Loading
Menteri Perdagangan RI Budi Santoso dalam Resepsi Hari Nasional Jepang, Jakarta, Kamis (5/2/2026). (ANTARA/Katriana)
JAKARTA, ARAHKITA.COM – Menteri Perdagangan RI Budi Santoso menegaskan bahwa Jepang memegang peran sangat penting dalam perjalanan pembangunan ekonomi Indonesia. Bagi Indonesia, Negeri Sakura bukan sekadar mitra dagang, tetapi sahabat strategis yang ikut menopang stabilitas dan kemakmuran kawasan Indo-Pasifik.
Hal itu disampaikan Budi dalam Resepsi Hari Nasional Jepang di Jakarta, Kamis (6/2/2026), yang digelar untuk memperingati ulang tahun ke-66 Kaisar Naruhito pada 23 Februari mendatang. Menurut Mendag, hubungan kedua negara telah berkembang jauh melampaui aktivitas jual beli biasa.
“Kerja sama kita sudah naik kelas. Dari hubungan perdagangan tunggal, kini menjadi kemitraan strategis yang dibangun atas rasa saling percaya dan visi bersama untuk kawasan yang stabil dan sejahtera,” ujar Budi.
Sejak diberlakukannya Perjanjian Kemitraan Ekonomi Indonesia–Jepang (IJEPA) pada 2007, kolaborasi kedua negara semakin luas. Tidak hanya menyangkut arus barang, tetapi juga transfer teknologi, peningkatan keterampilan, serta penguatan kapasitas industri dalam negeri.
IJEPA sendiri dirancang melalui tiga jalur utama, yakni liberalisasi perdagangan, fasilitasi arus bisnis, serta program peningkatan kapasitas. Dampaknya terlihat nyata. Pada tahun lalu, total nilai perdagangan Indonesia–Jepang mencapai 32 miliar dolar AS atau sekitar Rp539,5 triliun. Jepang pun tercatat sebagai mitra dagang terbesar keempat bagi Indonesia.
Mendag berharap babak baru kemitraan ini semakin kokoh setelah penandatanganan protokol perubahan IJEPA tahun lalu. Menurutnya, perluasan akses pasar menjadi kunci agar produk Indonesia semakin kompetitif di kancah global.
“Kami sangat terbuka untuk negosiasi perdagangan yang saling menguntungkan. Agenda perdagangan internasional Indonesia harus terus bergerak maju,” tegasnya.
Saat ini Indonesia telah memiliki 20 perjanjian perdagangan aktif, 15 lainnya masih dalam proses ratifikasi, dan 11 sedang dinegosiasikan. Budi mendorong pelaku usaha memanfaatkan seluruh skema tersebut agar peluang pasar tidak terlewat.
Dari sisi investasi, Jepang tetap menjadi pemain utama. Pada 2025 saja, investasi tambahan Jepang di Indonesia mencapai 3,1 miliar dolar AS atau sekitar Rp52,3 triliun, menempatkannya sebagai investor terbesar kelima. Dana tersebut banyak mengalir ke sektor infrastruktur, manufaktur, dan otomotif.
Sejumlah proyek kolaborasi bahkan telah dirasakan langsung manfaatnya oleh masyarakat, seperti MRT Jakarta yang mengubah wajah transportasi ibu kota, Pelabuhan Patimban yang memperkuat logistik nasional, hingga pengembangan pusat kelautan dan perikanan terpadu.
Ke depan, Indonesia dan Jepang juga mulai melirik sektor masa depan seperti ekonomi digital, energi terbarukan, serta rantai pasok berkelanjutan. Salah satu inisiatif yang tengah digarap adalah Asian Zero Emission Community (AZEC).
“Melalui AZEC, kita ingin membuktikan bahwa pertumbuhan ekonomi bisa berjalan seiring dengan perlindungan lingkungan,” tutup Budi.