelaskan, dalam perjanjian bertajuk Toward a New Golden Age for the US–Indonesia Alliance, terdapat 1.819 pos tarif produk Indonesia—baik sektor pertanian maupun industri—yang dibebaskan dari bea masuk ke pasar AS.

“Dalam ART ini, ada 1.819 pos tarif produk Indonesia, baik pertanian maupun industri, seperti minyak sawit, kopi, kakao, rempah-rempah, karet, hingga komponen elektronik dan semikonduktor, yang tarifnya menjadi nol persen,” ujar Airlangga dikutip Antara.

Dari sektor pertanian, komoditas yang memperoleh fasilitas tarif 0 persen meliputi buah tropis seperti pisang, nanas, mangga, durian, dan pepaya; kopi dengan enam pos tarif; teh hijau dan teh hitam; serta berbagai rempah strategis seperti lada, pala, cengkeh, kayu manis, kapulaga, jahe, dan kunyit.

Selain itu, kakao dan turunannya, minyak sawit, palm kernel oil, serta buah dan inti kelapa sawit juga masuk dalam daftar bebas tarif. Produk olahan buah, tepung dan pati berbasis singkong serta sagu, hingga pupuk mineral berbasis kalium turut memperoleh fasilitas serupa.

Sebelumnya, dalam Business Summit di US Chamber of Commerce, Washington DC, Indonesia dan Amerika Serikat juga menandatangani sejumlah Nota Kesepahaman (MoU) untuk memperkuat implementasi kesepakatan dagang ini.

Dengan dibebaskannya ratusan pos tarif sektor pertanian menjadi 0 persen, pemerintah optimistis ekspor komoditas unggulan Indonesia akan terus meningkat, seiring naiknya daya saing harga produk nasional di pasar Amerika Serikat.

Editor : M. Khairul

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Ekonomi Terbaru