Loading
Arsip Foto - Petugas menunjukkan uang pecahan dolar AS dan rupiah di Bank Mandiri, Jakarta, Jumat (11/10/2024). ANTARA FOTO/Rivan Awal Lingga/rwa/aa
JAKARTA, ARAHKITA.COM – Nilai tukar rupiah kembali menunjukkan penguatan tipis pada perdagangan Kamis (11/9/2025). Kabar rencana pemerintah mengalirkan dana besar ke bank-bank milik negara disebut menjadi faktor utama yang mendorong optimisme pasar.
Kepala Ekonom Permata Bank, Josua Pardede, menjelaskan bahwa keputusan pemerintah memindahkan dana sekitar Rp200 triliun dari Bank Indonesia (BI) ke perbankan BUMN dinilai memberi sinyal positif pada likuiditas domestik. “Langkah ini bisa memperkuat aliran kredit ke masyarakat dan dunia usaha,” ujarnya di Jakarta.
Pemerintah Siapkan Stimulus lewat Dana Mengendap
Rencana penempatan dana ini sebelumnya disampaikan Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa. Ia menyebut Presiden Prabowo Subianto telah menyetujui pemanfaatan sebagian dari total saldo pemerintah sebesar Rp425 triliun yang selama ini tersimpan di BI.
Menurut Purbaya, lambatnya belanja pemerintah membuat sistem keuangan kehilangan daya dorong. Karena itu, kebijakan ini diharapkan bisa mempercepat perputaran uang dan mendukung target pertumbuhan ekonomi nasional. Dana yang dimaksud bersumber dari Saldo Anggaran Lebih (SAL) dan Sisa Lebih Pembayaran Anggaran (SiLPA).
Rupiah Menguat di Tengah Tekanan Global
Di pasar valuta asing, rupiah ditutup menguat 8 poin atau 0,05 persen menjadi Rp16.462 per dolar AS. Meski demikian, kurs acuan Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) justru melemah tipis ke Rp16.468 per dolar AS.
Baca juga:
Sorong Selatan Gandeng Bank Mandiri, Dorong Digitalisasi Pajak dan Layanan Perbankan DaerahJosua menilai, faktor eksternal juga ikut berperan. Saat ini, pelaku pasar menahan diri menunggu rilis data inflasi Amerika Serikat (AS), khususnya Core CPI. Jika inflasi AS sesuai ekspektasi atau lebih rendah, peluang pemangkasan suku bunga The Fed tetap terbuka. Kondisi itu bisa melemahkan dolar dan memberi ruang bagi rupiah untuk terus menguat.
Sebaliknya, apabila inflasi lebih tinggi dari perkiraan, dolar berpotensi kembali menguat sehingga menekan rupiah dikutip Antara.
Proyeksi Pergerakan Rupiah
Menjelang akhir pekan, fokus pasar masih akan tertuju pada implementasi penempatan dana pemerintah di perbankan. Investor akan menilai sejauh mana langkah ini mampu memperkuat stabilitas fiskal dan efektivitas stimulus.
Dengan mempertimbangkan faktor global dan domestik, rupiah diproyeksikan bergerak fluktuatif di kisaran Rp16.420–Rp16.500 per dolar AS. Bila inflasi AS sesuai ekspektasi, rupiah berpotensi stabil dengan kecenderungan menguat tipis.