Loading
Menteri Perdagangan (Mendag) Budi santoso ditemui usai cara CEO Insight di Jakarta, Selasa (4/11/2025). ANTARA/Muzdaffar Fauzan/aa.
JAKARTA, ARAHKITA.COM — Pemerintah Indonesia menargetkan perundingan tarif resiprokal dengan Amerika Serikat (AS) bisa diselesaikan pada November 2025. Menteri Perdagangan Budi Santoso menyebut proses negosiasi tengah memasuki tahap akhir setelah melalui pembahasan intensif selama beberapa bulan terakhir. “Ya, bulan ini, November,” ujar Budi di Jakarta, Selasa (4/11/2025).
Menurutnya, pembahasan mengenai tarif balasan dilakukan secara hati-hati dengan mempertimbangkan posisi tawar Indonesia di mata mitra dagang utama tersebut. Pemerintah, kata Budi, ingin memastikan produk-produk unggulan Indonesia yang tidak diproduksi di AS bisa menikmati tarif 0 persen.
“Kita ingin produk yang tidak diproduksi oleh Amerika, tapi diekspor ke sana, mendapatkan tarif resiprokal nol persen,” jelasnya.
Mendag menambahkan, pekan depan Indonesia akan kembali menggelar pertemuan lanjutan dengan delegasi perdagangan AS guna merampungkan kesepakatan akhir.
Sementara itu, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto sebelumnya menyampaikan bahwa negosiasi tarif resiprokal antara Indonesia dan Amerika Serikat sudah memasuki tahap finalisasi. Kesepakatan prinsip (principle agreement) bahkan telah disetujui oleh Presiden Prabowo Subianto dan Presiden AS Donald Trump.
“Sekarang sudah tahap finalisasi perjanjian. Kesepakatan prinsipnya sudah disetujui oleh Bapak Presiden Prabowo dan Presiden Trump,” kata Airlangga pada Oktober lalu.Airlangga menuturkan, pemerintah kini tengah menyusun dokumen hukum atau legal drafting agar kesepakatan tersebut dapat segera diimplementasikan. Ia berharap proses ini bisa berjalan cepat sehingga kebijakan tarif baru bisa diberlakukan dalam waktu dekat.
Lebih lanjut, Airlangga menjelaskan bahwa pembebasan tarif akan diberikan pada komoditas yang bisa ditanam di Indonesia, tetapi tidak bisa ditanam di Amerika Serikat—seperti kelapa sawit, kakao, dan cokelat.
“Sebaliknya, produk AS yang tidak bisa diproduksi di Indonesia juga akan mendapatkan perlakuan tarif yang sama,” tambahnya dikutip Antara.
Diketahui, Presiden Donald Trump sebelumnya menetapkan tarif impor resiprokal untuk produk Indonesia sebesar 19 persen, turun dari tarif awal 32 persen. Penurunan tersebut merupakan hasil negosiasi langsung melalui sambungan telepon antara Presiden Trump dan Presiden Prabowo Subianto.
Jika perundingan rampung sesuai target, kesepakatan ini diharapkan dapat membuka peluang ekspor lebih luas bagi produk-produk Indonesia di pasar Amerika Serikat dan memperkuat posisi Indonesia dalam rantai perdagangan global.