Loading
Ketua Federal Reserve (The Fed), Jerome Powell. (The Wall Street Journal)
JAKARTA, ARAHKITA.COM - Dunia finansial Amerika Serikat mendadak guncang. Ketua Federal Reserve (The Fed), Jerome Powell, baru saja menjatuhkan "bom" pernyataan pada Minggu (13/1/2026). Ia secara terbuka mengecam penyelidikan kriminal yang dibuka oleh Departemen Kehakiman AS (DoJ) terhadap dirinya.
Langkah DoJ ini dianggap sangat tidak lazim. Powell mengungkapkan bahwa dirinya telah menerima surat panggilan terkait kesaksiannya di hadapan Senat mengenai proyek renovasi gedung-gedung Federal Reserve. Namun, di balik urusan semen dan batu bata itu, Powell mencium aroma politik yang menyengat.
Intimidasi Berkedok Hukum?
Dikutip dari laporan bbc.com, Powell meyakini bahwa penyelidikan ini adalah bentuk "balas dendam" Donald Trump. Bukan rahasia lagi jika Trump kerap meradang gara-gara The Fed enggan memangkas suku bunga sesuai keinginannya.
"Ini bukan sekadar soal renovasi. Ini tentang apakah The Fed bisa tetap independen menetapkan kebijakan berdasarkan data ekonomi, atau justru harus tunduk pada tekanan dan intimidasi politik," tegas Powell dalam pernyataan resminya.
Meski Trump mengaku "tidak tahu-menahu" soal penyelidikan tersebut, ia tetap melontarkan sindiran tajam. Lewat wawancara dengan NBC News, Trump menyebut Powell "tidak terlalu bagus" dalam mengelola bank sentral maupun proyek bangunan.
Janet Yellen: "Ini Jalan Menuju Republik Pisang"
Suara pembelaan datang dari mantan Ketua Fed, Janet Yellen. Ia menyebut penyelidikan ini "sangat mengerikan" dan murni upaya untuk menyingkirkan Powell dari kursinya. "Peluang Powell berbohong itu nol. Mereka hanya menginginkan kursinya," ujar Yellen kepada CNBC. Ia memperingatkan bahwa intervensi presiden terhadap bank sentral adalah langkah berbahaya yang biasa terjadi di "Republik Pisang"—sebutan untuk negara dengan sistem politik tidak stabil yang korup.
Gedung Tua yang Jadi Masalah Besar
Akar formal penyelidikan ini adalah renovasi gedung Eccles dan Constitution Avenue yang dibangun tahun 1930-an. Proyek ini bertujuan memodernisasi fasilitas kesehatan dan keamanan, termasuk pembersihan asbes.
Namun, angka menjadi pemicu keributan. Trump menuding biaya proyek membengkak hingga $3,1 miliar, sementara pihak Fed bersikeras angkanya berada di kisaran $2,5 miliar. Selisih inilah yang kini dijadikan pintu masuk oleh DoJ untuk menyeret Powell ke ranah hukum.
Dampak ke Pasar: Emas Meroket, Saham Wait and See
Ketidakpastian ini langsung membuat investor lari ke aset aman (safe haven). Harga emas mencetak rekor tertinggi sepanjang masa di angka $4.624,53 per ons, naik 2,5%. Perak pun tak mau kalah dengan lonjakan 7,3%.
Di sisi lain, bursa saham Wall Street seperti S&P 500 dan Nasdaq cenderung stagnan. Para pelaku pasar tampaknya masih menanti apakah drama hukum ini akan benar-benar mendepak Powell sebelum masa jabatannya berakhir Mei mendatang.
Nasib Independensi Fed
Kini, bola panas ada di tangan Senat. Senator Thom Tillis menyatakan akan memblokir setiap calon pengganti Powell yang diajukan Trump sampai masalah hukum ini tuntas. Sementara itu, Senator Elizabeth Warren menuduh Trump sedang mencoba memasang "boneka" untuk menguasai bank sentral sepenuhnya.
Jika penyelidikan ini terus berlanjut, sejarah akan mencatatnya sebagai salah satu intervensi politik paling frontal terhadap institusi moneter paling berkuasa di dunia.