Subsidi Negara Tembus Rp281,6 Triliun di 2025, Energi dan Pupuk Dominan


 Subsidi Negara Tembus Rp281,6 Triliun di 2025, Energi dan Pupuk Dominan Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa (tengah) didampingi Wamen Keuangan Suahasil Nazara (kedua kiri), Thomas Djiwandono (kedua kanan), Dirjen Anggaran Luky Alfirman (kiri) dan Dirjen Strategi Ekonomi dan Fiskal Kemenkeu Febrio Kacaribu (kanan) memberikan keterangan pada konferensi pers APBN KiTa edisi Januari 2026 di Jakarta, Kamis (8/1/2026). ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja/nz (ANTARA FOTO/MUHAMMAD ADIMAJA)

JAKARTA, ARAHKITA.COM – Pemerintah mengalokasikan dan merealisasikan subsidi sebesar Rp281,6 triliun sepanjang tahun 2025, mencakup subsidi energi maupun nonenergi. Angka ini menunjukkan meningkatnya peran APBN dalam menjaga daya beli masyarakat di tengah dinamika ekonomi global.

Wakil Menteri Keuangan Suahasil Nazara menyampaikan bahwa seluruh volume barang bersubsidi pada 2025 mengalami kenaikan dibandingkan tahun sebelumnya. Hal tersebut disampaikan dalam konferensi pers APBN KiTa edisi Januari 2026 di Jakarta.

Pada sektor energi, realisasi subsidi bahan bakar minyak (BBM) mencapai 18,98 juta kiloliter, atau tumbuh 4,7 persen dibandingkan 2024 yang tercatat 18,12 juta kiloliter. Sementara itu, penyaluran LPG 3 kilogram mencapai 8,54 juta ton, naik 3,9 persen dari realisasi tahun lalu.

Subsidi listrik juga menunjukkan tren peningkatan. Sepanjang 2025, pemerintah menyalurkan subsidi listrik kepada 42,8 juta pelanggan, tumbuh 2,6 persen dibandingkan tahun sebelumnya yang sebanyak 41,7 juta pelanggan.

Menurut Suahasil, besaran subsidi energi sangat dipengaruhi oleh berbagai faktor eksternal, seperti fluktuasi harga komoditas global dan pergerakan nilai tukar rupiah.Tak hanya energi, subsidi nonenergi juga mencatatkan pertumbuhan signifikan. Untuk pupuk bersubsidi, pemerintah merealisasikan penyaluran sebesar 8,1 juta ton, melonjak 12,1 persen dibandingkan realisasi 2024 yang sebesar 7,2 juta ton.

Kementerian Keuangan menilai peningkatan ini didukung oleh penyederhanaan birokrasi, termasuk pemangkasan 145 regulasi, sehingga distribusi pupuk bersubsidi menjadi lebih cepat dan mudah diakses petani. Selain itu, penurunan harga eceran tertinggi (HET) pupuk turut memperkuat keterjangkauan di tingkat lapangan.

Di sektor perumahan, subsidi pemerintah juga melonjak tajam. Sepanjang 2025, subsidi perumahan menjangkau 278,9 ribu unit rumah, tumbuh 39,5 persen dibandingkan realisasi tahun lalu yang sekitar 200 ribu unit.

“Ini adalah bentuk keberpihakan pemerintah, memastikan APBN benar-benar hadir untuk memenuhi kebutuhan masyarakat,” ujar Suahasil dikutip Antara.

Dari sisi fiskal, APBN 2025 mencatat defisit Rp695,1 triliun atau 2,92 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) per 31 Desember 2025.Realisasi pendapatan negara mencapai Rp2.756,3 triliun atau 91,7 persen dari target APBN 2025 sebesar Rp3.005,1 triliun. Sementara itu, realisasi belanja negara tercatat Rp3.451,4 triliun atau 95,3 persen dari target Rp3.621,3 triliun.

Belanja pemerintah pusat terealisasi Rp2.602,3 triliun atau 96,3 persen dari target, dengan belanja kementerian/lembaga melampaui target mencapai 129,3 persen. Adapun transfer ke daerah (TKD) tersalurkan sebesar Rp849 triliun atau 92,3 persen dari target yang telah ditetapkan.

 

Editor : Farida Denura

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Ekonomi Terbaru