Selasa, 27 Januari 2026

Pabrik Baterai EV di Karawang Bisa Suplai hingga 300 Ribu Mobil Listrik


 Pabrik Baterai EV di Karawang Bisa Suplai hingga 300 Ribu Mobil Listrik Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia dalam Groundbreaking Proyek Ekosistem Industri Baterai Kendaraan Listrik Terintegrasi Konsorsium ANTAM-IBC-CBL di Kawasan Artha Industrial Hills (AIH), di Karawang, Jawa Barat, Minggu (29/6/2025). (ANTARA/Putu Indah Savitri)

KARAWANG, ARAHKITA.COM — Indonesia terus melaju dalam membangun ekosistem kendaraan listrik. Salah satu langkah strategis dilakukan melalui pembangunan pabrik baterai kendaraan listrik (EV) di Karawang, Jawa Barat. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyampaikan bahwa pabrik ini memiliki kapasitas hingga 15 gigawatt-hour (GWh), cukup untuk mendukung produksi baterai bagi sekitar 250.000 hingga 300.000 unit mobil listrik.

"Groundbreaking yang kami resmikan ini adalah untuk pabrik baterai berkapasitas 15 GWh. Jika dikonversi ke baterai mobil, kapasitas ini dapat memenuhi kebutuhan hingga 300 ribu kendaraan listrik," ujar Bahlil dalam acara peletakan batu pertama Proyek Ekosistem Industri Baterai EV Terintegrasi Konsorsium ANTAM–IBC–CBL di Kawasan Artha Industrial Hills, Karawang, Minggu (29/6/2025).

Tak Hanya Baterai EV, Juga Disiapkan Sistem Penyimpanan Energi (BESS)

Selain fokus pada baterai untuk kendaraan listrik, kawasan industri ini juga akan dilengkapi dengan fasilitas Battery Energy Storage System (BESS), yang berfungsi menyimpan energi listrik dari sumber terbarukan seperti panel surya. Meski belum dijelaskan secara detail mengenai kapasitas BESS, pemerintah berharap teknologi ini akan turut dikembangkan sebagai bagian dari upaya membangun kemandirian energi nasional.

"Insyaallah mereka (konsorsium) siap mengembangkan sistem BESS agar seluruh ekosistem tersedia di dalam negeri," tambah Bahlil.

Prabowo Resmikan Groundbreaking Proyek Baterai EV Terintegrasi

Presiden RI Prabowo Subianto hadir langsung dalam acara peletakan batu pertama proyek strategis nasional ini. Proyek tersebut merupakan pengembangan industri baterai dari hulu ke hilir, melibatkan kolaborasi antara PT Aneka Tambang Tbk (ANTAM), Indonesia Battery Corporation (IBC), dan konsorsium internasional CATL–Brunp–Lygend (CBL).

Dari enam proyek yang dikembangkan, lima di antaranya berada di Halmahera Timur dan satu proyek utama di Karawang. Pabrik di Karawang dibangun di atas lahan seluas 43 hektare dan dijalankan oleh perusahaan patungan PT Contemporary Amperex Technology Indonesia Battery (CATIB)—hasil kolaborasi antara IBC dan CBL, anak perusahaan dari raksasa baterai dunia CATL.

Pada fase pertama, pabrik ditargetkan memiliki kapasitas 6,9 GWh, dan akan ditingkatkan menjadi 15 GWh di fase kedua. Produksi komersial dijadwalkan dimulai pada akhir tahun 2026.

Ekspansi Terpadu di Halmahera Timur

Sementara itu, di Halmahera Timur, ANTAM bersama Hong Kong CBL Limited (HK CBL) membentuk PT Feni Haltim (FHT) untuk mengembangkan kawasan industri energi terbarukan. Di wilayah ini, terdapat proyek pertambangan nikel dan pembangunan smelter pirometalurgi berkapasitas 88.000 ton refined nickel alloy per tahun (ditargetkan rampung 2027).

Tak hanya itu, kawasan ini juga akan menjadi lokasi produksi smelter hidrometalurgi dengan output 55.000 ton Mixed Hydroxide Precipitate (MHP) per tahun (2028), pabrik bahan katoda Nickel Cobalt Manganese (NCM) sebanyak 30.000 ton per tahun (2028), serta fasilitas daur ulang baterai yang mampu menghasilkan hingga 20.000 ton logam sulfat dan lithium karbonat setiap tahun (2031).

Editor : Farida Denura

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Ekonomi Terbaru