Loading
Karyawan menunjukkan uang di Mandiri KC Kendari Mesjid Agung, Sulawesi Tenggara. ANTARA FOTO/Andry Denisah/YU
JAKARTA, ARAHKITA.COM – Menutup tahun 2025 dengan catatan positif, Bank Indonesia (BI) melaporkan bahwa likuiditas perekonomian Indonesia, atau jumlah uang beredar dalam arti luas (M2), mengalami pertumbuhan yang signifikan. Hingga Desember 2025, total uang yang beredar di masyarakat mencapai angka fantastis, yakni Rp10.133,1 triliun.
Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso, mengungkapkan bahwa pertumbuhan ini mencapai 9,6 persen (year on year/yoy). Angka tersebut tercatat lebih tinggi dibandingkan capaian bulan November 2025 yang berada di level 8,3 persen (yoy).
Apa yang Mendorong Kenaikan Ini?
Pesatnya peredaran uang di akhir tahun ini bukan tanpa alasan. Setidaknya ada dua motor utama yang menjadi penggerak tren positif tersebut:
Geliat Belanja Pemerintah: Tagihan bersih kepada Pemerintah Pusat melonjak 13,6 persen (yoy). Hal ini mencerminkan aktivitas belanja dan distribusi anggaran negara yang sangat aktif di penghujung tahun.
Penyaluran Kredit yang Deras: Sektor perbankan kian agresif menyalurkan pinjaman. Penyaluran kredit pada Desember 2025 tumbuh 9,3 persen (yoy), meningkat tajam dari bulan sebelumnya yang hanya sebesar 7,9 persen dikutip Antara.
Di sisi lain, Bank Indonesia juga mencatat kenaikan pada uang primer (M0) adjusted yang meroket 16,8 persen (yoy) menjadi Rp2.367,8 triliun. Lonjakan ini dipengaruhi oleh tingginya peredaran uang kartal (uang tunai) di masyarakat serta pertumbuhan saldo giro bank umum di Bank Indonesia.
Meski aktiva luar negeri bersih sedikit melandai di angka 8,9 persen, secara keseluruhan potret keuangan nasional menunjukkan likuiditas yang sangat memadai. Kondisi ini menjadi sinyal kuat untuk mendukung momentum pertumbuhan ekonomi Indonesia memasuki awal tahun 2026.