Kamis, 22 Januari 2026

​Pemerintah Kaji Ulang Insentif Otomotif 2026, Saatnya Fokus ke Mobil Nasional?


 ​Pemerintah Kaji Ulang Insentif Otomotif 2026, Saatnya Fokus ke Mobil Nasional? Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto dalam Business Outlook 2026 Indonesian Business Council (IBC) di Jakarta, Rabu (14/1/2026) (ANTARA/Bayu Saputra)

​JAKARTA,ARAHKITA.COM – Bagi Anda yang menanti kepastian insentif kendaraan tahun depan, sepertinya pemerintah tengah menyiapkan strategi baru. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, memberi sinyal bahwa kebijakan insentif otomotif untuk tahun 2026 kini sedang masuk meja pengkajian ulang secara menyeluruh.​

Langkah evaluasi ini bukan tanpa alasan. Dalam dua tahun terakhir, pemerintah tercatat sudah menggelontorkan dana fiskal yang fantastis, yakni mencapai Rp7 triliun untuk menyokong sektor ini. ​

"Otomotif silakan direview. Kita sudah berikan insentif besar selama dua tahun terakhir. Sekarang arahnya adalah melihat investasi di sektor EV (kendaraan listrik) yang mulai menunjukkan peningkatan signifikan," ungkap Airlangga dalam acara IBC Business Outlook 2026 di Jakarta (15/1/2026).

​Geliat Investasi Global di Tanah Air

Keseriusan raksasa otomotif dunia menjadi alasan kuat mengapa kebijakan lama perlu disegarkan. Nama-nama besar seperti BYD dan VinFast kini resmi menyusul jejak Hyundai untuk menanamkan modal di Indonesia. Pertumbuhan ekosistem kendaraan listrik yang makin mandiri membuat pemerintah merasa perlu mengalihkan fokus.

​Alih-alih sekadar memberikan subsidi "mentah", pemerintah ingin memastikan kebijakan ke depan benar-benar memperkuat fondasi industri dalam negeri. Target besarnya? Tentu saja pengembangan Mobil Nasional.

​Evaluasi Total dari LCGC hingga Hybrid

Tak hanya menyasar mobil listrik murni, Airlangga menegaskan bahwa pengkajian ini akan bersifat substansial dan lintas segmen. Mulai dari segmen ramah kantong seperti Low Cost Green Car (LCGC), kendaraan Hybrid, hingga Plug-in Hybrid semuanya akan ditinjau kembali.

​"Kajiannya harus menyeluruh, mulai dari evaluasi LCGC sampai ke EV dan teknologi hibrida lainnya," tutup Airlangga dikutip Antara.

​Langkah ini diharapkan mampu menciptakan ekosistem otomotif yang tidak hanya bergantung pada insentif, tapi juga kompetitif di kancah global melalui produk lokal yang kuat.

Editor : Farida Denura

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Ekonomi Terbaru