Loading
Pjs. Ketua Dewan Komisioner OJK Friderica Widyasari bersama Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto dan Ketua Komisi XI DPR RI Mukhamad Misbakhun menjawab pertanyaan media dalam wawancara cegat (doorstop) usai acara Pertemuan Tahunan Industri Jasa Keuangan (PTIJK) 2026 di Jakarta, Kamis malam (5/2/2026). (ANTARA/Rizka Khaerunnisa)
JAKARTA, ARAHKITA.COM – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memasang target cukup ambisius untuk tahun 2026. Lembaga pengawas sektor keuangan ini membidik penghimpunan dana di pasar modal bisa mencapai Rp250 triliun, seiring dengan langkah besar reformasi integritas pasar modal yang sedang digulirkan.
Target tersebut bukan sekadar angka, melainkan bagian dari upaya membangun pasar modal yang lebih sehat dan berkelanjutan. OJK sebelumnya telah merancang delapan langkah percepatan reformasi sebagai respons atas dinamika global, termasuk dampak kebijakan Morgan Stanley Capital International (MSCI) terhadap iklim investasi di Indonesia.
Penjabat Sementara Ketua Dewan Komisioner OJK, Friderica Widyasari, menegaskan bahwa pertumbuhan pasar modal tidak lagi cukup hanya diukur dari besaran nilai transaksi. Kualitas dan kepercayaan investor menjadi faktor yang jauh lebih penting.
“Dinamika yang terjadi menjadi momentum refleksi. Pertumbuhan tinggi saja tidak cukup, pasar modal harus tumbuh lebih berkualitas dan berintegritas,” ujarnya dalam Pertemuan Tahunan Industri Jasa Keuangan 2026 di Jakarta.
Sebagai langkah konkret, OJK akan membentuk Satuan Tugas Reformasi Integritas Pasar Modal. Tim ini bertugas memastikan delapan agenda reformasi berjalan sesuai rencana dan memberi dampak nyata bagi pelaku industri maupun investor ritel.
Tidak hanya pasar modal, OJK juga memaparkan proyeksi sektor keuangan lainnya. Kredit perbankan diperkirakan tumbuh 10–12 persen secara tahunan, ditopang dana pihak ketiga yang naik 7–9 persen. Aset asuransi diprediksi meningkat 5–7 persen, dana pensiun 10–12 persen, dan aset program penjaminan 14–16 persen.
Sektor pembiayaan juga diperkirakan bergerak positif dengan pertumbuhan piutang 6–8 persen. Di sisi digital, permintaan skor kredit berbasis innovative credit scoring ditargetkan mencapai 200 juta permintaan, sementara nilai transaksi melalui platform agregator bisa menyentuh Rp27 triliun.
Friderica menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor untuk menjaga momentum tersebut. Menurutnya, stabilitas ekonomi 2026 masih akan diuji oleh ketidakpastian geopolitik dan pergeseran arus modal global. Meski demikian, ekonomi Indonesia diproyeksikan tetap tangguh dengan pertumbuhan sekitar 5,4 persen.
Untuk menopang target itu, OJK menyiapkan tiga fokus kebijakan utama: memperkuat ketahanan sektor jasa keuangan, mengembangkan ekosistem yang lebih produktif, serta memperdalam pasar keuangan berbasis keberlanjutan.
Pendalaman pasar keuangan dinilai krusial, terutama melalui peran perbankan, asuransi, dana pensiun, serta Badan Pengelola Investasi Danantara sebagai investor institusional. Dengan fondasi tersebut, OJK optimistis sektor jasa keuangan Indonesia mampu tumbuh stabil sepanjang 2026.
“Dengan sinergi seluruh pemangku kepentingan, kami yakin kinerja sektor jasa keuangan tetap terjaga dan memberi kontribusi optimal bagi ekonomi nasional,” tutup Friderica.