Kamis, 22 Januari 2026

Bitcoin Tembus ke Bawah US$90.000, Pasar Risk-Off karena Geopolitik Memanas


 Bitcoin Tembus ke Bawah US$90.000, Pasar Risk-Off karena Geopolitik Memanas Ilustrasi - Bitcoin. (Net)

JAKARTA, ARAHKITA.COM – Harga Bitcoin (BTC) kembali melemah. Pada perdagangan Rabu (21/1/2026), aset kripto terbesar di dunia itu turun dan menembus level psikologis US$90.000, seiring meningkatnya tekanan di pasar global.

Koreksi ini terjadi bukan tanpa sebab. Pasar sedang dibayangi sentimen “risk-off”—momen ketika investor cenderung menarik dana dari aset berisiko dan memilih instrumen yang dianggap lebih aman. Pemicu utamanya datang dari memanasnya tensi geopolitik dan kekhawatiran terhadap kondisi ekonomi global.

Salah satu sorotan adalah eskalasi perang tarif Amerika Serikat terhadap Eropa, yang ikut dikaitkan dengan tekanan Washington kepada Denmark untuk mempertimbangkan ulang kendalinya atas Greenland. Di sisi lain, pasar juga dibuat gelisah oleh gejolak obligasi Jepang, yang memicu kekhawatiran lebih luas soal stabilitas pasar keuangan.

Vice President Indodax, Antony Kusuma, menilai pergerakan ini memperlihatkan bahwa kripto kini semakin sulit dipisahkan dari dinamika global.

“Dalam situasi seperti ini, Bitcoin tidak berdiri sendiri. Saat pasar global masuk fase risk-off akibat ketegangan geopolitik, kebijakan perdagangan, dan tekanan di pasar obligasi, aset berisiko cenderung terkoreksi bersamaan karena aksi jual,” ujarnya.

Menurut Antony, kondisi penuh ketidakpastian seperti ini kerap memicu kepanikan jangka pendek. Banyak investor global memilih menyeimbangkan ulang portofolio, sehingga tekanan jual meningkat—termasuk di pasar kripto.

Dampaknya terlihat jelas: volatilitas meninggi, volume perdagangan ikut melonjak, dan tekanan makin terasa di pasar derivatif kripto.

Meski terlihat “menyeramkan” bagi sebagian investor, Antony menegaskan bahwa penurunan kali ini lebih dipicu faktor eksternal, bukan karena fundamental Bitcoin berubah.

Dalam konteks sekarang, kata dia, pergerakan harga kripto sangat dipengaruhi oleh arah suku bunga, likuiditas global, serta dinamika geopolitik yang saling memantik ketidakpastian.

Ia juga mengingatkan, sejarah pasar kripto menunjukkan koreksi tajam sering datang beriringan dengan guncangan makro—apalagi ketika Bitcoin semakin diperlakukan sebagai bagian dari aset global oleh investor institusional.

“Partisipasi institusi membuat Bitcoin lebih responsif terhadap isu global. Ini konsekuensi dari maturasi pasar, ketika kripto semakin terintegrasi dengan sistem keuangan global,” ujarnya dikutip Antara.

Namun begitu, Antony menekankan bahwa volatilitas memang karakter bawaan kripto. Karena itu investor perlu membaca pergerakan harga dengan perspektif lebih luas, bukan sekadar reaksi atas fluktuasi harian.

“Periode seperti ini menegaskan pentingnya perspektif jangka panjang dan pemahaman risiko. Ketahanan investor diuji justru saat ketidakpastian meningkat,” katanya.

Ia juga mengingatkan agar investor tidak terpancing emosi, termasuk perilaku FOMO yang sering muncul saat harga bergerak liar. Dalam kondisi pasar seperti sekarang, disiplin DYOR (do your own research) dinilai semakin penting agar keputusan investasi tidak diambil berdasarkan kepanikan sesaat.

Editor : M. Khairul

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Ekonomi Terbaru