Jumat, 23 Januari 2026

Stok Beras Awal 2026 Melonjak 203 Persen, Indonesia Kian Mantap Swasembada


 Stok Beras Awal 2026 Melonjak 203 Persen, Indonesia Kian Mantap Swasembada Menteri Pertanian sekaligus Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas) Andi Amran Sulaiman. ANTARA/HO-Bapanas

JAKARTA, ARAHKITA.COM — Pemerintah menegaskan Indonesia telah mencapai swasembada beras. Hal ini tercermin dari stok beras nasional di awal 2026 yang menembus angka 12,529 juta ton, melonjak tajam hingga 203 persen dalam dua tahun terakhir. Seluruh pasokan tersebut berasal dari produksi petani dalam negeri, tanpa ketergantungan impor.

Deputi Bidang Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Badan Pangan Nasional I Gusti Ketut Astawa mengatakan capaian ini menunjukkan fondasi kemandirian pangan Indonesia yang semakin kokoh.

“Ketersediaan beras kita sangat kuat. Indonesia sudah berada pada posisi swasembada beras,” ujarnya di Jakarta, Sabtu (3/1/2025).

Lonjakan Stok dalam Dua Tahun Terakhir

Ketut menjelaskan, stok awal 2026 berasal dari sisa persediaan nasional atau carry over stock tahun 2025. Berdasarkan Proyeksi Neraca Pangan Nasional 2026 yang dihimpun dari berbagai kementerian dan lembaga, stok beras tersebut dinilai lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan konsumsi masyarakat.

Menariknya, sepanjang 2025 tidak ada beras yang berasal dari impor. Stok awal 2026 itu juga sudah mencakup Cadangan Beras Pemerintah (CBP) sebesar 3,248 juta ton yang dikelola oleh Perum Bulog.

Selain tersimpan di gudang Bulog, beras nasional juga tersebar di tingkat rumah tangga produsen dan konsumen, penggilingan padi, pedagang, hingga sektor horeka (hotel, restoran, dan katering).

Jika ditarik ke belakang, stok awal 2024 tercatat hanya 4,134 juta ton. Angka tersebut naik menjadi 8,402 juta ton di awal 2025, lalu melonjak signifikan ke 12,529 juta ton pada awal 2026.

Impor Beras Ditiadakan hingga 2026

Dengan kondisi stok yang dinilai sangat aman, pemerintah memastikan tidak akan melakukan impor beras konsumsi maupun beras bahan baku industri sepanjang 2026. Keputusan ini ditetapkan saat penyusunan Neraca Komoditas 2026 dan dibahas dalam forum lintas kementerian di Kementerian Koordinator Bidang Pangan.

“Kebijakan ini konsisten dengan tahun 2025, di mana Indonesia juga tidak melakukan impor beras umum,” kata Ketut.

Sebagai gantinya, pemerintah mendorong pelaku usaha nasional untuk memaksimalkan pemanfaatan bahan baku lokal seperti beras pecah dan beras ketan pecah.Stok Aman hingga Ramadhan dan Lebaran

Optimisme serupa disampaikan Kepala Bapanas sekaligus Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman. Ia menyebut stok beras nasional saat ini sebagai yang tertinggi sejak Indonesia merdeka.

“Bukan sekadar aman, tapi sangat aman. Tanpa impor, CBP kita lebih dari 3 juta ton, tertinggi sepanjang sejarah. Tidak ada masalah sampai Ramadhan dan Lebaran 2026,” tegas Amran.

Ia juga menekankan bahwa kebijakan pangan pemerintah selaras dengan arahan Presiden Prabowo Subianto, yakni memastikan petani dalam negeri tidak dirugikan.

“Petani harus sejahtera. Hasil kerja keras mereka harus terserap dan dimanfaatkan seluas-luasnya untuk kebutuhan rakyat,” ujarnya dikutip Antara.

Proyeksi Produksi Kian Menguat

Dengan asumsi kebutuhan konsumsi beras nasional sekitar 2,591 juta ton per bulan, stok awal 2026 diperkirakan mampu mencukupi hampir lima bulan kebutuhan nasional.

Sementara itu, produksi beras sepanjang 2026 diproyeksikan mencapai 34,7 juta ton. Dengan proyeksi tersebut, stok beras nasional di akhir 2026 diperkirakan akan semakin solid di kisaran 16,194 juta ton, memperkuat posisi Indonesia sebagai negara yang mandiri secara pangan.

Editor : Patricia Aurelia

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Ekonomi Terbaru