Loading
Petugas menghitung mata uang rupiah dan dolar AS di Ayu Masagung Money Changer
JAKARTA, ARAHKITA.COM – Nilai tukar rupiah membuka perdagangan Rabu (28/1/2026) pagi dengan pergerakan positif. Mata uang Garuda tercatat menguat 36 poin atau sekitar 0,21 persen ke level Rp16.732 per dolar AS, dibandingkan posisi sebelumnya di Rp16.768 per dolar AS.
Penguatan rupiah ini tidak lepas dari sentimen global, terutama meningkatnya kepastian arah kebijakan moneter Amerika Serikat. Pelaku pasar menilai Federal Reserve (The Fed) mulai menunjukkan sinyal kebijakan yang lebih longgar ke depan.
Analis Bank Woori Saudara, Rully Nova, mengatakan pelemahan indeks dolar menjadi faktor utama yang mendorong penguatan rupiah menjelang pertemuan The Fed.
"Rupiah hari ini berpotensi bergerak menguat di kisaran Rp16.710 hingga Rp16.770 per dolar AS. Sentimen positif datang dari melemahnya indeks dolar menjelang rapat The Fed,” ujar Rully di Jakarta, Rabu )28/1/2026) seperti yang dikutip dari Antara.
Menurutnya, meskipun The Fed diperkirakan belum mengubah suku bunga acuannya dalam waktu dekat, arah kebijakan moneter ke depan dinilai lebih akomodatif.
“Walaupun bunga acuan kemungkinan tetap, pasar melihat kebijakan The Fed ke depan akan lebih longgar,” tambahnya.
Tekanan Politik ke The Fed Pengaruhi Dolar
Mengutip laporan Anadolu, Federal Reserve diprediksi mempertahankan suku bunga di kisaran 3,5–3,75 persen pada pertemuan pertamanya di tahun 2026. Sebelumnya, Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) telah memangkas suku bunga acuan total 75 basis poin sepanjang September hingga Desember 2025.
Langkah tersebut diambil di tengah meningkatnya tekanan politik terhadap bank sentral AS. Presiden Amerika Serikat Donald Trump secara terbuka berulang kali mendesak The Fed untuk menurunkan suku bunga.
Bahkan, pemerintahan AS disebut tengah menyelidiki dugaan pelanggaran hukum yang melibatkan Ketua The Fed Jerome Powell, yang dinilai sebagai bagian dari upaya menekan bank sentral agar mempercepat pelonggaran moneter.
Ketidakpastian Tarif Dorong Pelepasan Dolar
Selain faktor kebijakan moneter, ketidakjelasan arah kebijakan tarif perdagangan AS turut memengaruhi pergerakan mata uang global, termasuk rupiah.
Ancaman tarif tinggi terhadap sejumlah negara, mulai dari rencana bea masuk 100 persen terhadap Kanada hingga kenaikan tarif otomotif terhadap Korea Selatan, membuat pelaku pasar cenderung mengurangi kepemilikan dolar AS.
"“Ketidakpastian kebijakan tarif tersebut mendorong aksi lepas dolar oleh pelaku pasar,” jelas Rully.
BI Tetap Jaga Stabilitas Rupiah
Dari dalam negeri, dukungan Bank Indonesia (BI) terhadap stabilitas nilai tukar dinilai tetap kuat. Namun, ruang pelonggaran moneter lanjutan diperkirakan akan terbatas karena fokus utama BI masih pada menjaga stabilitas rupiah dan inflasi.
Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo optimistis rupiah memiliki fundamental yang solid untuk menguat ke depan.
“Nilai tukar rupiah didukung oleh inflasi yang rendah, pertumbuhan ekonomi yang membaik, imbal hasil investasi yang menarik, serta komitmen kuat Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas,” kata Perry.
Ia menjelaskan, tekanan terhadap rupiah saat ini lebih bersifat jangka pendek, salah satunya berasal dari kenaikan harga pangan akibat cuaca ekstrem dan gangguan distribusi.
"Inflasi volatile food dipengaruhi faktor cuaca dan bencana alam, sehingga berdampak sementara terhadap nilai tukar,” ujarnya.
Intervensi BI Terus Dilakukan
Untuk menjaga stabilitas nilai tukar, inflasi, dan pertumbuhan ekonomi nasional, Bank Indonesia telah memangkas BI-Rate sebanyak lima kali sejak September 2024 hingga berada di level 4,75 persen, sembari tetap membuka peluang penurunan suku bunga lanjutan.
Selain kebijakan suku bunga, BI juga aktif melakukan intervensi di berbagai pasar.
“Kami terus melakukan intervensi di pasar NDF luar negeri, termasuk di Asia, Eropa, dan Amerika, serta di pasar spot, tunai, dan DNDF domestik,” tegas Perry.
Dengan kombinasi sentimen global yang lebih kondusif dan kebijakan domestik yang terjaga, rupiah dinilai masih memiliki peluang untuk bergerak stabil hingga menguat dalam jangka pendek.