Bloomberg Proyeksikan Ekonomi Indonesia Tetap Stabil pada 2026


 Bloomberg Proyeksikan Ekonomi Indonesia Tetap Stabil pada 2026 Suasana bongkar muat peti kemas di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Senin (5/1/2026). Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat neraca perdagangan Indonesia November 2025 mengalami surplus sebesar 2,66 miliar dolar AS, dengan rincian ekspor 22,52 miliar dolar AS dan impor 19,86 miliar dolar AS. ANTARA FOTO/Dhemas Reviyanto/nz

JAKARTA, ARAHKITA.COM — Prospek ekonomi Indonesia pada 2026 diperkirakan tetap solid di tengah dinamika pasar global. Lembaga riset Bloomberg Intelligence memproyeksikan pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) Indonesia berada di kisaran 5,0 persen secara tahunan (year on year/yoy), dengan inflasi yang relatif terkendali di level 2,75 persen.

Proyeksi tersebut tertuang dalam laporan bertajuk Indonesia in Focus: Review and Outlook for 2026. Dalam laporannya, Bloomberg Intelligence menilai laju pertumbuhan ekonomi Indonesia akan tetap konsisten pada periode 2025 hingga 2027, dengan risiko resesi dalam 12 bulan ke depan tergolong rendah, hanya sekitar 3 persen.

Dari sisi pasar modal, kinerja Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencatat penguatan signifikan sepanjang 2025. Indeks saham utama di Tanah Air tersebut naik hingga 22 persen, menjadi capaian tahunan terbaik sejak 2014. Peningkatan ini didorong oleh semakin aktifnya investor ritel domestik yang mencari peluang imbal hasil lebih tinggi di tengah ketidakpastian global.

Namun, kondisi berbeda terlihat di pasar obligasi pemerintah. Bloomberg Intelligence mencatat tekanan masih membayangi seiring meningkatnya kebutuhan penerbitan surat utang serta kekhawatiran terhadap kondisi fiskal. Arus dana asing ke Surat Berharga Negara (SBN) nyaris tergerus, dengan net inflow menyusut tajam menjadi sekitar 25 juta dolar AS, jauh dari puncaknya yang mencapai 4,6 miliar dolar AS pada Agustus 2025.

Kondisi tersebut turut berdampak pada nilai tukar rupiah. Mata uang Garuda sempat melemah hingga menyentuh level Rp16.790 per dolar AS, terendah dalam delapan bulan terakhir, seiring defisit anggaran yang mendekati ambang batas 3 persen terhadap PDB.

Meski demikian, Bank Indonesia tetap optimistis. Otoritas moneter menargetkan nilai tukar rupiah dapat bergerak lebih stabil di kisaran Rp16.500, bahkan berpotensi menguat hingga Rp16.400 per dolar AS pada 2026. Bank sentral juga memberi sinyal pelonggaran kebijakan secara terukur, dengan tetap menempatkan stabilitas nilai tukar sebagai prioritas utama dikutip Antara.

Di sisi investasi, Indonesia mencatat capaian positif. Realisasi investasi sepanjang 2025 berhasil mencapai target Rp1.905 triliun, mencerminkan daya tarik Indonesia yang masih kuat di mata investor, meskipun volatilitas pasar global meningkat.

Sektor ekonomi kreatif turut menjadi sorotan. Bloomberg mencatat sektor ini mampu menarik investasi asing hingga Rp132 triliun, dengan pertumbuhan PDB yang melampaui laju pertumbuhan ekonomi nasional. Kondisi tersebut dinilai menjadi salah satu penopang penting bagi prospek ekonomi Indonesia dalam jangka menengah.

 

Editor : Farida Denura

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Ekonomi Terbaru