Loading
World Economy Forum 2026. (Invest Qatar)
DAVOS, SWISS, ARAHKITA.COM – Dunia sedang tidak baik-baik saja. Forum Ekonomi Dunia (WEF) baru saja merilis Laporan Risiko Global 2026 pada Rabu (14/1/2026), dan hasilnya cukup mengkhawatirkan. Alih-alih melihat masa tenang, mayoritas pemimpin bisnis dunia justru merasa kita sedang berada di ambang "kehancuran."
Dalam pertemuan tahunan di Davos, Swiss, para petinggi global sepakat bahwa lanskap risiko telah bergeser drastis. Jika tahun-tahun sebelumnya isu lingkungan mendominasi, kini konfrontasi geoekonomi dan dampak negatif AI melesat ke posisi teratas.
Krisis Berganda: Bukan Sekadar Satu Masalah
CEO Marsh, John Doyle, menyebut situasi saat ini sebagai "krisis berganda" (polycrisis). Kita tidak hanya menghadapi satu masalah besar, tapi gempuran dari berbagai arah: perang dagang, konflik bersenjata, hingga revolusi teknologi yang tak terkendali.
"Hanya 1% pemimpin yang memperkirakan masa tenang dalam dua tahun ke depan," tulis laporan tersebut. Sisanya? Bersiap menghadapi badai ekonomi akibat kenaikan inflasi dan beban utang negara yang kian menggunung.
Lompatan Risiko AI yang Mengejutkan
Salah satu poin paling mencolok adalah ketakutan terhadap Kecerdasan Buatan (AI). Bayangkan, tahun lalu risiko AI masih berada di urutan ke-30. Kini, AI melonjak ke peringkat 5 dalam risiko jangka panjang.
WEF memperingatkan bahwa konvergensi antara machine learning dan komputasi kuantum bisa menciptakan situasi di mana manusia kehilangan kendali. Dampaknya nyata: mulai dari hilangnya lapangan kerja secara masal hingga ketimpangan sosial yang makin lebar dikutip dari cnbc.com.
Daftar Risiko Utama 2026 (Jangka Pendek):
Iklim yang Terabaikan?
Meski risiko lingkungan sedikit "tergeser" oleh isu ekonomi dan teknologi dalam jangka pendek, Direktur Pelaksana WEF, Saadia Zahidi, mengingatkan bahwa ancaman iklim tetaplah risiko eksistensial. Kerugian akibat bencana alam diprediksi tetap menembus angka ratusan miliar dolar per tahun.
Laporan ini ditutup dengan satu pesan penting: kolaborasi. Di era persaingan ketat ini, kemampuan dunia untuk bekerja sama akan menjadi penentu apakah kita bisa selamat dari krisis global berikutnya atau justru tenggelam di dalamnya.