Loading
Dari AI hingga Pengangguran: Tantangan Ekonomi Global 2026. (Pixabay)
JAKARTA, ARAHKITA.COM - Ekonomi global menunjukkan ketahanan yang lebih baik dari perkiraan sepanjang 2025, meskipun dibayangi tekanan besar mulai dari perang dagang yang dipicu kebijakan Donald Trump, konflik geopolitik di Ukraina dan Timur Tengah, hingga perlambatan permintaan global.
Memasuki 2026, harapannya guncangan inflasi terburuk baru-baru ini telah berlalu, karena bank sentral terkuat di dunia menurunkan suku bunga. Namun, era pra-Covid dengan biaya pinjaman yang sangat rendah hanyalah kenangan, pertumbuhan global melambat, dan kondisi tetap rapuh.
Berikut adalah lima grafik kunci yang mendukung prospek ekonomi untuk tahun 2026 seperti dilansir The Guardian.
1. Pertumbuhan Ekonomi yang Didorong oleh AI?
Salah satu tema utama ekonomi global pada 2026 adalah potensi pertumbuhan yang didorong oleh kecerdasan buatan. Setelah bertahun-tahun menjadi sorotan, AI kini mulai diuji sebagai penggerak nyata produktivitas. Perusahaan global telah menggelontorkan investasi besar untuk pusat data, teknologi informasi, dan otomatisasi, namun pertanyaan besarnya adalah apakah investasi tersebut benar-benar akan mendorong pertumbuhan ekonomi atau justru memicu gelembung pasar saham.
Survei Deutsche Bank terhadap investor institusional menunjukkan kekhawatiran besar terhadap potensi pecahnya gelembung teknologi di Amerika Serikat. Sebanyak 57 persen responden menempatkan risiko tersebut dalam tiga besar ancaman ekonomi 2026. Kepala riset makro global Deutsche Bank, Jim Reid, menyebut kekhawatiran terhadap gelembung AI sebagai risiko dominan yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam beberapa tahun terakhir.
Di tengah antusiasme AI, pertumbuhan ekonomi global justru diproyeksikan melambat pada 2026. Dampak tarif perdagangan Amerika Serikat, melemahnya konsumsi rumah tangga akibat inflasi berkepanjangan, serta biaya pinjaman yang tetap tinggi menjadi faktor penekan. Pertumbuhan ekonomi China diperkirakan terus melambat, sementara Amerika Serikat diprediksi memimpin pertumbuhan di kelompok negara G7, disusul Kanada dan Inggris.
Baca juga:
Gibran Rakabuming Bicara di KTT G20: Soroti Tantangan Global & Kerja Sama Afrika-Indonesia2. Inflasi Mereda tetapi Risiko Tetap Ada
Di sisi inflasi, kabar yang lebih positif mulai terlihat. Setelah menekan daya beli rumah tangga selama beberapa tahun, inflasi diperkirakan akan terus melandai di negara-negara maju pada 2026. Kondisi ini membuka peluang bagi bank sentral untuk mengakhiri siklus pengetatan kebijakan moneter, meski suku bunga rendah seperti era pra-pandemi diperkirakan tidak akan kembali dalam waktu dekat.
Amerika Serikat menghadapi momen krusial dengan berakhirnya masa jabatan Ketua Federal Reserve Jerome Powell pada Mei. Pasar akan mencermati apakah penggantinya akan menghadapi tekanan politik untuk memangkas suku bunga lebih agresif.
Sementara itu, Inggris berisiko tertinggal dalam proses penurunan inflasi, meski Bank of England optimistis inflasi dapat kembali mendekati target 2 persen pada pertengahan 2026. Di kawasan euro, inflasi yang sudah mendekati target diperkirakan membuat Bank Sentral Eropa bersikap lebih hati-hati dalam mengambil langkah kebijakan.
3. Ketegangan Perdagangan Meningkat
Ketegangan perdagangan global tetap menjadi faktor risiko besar. Meski guncangan awal kebijakan tarif Trump mulai mereda, tingkat tarif Amerika Serikat masih jauh lebih tinggi dibandingkan dengan periode sebelumnya. Ketidakpastian kebijakan perdagangan dinilai akan mendorong fragmentasi ekonomi global, memaksa perusahaan mempercepat diversifikasi rantai pasok dan relokasi produksi ke negara-negara yang lebih dekat secara geografis.
Para ekonom memperingatkan bahwa dalam jangka panjang, tarif tinggi berpotensi menekan volume perdagangan global, meningkatkan biaya produksi, dan memperlambat pertumbuhan ekonomi dunia. Ketegangan antara Amerika Serikat dan China, serta hubungan Eropa dengan Beijing, diperkirakan menjadi bagian dari normal baru ekonomi global.
4. Mengendalikan Pengawas Obligasi
Tekanan juga datang dari pasar obligasi. Sepanjang 2025, negara-negara dengan utang tinggi seperti Amerika Serikat, Inggris, dan Prancis menghadapi peningkatan biaya pinjaman yang signifikan. Kekhawatiran fiskal diperkirakan masih berlanjut pada 2026, terutama bagi pemerintah yang harus menyeimbangkan kebutuhan pertumbuhan ekonomi dengan peningkatan belanja pertahanan.
Di Inggris, perhatian pasar tertuju pada kebijakan fiskal pemerintah dan stabilitas politik menjelang pemilihan lokal. Sementara di Prancis, ketidakpastian anggaran menambah tekanan terhadap pasar keuangan. Meski demikian, stabilisasi inflasi dan meredanya ketegangan perdagangan diharapkan dapat memberi sedikit ruang bernapas bagi pasar obligasi global.
5. Meningkatnya Pengangguran
Pasar tenaga kerja menjadi tantangan terakhir yang tak kalah penting. Sepanjang 2025, permintaan perekrutan melemah di banyak negara maju, mendorong kenaikan tingkat pengangguran di Amerika Serikat dan Inggris. Risiko peningkatan pengangguran diperkirakan masih membayangi 2026, seiring dampak kebijakan pajak, ketidakpastian bisnis, dan adopsi teknologi AI.
Di Inggris, tingkat pengangguran telah mencapai level tertinggi dalam hampir satu dekade di luar masa pandemi. Sementara di Amerika Serikat berada pada titik tertinggi dalam empat tahun terakhir. Meski demikian, pertumbuhan upah relatif masih bertahan, membantu pekerja memulihkan kondisi keuangan, namun sekaligus menimbulkan kekhawatiran baru bagi bank sentral terkait potensi tekanan inflasi.
Para ekonom menilai pembuat kebijakan perlu bersikap responsif terhadap tren ini agar perlambatan pasar tenaga kerja tidak berkembang menjadi krisis sosial dan ekonomi yang lebih luas pada 2026.