Selasa, 27 Januari 2026

Harga Emas Diramal ‘Gila-gilaan‘ di 2030: Bisa Rp168 Juta per Troy Ons


 Harga Emas Diramal ‘Gila-gilaan‘ di 2030: Bisa Rp168 Juta per Troy Ons Ilustrasi Emas Batangan (Entertainment Heat)

JAKARTA, ARAHKITA.COM – Tren kenaikan harga emas global diprediksi belum akan berhenti dalam waktu dekat. Bahkan, Ekonom Keuangan sekaligus Praktisi Pasar Modal Dr Hans Kwee memperkirakan harga emas dunia berpotensi melesat hingga US$10.000 per troy ons pada 2030.

Jika mengacu kurs Jisdor Rp16.838 per dolar AS, nilai itu setara sekitar Rp168,38 juta per troy ons.

“Emas itu 2030 diperkirakan masuk ke 10.000 dolar AS per troy ons. Tapi ini masih empat tahun lagi. Tahun ini saja targetnya 5.400 dolar AS per troy ons,” kata Hans Kwee dalam acara edukasi wartawan bertajuk “Arah IHSG di Tengah Tensi Geopolitik dan Potensi Bubble AI”, di Jakarta, Jumat.

Kenapa Emas Bisa Melonjak Setinggi Itu?

Hans menjelaskan, ada beberapa sentimen besar yang mendorong emas jadi “primadona” baru. Pertama adalah pelemahan ekonomi global, lalu kebijakan moneter yang cenderung lebih longgar, ditambah risiko geopolitik yang makin tinggi.

Tak berhenti di situ, ia menyoroti faktor lain yang memperkuat tren emas, seperti:

  • aksi beli emas besar-besaran oleh bank sentral dunia,
  • meningkatnya ekspektasi pelemahan dolar AS, serta
  • permintaan yang kian agresif dari sektor swasta.

“Jadi orang rame-rame beli emas,” ujarnya.

Dunia Mulai Mengurangi Ketergantungan pada Dolar AS

Menurut Hans, ketegangan geopolitik membuat investor makin berhitung untuk menyimpan aset dalam bentuk dolar AS. Sebagian mulai mengalihkan dana ke emas yang dinilai lebih aman.

Ia mencontohkan dampak perang Rusia–Ukraina yang memicu kesadaran baru terhadap risiko geopolitik dalam sistem keuangan global.

“Pasca perang Rusia dan Ukraina, dolar Rusia dibekukan. Dunia menyadari kita nggak bisa megang dolar lagi,” katanya.

Selain itu, kondisi perdagangan global juga disebut ikut memanaskan situasi. Hans menilai perang dagang yang muncul setelah Donald Trump kembali memimpin Amerika Serikat turut memberi tekanan psikologis bagi investor, sehingga sebagian semakin menjauh dari dolar dan mendekat ke emas.

Kondisi ini bukan hanya terjadi di investor ritel dan swasta. Sejumlah bank sentral dunia juga dinilai makin aktif menambah cadangan emas.

“Jadi kenaikan emas itu bukan cuma karena geopolitik, tetapi karena dunia sedang berubah, meninggalkan dolar (AS) dengan memegang emas,” tegas Hans dikutip Antara.

Proyeksi lembaga keuangan: emas masih bisa naik 20% tahun ini

Hans juga menyebut proyeksi sejumlah lembaga keuangan global seperti Bank of America, Goldman Sachs, dan Deutsche Bank yang memperkirakan harga emas masih bisa tumbuh sekitar 20 persen tahun ini.

Di pasar global, harga emas bahkan sempat mencetak rekor tertinggi. Tercatat, emas dunia naik hingga US$4.957,10 per troy ons pada Jumat pukul 05.36 GMT, dan sempat menyentuh level intraday US$4.966,59 per troy ons.

Harga Emas Antam Ikut Meroket

Dari dalam negeri, tren kenaikan emas global ikut terasa di pasar domestik. Berdasarkan pantauan dari laman Logam Mulia, harga emas batangan Antam melompat Rp90.000, dari Rp2.790.000 menjadi Rp2.880.000 per gram.

Sementara itu, harga buyback (pembelian kembali) juga naik tajam ke Rp2.715.000 per gram, dari sebelumnya Rp2.635.000 per gram.

 

Editor : Farida Denura

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Ekonomi Terbaru