Industri Alas Kaki Jadi Andalan Ekonomi Indonesia, DPR Desak Pemerintah Perkuat Daya Saing


 Industri Alas Kaki Jadi Andalan Ekonomi Indonesia, DPR Desak Pemerintah Perkuat Daya Saing Wakil Ketua Komisi VII DPR RI Chusnunia Chalim (tengah) saat kunjungan kerja spesifik ke PT Chang Shin Indonesia, Kabupaten Karawang, Jawa Barat, Jumat (14/11/2025). ANTARA/Ali Khumaini

KARAWANG, ARAHKITA.COM — Industri alas kaki kembali menjadi sorotan setelah Komisi VII DPR RI menegaskan sektor ini sebagai salah satu tumpuan penting perekonomian nasional. Selain menopang pertumbuhan ekonomi, industri padat karya ini menyerap ratusan ribu tenaga kerja dan menjadi penggerak ekonomi di banyak daerah.

Wakil Ketua Komisi VII DPR RI, Chusnunia Chalim, menegaskan bahwa industri alas kaki terus berperan besar pada penyerapan tenaga kerja. Dalam kunjungan kerjanya ke PT Chang Shin Indonesia di Karawang, Jumat (14/11/2025), ia menekankan perlunya memperkuat daya saing sektor tersebut di tengah berbagai tantangan global.

“Industri manufaktur bukan hanya mendukung pertumbuhan ekonomi, tetapi juga membuka lapangan kerja besar. Industri alas kaki adalah salah satu buktinya,” ujarnya.Chusnunia juga menyebutkan bahwa industri alas kaki saat ini menghadapi berbagai tekanan, termasuk tarif tinggi dari Amerika Serikat serta isu pengelolaan kawasan industri yang perlu pembenahan.

“Kawasan industri harus ditata ulang. Ada temuan radioaktif yang juga harus ditindaklanjuti. Kami sudah memanggil Kementerian Perindustrian untuk memastikan ada langkah konkret, baik jangka pendek maupun jangka panjang,” katanya.

Pertumbuhan Industri Masih Positif

Kementerian Perindustrian mencatat sektor kulit, barang kulit, dan alas kaki tumbuh 4,87 persen year-on-year hingga kuartal III 2025. Total tenaga kerja yang terserap mencapai 921.086 orang pada 484 perusahaan skala menengah-besar.

Sementara kapasitas industri alas kaki nasional pada 2024 tercatat sebanyak 1,527 miliar pasang, dengan produksi mencapai 880 juta pasang dan ekspor 601 juta pasang.

DPR Minta Pemerintah Hadir Perkuat Daya Saing

Senada dengan Chusnunia, Anggota Komisi VII DPR RI Novita Hardini menegaskan bahwa pemerintah harus memberi perhatian khusus agar industri alas kaki tetap kompetitif.

Menurutnya, tarif ekspor 19 persen yang dikenakan Amerika Serikat terhadap produk alas kaki Indonesia langsung memukul pendapatan dan daya saing industri nasional.

“Tarif 19 persen itu memukul industri kita. Pemerintah harus segera negosiasi ulang,” ujar Novita usai mengunjungi salah satu produsen alas kaki di Tangerang dikutip Antara.

Dari sisi keberlanjutan, ia mengapresiasi perusahaan-perusahaan yang mulai menggunakan bahan baku ramah lingkungan. Bahkan ada yang sudah mencapai 95 persen material dapat didaur ulang. Novita menilai pencapaian ini patut didorong lewat insentif fiskal yang nyata.

Ancaman Impor Ilegal dan Thrifting

Meski tumbuh, industri alas kaki Indonesia menghadapi tantangan lain: masuknya barang impor ilegal dan maraknya thrifting. Menurut Novita, praktik tersebut merusak pasar dalam negeri dan melemahkan pelaku industri lokal maupun UMKM.

“Impor ilegal dan thrifting yang tidak sesuai aturan harus ditindak tegas. Pemerintah perlu memperkuat pengawasan dan penegakan Standar Nasional Indonesia (SNI),” tegasnya.

Ia menambahkan bahwa keberpihakan pada produk dalam negeri harus menjadi komitmen bersama. Bentuk dukungan pemerintah tidak hanya berupa kebijakan, tetapi juga kolaborasi lintas sektor untuk memastikan keberlanjutan industri alas kaki.

“Industri kuat, tenaga kerja terlindungi, dan bangsa berdaulat di pasar global. Inilah tujuan yang harus kita jaga bersama,” tutup Novita.

Editor : Farida Denura

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Ekonomi Terbaru