Loading
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto dalam Business Outlook 2026 Indonesian Business Council (IBC) di Jakarta, Rabu ( 14/1/2026) (ANTARA/Bayu Saputra)
JAKARTA, ARAHKITA.COM — Pemerintah bersiap membentuk BUMN baru khusus sektor tekstil. Rencana ini disampaikan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto, setelah adanya arahan Presiden Prabowo Subianto dalam rapat yang digelar di Hambalang, Bogor, Jawa Barat, pada 11 Januari 2026.
Menurut Airlangga, pembentukan BUMN tekstil ini dilakukan karena industri tekstil dan garmen dinilai akan menjadi “pagar depan” dalam menghadapi berbagai risiko global, termasuk tekanan kebijakan dagang dari Amerika Serikat.
“Akan membentuk BUMN baru khusus tekstil. Tidak menghidupkan (perusahaan tekstil lama),” kata Airlangga dalam acara Indonesian Business Council (IBC) Business Outlook 2026 di Jakarta, Rabu (14/1/2026).
Fokusnya: modernisasi, teknologi, sampai ekspor
Airlangga menjelaskan, kajian awal sudah selesai. Tahap berikutnya, pemerintah menyiapkan peta jalan (roadmap) untuk memperkuat industri tekstil dan produk tekstil (TPT) secara menyeluruh—dari hulu sampai hilir.
Untuk mendukung kebijakan tersebut, pemerintah menyiapkan pendanaan sebesar 6 miliar dolar AS melalui BPI Danantara. Dana ini akan diarahkan untuk berbagai kebutuhan strategis, mulai dari pembelian barang modal, penerapan teknologi baru, hingga mendorong kenaikan ekspor.
“Sudah dibuat roadmap bagaimana meningkatkan ekspor kita yang dari 4 miliar (dolar AS) bisa naik ke 40 miliar (dolar AS) dalam 10 tahun,” ujar Airlangga.
Artinya, pemerintah membidik lonjakan ekspor TPT hingga 10 kali lipat dalam satu dekade ke depan. Namun, target tersebut tidak bisa dicapai hanya dengan meningkatkan produksi. Indonesia juga harus memperkuat kualitas dan kedalaman industri agar tidak terus-terusan bergantung pada rantai pasok dari luar.
PR besar: Benang, Kain, Dyeing hingga Finishing
Airlangga mengakui, industri tekstil nasional masih punya sejumlah titik lemah, terutama pada bagian rantai nilai (value chain). Ia menyebut proses penting seperti produksi benang, kain, dyeing, printing, dan finishing masih perlu ditingkatkan.
Karena itu, BUMN tekstil baru diharapkan dapat menjadi motor penggerak modernisasi, termasuk membangun ekosistem industri yang lebih solid dan efisien dari hulu ke hilir.
Pemerintah juga incar elektronik, terutama semikonduktor
Tidak hanya tekstil, pemerintah juga mengincar penguatan industri elektronik, khususnya pada sektor semikonduktor yang dinilai masih menjadi “celah besar” dalam struktur industri nasional.
Airlangga menyebut investasi awal di sektor semikonduktor diperkirakan membutuhkan 120–250 juta dolar AS, dan berpotensi meningkat hingga 1 miliar dolar AS.
“Kita ingin menghidupkan kembali sektor semikonduktor… ini menjadi prioritas agar kita bisa defensif terhadap perang tarif yang ada sekarang,” ucapnya dikutip Antara.
Dengan penguatan tekstil dan semikonduktor, pemerintah ingin Indonesia punya fondasi industri yang lebih tahan banting, terutama di tengah situasi persaingan dagang global yang makin keras.