Selasa, 20 Januari 2026

Dolar AS Melemah karena Obligasi Dijual, Rupiah Berpotensi Menguat


 Dolar AS Melemah karena Obligasi Dijual, Rupiah Berpotensi Menguat Petugas menghitung uang pecahan dolar AS dan rupiah di gerai penukaran mata uang asing VIP (Valuta Inti Prima) Money Changer, Jakarta, Jumat (1/3/2024). ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja/rwa/pri.

JAKARTA, ARAHKITA.COM – Nilai tukar rupiah membuka perdagangan Selasa (20/1/2026) pagi dengan pelemahan tipis. Rupiah turun 30 poin atau 0,18% ke level Rp16.985 per dolar AS, dibanding posisi sebelumnya di Rp16.955 per dolar AS.

Meski demikian, peluang rupiah untuk kembali menguat masih terbuka. Analis mata uang Doo Financial Futures, Lukman Leong, menilai tekanan terhadap dolar AS meningkat setelah investor melakukan aksi jual obligasi pemerintah Amerika Serikat.

Menurut Lukman, aksi jual itu membuat dolar kembali kehilangan tenaga, sehingga bisa menjadi “angin segar” bagi rupiah.

“Rupiah berpotensi menguat terhadap dolar AS yang kembali tertekan oleh aksi jual obligasi AS oleh investor,” ujar Lukman kepada Antara di Jakarta, Selasa (20/1/2026).

Aksi jual obligasi tersebut ikut mendorong imbal hasil (yield) obligasi AS naik tajam, dari sekitar 4,13% menjadi 4,25%. Kenaikan yield ini sering memicu pergerakan besar di pasar global karena investor menilai kembali strategi penempatan dana, termasuk di pasar mata uang.

Namun, penguatan rupiah diperkirakan tidak akan melesat terlalu jauh. Pasalnya, pelaku pasar masih menahan langkah jelang Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia yang dijadwalkan berlangsung Rabu (21/1/2026). Sikap “wait and see” ini membuat pergerakan rupiah cenderung terbatas sambil menunggu sinyal kebijakan BI.

Lukman juga menyinggung isu internal Bank Indonesia, yaitu pengunduran diri Juda Agung dari jabatan Deputi Gubernur BI. Walau dinilai bukan kabar yang sepenuhnya positif, ia memperkirakan dampaknya ke rupiah tidak akan terlalu besar.

“Perihal pengunduran diri Deputi BI memang bukan hal yang positif, namun apapun alasannya, dampaknya tidak akan besar dibandingkan hal-hal yang dikhawatirkan saat ini seperti defisit anggaran dan prospek pemangkasan suku bunga BI,” jelasnya dikutip Antara.

Dengan berbagai faktor tersebut, rupiah diperkirakan bergerak dalam rentang Rp16.700 hingga Rp17.000 per dolar AS dalam waktu dekat.

Editor : Patricia Aurelia

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Ekonomi Terbaru