BI Rilis LPI 2025, Inflasi Terkendali dan Sistem Keuangan Tetap Sehat


 BI Rilis LPI 2025, Inflasi Terkendali dan Sistem Keuangan Tetap Sehat Tangkapan virtual Gubernur BI Perry Warjiyo dalam agenda peluncuran Laporan Perekonomian Indonesia (LPI) Tahun 2025 di Jakarta, Rabu (28/1/2026). ANTARA/Muhammad Baqir Idrus Alatas.

JAKARTA, ARAHKITA.COM – Bank Indonesia (BI) resmi meluncurkan Laporan Perekonomian Indonesia (LPI) Tahun 2025, yang menegaskan ketahanan ekonomi nasional di tengah tekanan ekonomi dan geopolitik global yang masih bergejolak.

Gubernur BI Perry Warjiyo menyampaikan bahwa sepanjang 2025, perekonomian Indonesia tetap menunjukkan kinerja solid dan stabil. Kondisi ini dinilai patut disyukuri mengingat dinamika global yang penuh ketidakpastian.

“Perekonomian Indonesia pada 2025 tetap berkinerja baik dan menunjukkan ketahanan yang kuat di tengah tingginya gejolak ekonomi dan geopolitik global,” ujar Perry dalam peluncuran LPI di Jakarta, Rabu (28/1/2026).

BI mencatat, Indonesia menjadi salah satu negara dengan kinerja ekonomi terbaik di kelompok Emerging Market Economies (EMEs). Pertumbuhan ekonomi relatif tinggi, stabilitas makro terjaga, dan sistem keuangan berada dalam kondisi sehat.

Inflasi berhasil dikendalikan dalam kisaran sasaran 2,5±1 persen, sementara nilai tukar rupiah tetap stabil berkat kebijakan yang konsisten dan kredibel. Di sektor keuangan, perbankan nasional memiliki permodalan yang kuat dengan rasio kredit bermasalah yang rendah.

Tak hanya itu, digitalisasi sistem pembayaran tumbuh pesat dan berperan penting menopang ekosistem ekonomi dan keuangan digital nasional, sekaligus menjadi motor tambahan pertumbuhan ekonomi sepanjang 2025.

Sinergi Kebijakan Jadi Kunci

Perry menegaskan, capaian positif tersebut merupakan hasil kerja bersama seluruh elemen bangsa. Sinergi antara BI, pemerintah pusat dan daerah, serta otoritas terkait menjadi fondasi utama dalam menjaga stabilitas dan mendorong pertumbuhan.

Sepanjang 2025, BI memperkuat bauran kebijakan yang selaras dengan program Asta Cita pemerintah, dengan fokus pada keseimbangan antara pertumbuhan dan stabilitas.

Beberapa langkah strategis yang ditempuh BI antara lain:

  • Penurunan BI-Rate sebanyak lima kali dengan total 125 basis poin menjadi 4,75 persen pada Desember 2025—level terendah sejak 2022.
  • Stabilisasi nilai tukar rupiah untuk menjaga ketahanan eksternal di tengah tekanan global.
  • Ekspansi likuiditas moneter melalui operasi moneter pro-market guna memperkuat transmisi penurunan suku bunga dan pendalaman pasar uang serta valas.
  • Pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder sebagai bagian dari kebijakan moneter ekspansif.
  • Insentif Likuiditas Makroprudensial (KLM) untuk mendorong penyaluran kredit ke sektor-sektor prioritas.
  • Percepatan sistem pembayaran digital demi mendukung efisiensi, produktivitas, dan pertumbuhan ekonomi yang lebih inklusif.

Tiga Pelajaran Penting dari Ketahanan Ekonomi

Menurut Perry, ketahanan ekonomi Indonesia sepanjang 2025 memberikan tiga pelajaran penting. Pertama, kebijakan makroekonomi yang konsisten dan berhati-hati tetap menjadi pilar utama bagi pertumbuhan berkelanjutan.

Kedua, sinergi erat antara BI, pemerintah, dan Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) terbukti meningkatkan efektivitas dalam meredam dampak rambatan gejolak global.

Ketiga, keberhasilan kebijakan perlu ditopang kombinasi kepemimpinan profesional dan kompeten (book smart), pengalaman kuat dalam implementasi (street smart), serta integritas dan nilai moral yang kokoh (spiritual smart).

Meski optimistis terhadap prospek ekonomi ke depan, BI mengingatkan pentingnya kewaspadaan terhadap risiko global yang masih berlanjut.

“Kita harus tetap optimis, sekaligus eling lan waspodo—tetap sadar dan berhati-hati—di tengah gejolak dunia yang belum sepenuhnya mereda,” tutup Perry dikutip Antara.

Editor : Patricia Aurelia

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Ekonomi Terbaru