Bank Indonesia Tahan Suku Bunga 4,75 Persen, Ini Alasannya


 Bank Indonesia Tahan Suku Bunga 4,75 Persen, Ini Alasannya Tangkapan layar Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo memaparkan materi konferensi pers hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI Januari 2026 secara daring di Jakarta, Rabu (21/1/2026). (ANTARA/Rizka Khaerunnisa)

JAKARTA, ARAHKITA.COM — Bank Indonesia (BI) kembali menegaskan arah kebijakannya di awal tahun. Dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) Januari 2026 yang berlangsung pada Selasa (20/1) hingga Rabu (21/1/2026), BI memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan atau BI-Rate di level 4,75 persen.

Selain BI-Rate, BI juga menahan dua suku bunga lainnya. Deposit facility tetap berada di 3,75 persen, sementara lending facility dipertahankan di 5,5 persen.Gubernur BI Perry Warjiyo menjelaskan, keputusan tersebut sejalan dengan fokus utama kebijakan saat ini, yaitu menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. Langkah ini dinilai penting, terutama ketika kondisi global sedang dibayangi ketidakpastian yang semakin meningkat.

“Keputusan ini konsisten dengan fokus kebijakan saat ini yaitu pada upaya stabilisasi nilai tukar rupiah dari dampak meningkatnya ketidakpastian global, guna mendukung capaian sasaran inflasi 2026–2027 dan mendorong pertumbuhan ekonomi,” ujar Perry dalam konferensi pers hasil RDG BI secara daring, Rabu (21/1/2026).

Ke depan, BI juga akan terus memperkuat efektivitas kebijakan yang sudah berjalan, termasuk memastikan transmisi pelonggaran kebijakan moneter terasa lebih nyata di sektor riil. BI juga menegaskan komitmennya dalam menjaga kesinambungan kebijakan makroprudensial agar perbankan tetap kuat, likuiditas tetap memadai, dan kredit bisa terus mengalir ke perekonomian.

Meski saat ini suku bunga ditahan, bank sentral masih membuka ruang evaluasi. BI akan tetap mencermati peluang penurunan BI-Rate lebih lanjut, selama inflasi 2026–2027 diperkirakan tetap terkendali dalam target 2,5 persen ± 1 persen dan dapat mendukung laju pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi.

Editor : Farida Denura

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Ekonomi Terbaru