Loading
India bertekad jadi eksportir besar alat kesehatan. (Tangkapan Layar dw.com)
JAKARTA, ARAHKITA.COM – India kembali mencatat tonggak penting dalam peta ekonomi global. Pemerintah India mengklaim negaranya kini resmi melampaui Jepang dan menempati posisi sebagai ekonomi terbesar keempat dunia, berdasarkan perhitungan terbaru dalam laporan tinjauan ekonomi akhir tahun.
Mengutip laporan dw.com, capaian ini menempatkan India tepat di bawah Amerika Serikat, Cina, dan Jerman. Bahkan, bila tren pertumbuhan saat ini mampu dipertahankan, India diproyeksikan bisa menyalip Jerman dan naik ke peringkat ketiga dunia dalam waktu sekitar tiga tahun ke depan.
Lonjakan PDB dan Pertumbuhan yang Konsisten
Nilai Produk Domestik Bruto (PDB) India saat ini diperkirakan mencapai US$4,18 triliun, dan diproyeksikan melonjak hingga US$7,3 triliun pada 2030. Angka ini menjadi sinyal kuat bahwa India tengah bertransformasi menjadi kekuatan ekonomi global utama.
Dari sisi pertumbuhan, performa ekonomi India juga menunjukkan tren menguat. Pada kuartal kedua tahun fiskal 2025–2026, pertumbuhan PDB riil mencapai 8,2 persen, tertinggi dalam enam kuartal terakhir dan meningkat dibanding kuartal sebelumnya.
Kinerja ekspor pun ikut menopang. Nilai ekspor barang India tercatat meningkat, didorong oleh sektor teknologi, elektronik, farmasi, hingga produk minyak bumi. Penguatan ekspor ini mencerminkan semakin kompetitifnya industri India di pasar internasional.
Konfirmasi Resmi Masih Menunggu
Meski klaim pemerintah India menunjukkan optimisme tinggi, posisi resmi India sebagai ekonomi keempat terbesar dunia masih menunggu rilis data PDB tahunan final pada 2026. Namun, Dana Moneter Internasional juga memproyeksikan India akan melampaui Jepang dalam waktu dekat.
Sementara itu, Reserve Bank of India telah merevisi naik proyeksi pertumbuhan ekonomi India tahun fiskal 2025–2026 menjadi 7,3 persen, menegaskan keyakinan otoritas moneter terhadap daya tahan ekonomi domestik.
Fase “Goldilocks” Ekonomi India
Mengutip dw.com, laporan ekonomi pemerintah India menggambarkan kondisi saat ini sebagai fase langka “Goldilocks”—pertumbuhan tinggi yang berjalan beriringan dengan inflasi relatif terkendali. Konsumsi domestik yang kuat, neraca perusahaan yang sehat, arus kredit stabil, serta reformasi struktural dinilai menjadi fondasi utama pertumbuhan jangka panjang.
Pemerintah India menargetkan status negara berpendapatan menengah-atas pada 2047, bertepatan dengan satu abad kemerdekaan. Target ambisius ini ditopang oleh reformasi ekonomi, pembangunan sosial, serta modernisasi sektor industri.
Tantangan: Pendapatan dan Lapangan Kerja
Di balik optimisme tersebut, tantangan besar masih membayangi. Data Bank Dunia menunjukkan PDB per kapita India pada 2024 berada di kisaran US$2.694, jauh tertinggal dibanding Jepang dan Jerman.
Sebagai negara dengan populasi terbesar di dunia—lebih dari 1,4 miliar jiwa—India juga menghadapi tantangan serius dalam menciptakan lapangan kerja berkualitas, terutama bagi generasi muda yang mendominasi struktur demografi.
Perdana Menteri Narendra Modi sendiri telah mendorong pemangkasan pajak konsumsi dan reformasi ketenagakerjaan untuk menjaga momentum pertumbuhan, meski tekanan eksternal seperti pelemahan nilai tukar rupee dan ketidakpastian perdagangan global masih menjadi pekerjaan rumah.
Meski jalan menuju puncak ekonomi dunia belum sepenuhnya mulus, lonjakan terbaru ini menegaskan satu hal: India bukan lagi sekadar negara berkembang, melainkan pemain utama dalam ekonomi global abad ke-21, sebagaimana disorot dalam laporan dw.com.