Loading
Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Luhut Binsar Pandjaitan menemui Menteri Perdagangan Amerika Serikat (AS) Howard Lutnick di Washington DC, Amerika Serikat. ANTARA/HO-Tim Media DEN/aa.
JAKARTA, ARAHKITA.COM – Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Luhut Binsar Pandjaitan melakukan pertemuan dengan Menteri Perdagangan Amerika Serikat (AS), Howard Lutnick, di Washington DC, AS, untuk membahas peluang kerja sama dan investasi antara kedua negara.
Menurut Luhut, pertemuan berlangsung dalam suasana yang hangat dan produktif, mencerminkan komitmen bersama Indonesia dan Amerika Serikat untuk memperkuat hubungan ekonomi yang saling menguntungkan dan berkelanjutan.
“Kemitraan yang kokoh tidak lahir hanya dari kesamaan kepentingan, tetapi dari kesediaan mencari keseimbangan. Dengan begitu, akan tercipta stabilitas jangka panjang dalam hubungan perdagangan dan ekonomi bilateral antara Indonesia dan Amerika Serikat,” ujar Luhut dalam keterangan tertulis yang diterima di Surabaya, Jumat (10/10/2025).
Pertemuan itu juga membahas berbagai peluang kolaborasi strategis di sektor energi, manufaktur, dan teknologi tinggi, yang dinilai mampu memperkuat rantai pasok global serta menciptakan lebih banyak lapangan kerja di Indonesia.
Salah satu topik utama dalam agenda pembahasan adalah kelanjutan negosiasi kesepakatan tarif resiprokal atau Reciprocal Tariff Agreement antara Indonesia dan Amerika Serikat. Meski masih terdapat sejumlah aspek teknis yang perlu difinalisasi, Luhut memastikan arah pembicaraan tetap berjalan konstruktif dengan prinsip saling menguntungkan.
Luhut menegaskan, langkah diplomasi ekonomi ini menjadi bukti nyata upaya Indonesia dalam membangun hubungan internasional berbasis kepercayaan, keterbukaan, dan visi jangka panjang. Hal tersebut juga sejalan dengan komitmen Presiden Prabowo Subianto untuk memperkuat posisi Indonesia di kancah global.
Sementara itu, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto sebelumnya menjelaskan bahwa penutupan sementara pemerintahan AS (government shutdown) sempat menghambat proses negosiasi tarif antara kedua negara. Akibat kebijakan tersebut, pembahasan tarif sejumlah komoditas strategis Indonesia masih tertunda.
Baca juga:
Prabowo Ajak Pengusaha AS Perkuat Investasi di Indonesia, Soroti Hilirisasi dan Stabilitas NasionalMeski demikian, Airlangga memastikan pemerintah akan terus menjalin komunikasi dengan Kantor Perwakilan Dagang AS (USTR) untuk mempercepat kejelasan proses negosiasi.
Pemerintah Indonesia sendiri menargetkan agar beberapa komoditas unggulan nasional terbebas dari tarif impor tinggi sebesar 19 persen yang diberlakukan Amerika Serikat dikutip Antara.
Beberapa komoditas prioritas tersebut antara lain kelapa sawit, karet, dan kakao, yang diharapkan dapat memperoleh keringanan tarif sebagai bagian dari perjanjian perdagangan baru antara Indonesia dan AS.