Selasa, 27 Januari 2026

Pemerintah Tarik Rp75 Triliun dari Bank, Menkeu Optimistis Ekonomi Bisa Tumbuh 6 Persen


 Pemerintah Tarik Rp75 Triliun dari Bank, Menkeu Optimistis Ekonomi Bisa Tumbuh 6 Persen Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa dalam taklimat media, di Jakarta. (Antara)

JAKARTA, ARAHKITA.COM – Pemerintah mulai menarik sebagian dana negara yang sebelumnya ditempatkan di sektor perbankan. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengungkapkan, dari total Rp276 triliun dana Saldo Anggaran Lebih (SAL) yang disimpan di bank, sebesar Rp75 triliun telah ditarik untuk dibelanjakan kembali.

Menurut Purbaya, penarikan dana tersebut bukan berarti likuiditas keluar dari sistem ekonomi. Sebaliknya, uang itu tetap berputar karena digunakan untuk mendukung belanja pemerintah pusat maupun daerah.

“Sekarang yang tersisa di bank sekitar Rp201 triliun. Rp75 triliun memang kita tarik, tapi langsung kita belanjakan lagi. Jadi uangnya tetap masuk ke sistem ekonomi, hanya tidak dalam bentuk simpanan pemerintah di bank,” ujar Purbaya saat taklimat media di Jakarta, Rabu (31/12/2025).

Sebelumnya, pemerintah menempatkan dana SAL sebesar Rp276 triliun di lima bank Himpunan Bank Milik Negara (Himbara) dan satu bank pembangunan daerah. Dana tersebut tersebar di Bank Mandiri, BRI, dan BNI masing-masing Rp80 triliun, BTN Rp25 triliun, BSI Rp10 triliun, serta Bank DKI Rp1 triliun.

Purbaya menjelaskan, dana yang telah ditarik digunakan untuk membiayai belanja negara dengan tujuan menopang dan mempercepat pertumbuhan ekonomi nasional. Meski demikian, ia mengakui kebijakan penempatan dana di perbankan belum memberikan dampak optimal.

Berdasarkan data Bank Indonesia per Oktober 2025, pertumbuhan kredit perbankan tercatat sebesar 7,36 persen secara tahunan (year on year). Menurutnya, capaian tersebut dipengaruhi oleh belum selarasnya kebijakan antara pemerintah dan bank sentral.

“Injeksi uang ke sistem perbankan ternyata tidak seoptimal yang saya perkirakan. Seharusnya ekonomi bisa bergerak lebih cepat, tapi memang sempat ada ketidaksinkronan kebijakan antara pemerintah dan bank sentral,” jelasnya seperti dikutip dari Antara

Namun demikian, Purbaya memastikan koordinasi tersebut kini telah dibenahi. Ia menyebut, dalam dua pekan terakhir, Bank Indonesia mulai memberikan dukungan penuh terhadap kebijakan pemerintah sehingga likuiditas di perekonomian semakin longgar.

“Dalam dua minggu terakhir, bank sentral sudah mendukung kebijakan kami. Artinya uang yang beredar di sistem ekonomi akan semakin banyak, jadi tidak perlu khawatir ekonomi akan melambat,” tegas Purbaya.

Dengan koordinasi kebijakan yang semakin solid, Purbaya optimistis kinerja ekonomi nasional ke depan akan semakin kuat. Ia bahkan menargetkan pertumbuhan ekonomi tahun depan bisa mencapai 6 persen, lebih tinggi dari asumsi dalam APBN yang dipatok sebesar 5,4 persen.

“Sekarang saya bisa bicara dengan lebih yakin bahwa pertumbuhan ekonomi tahun depan bisa mencapai 6 persen. Peluangnya semakin besar karena kebijakan pemerintah dan bank sentral kini sudah semakin sinkron,” pungkasnya.

Editor : M. Khairul

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Ekonomi Terbaru