Kisah Misteri Nan Sadis Pembantaian Westerling di Monumen Korban 40.000 Jiwa di Makassar


 Kisah Misteri Nan Sadis Pembantaian Westerling di Monumen Korban 40.000 Jiwa di Makassar Keganasan penjajah adalah monumen korban 40.000 jiwa yang dikenal sebagai monumen kisah pembantaian Westerling yang terletak di Kota Makassar. (Celebesmedia)

PERJUANGAN rakyat Indonesia dalam merebut dan mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia memang mengisahkan begitu banyak kisah dan cerita pedih akibat jatuhnya banyak korban nyawa yang terjadi di seluruh pelosok Indonesia.

Apabila dihitung dari sejak awal masa penjajahan di zaman VOC Belanda hingga zaman pendudukan Jepang yang terhitung 350 tahun lebih, maka bisa ditafsir entah berapa juta nyawa rakyat Indonesia yang gugur dalam berbagai pemberontakan di seluruh negeri.

Ada segelintir pemimin pemberontakan yang namanya diabadikan sebagai ahlawan kemerdekaan, tetai jutaan pahlawan yang gugur tanpa nama dan tanpa diabadikan. Nama mereka lenyap ditelan bumi.

Banyak yang dikuburkan secara massal lalu dibangun monumen untuk diabadikan dan dikenang.

Ada satu monumen yang diabadikan dan sangat dikenang karena keganasan penjajah adalah monumen korban 40.000 jiwa yang dikenal sebagai monumen kisah pembantaian Westerling yang terletak di Kota Makassar. Di situ terdapat patung veteran laki-laki setinggi 7,5 meter yang berdiri kokoh. Tangan kanan dan kakinya telah tiada, tapi ia tetap gagah berdiri dengan satu tongkat

Konon lokasi berdirinya monumen tersebut dulunya menjadi tempat pasukan elite Belanda pimpinan Raymond Paul Pietre Westerling membantai secara sadis rakyat dan para pejuang Makassar pada periode Desember 1946 – januar 1947.

Jumlah pembantaian massal itu masih simpang siur karena saking banyaknya. Tidak ada dokumen yang tertulis secara pasti. Jumlah 40.000 jiwa itu merupakan angka yang diucapkan Kahar Muzakar ketika menghadap Presiden Soekarno di Yogyakarta tahun 1947.

Kahar Musakar menggambarkan betapa bengisnya pembantaian di Sulsel yang memakan korban puluhan ribu jiwa para pejuang Makassar. Kahar membandingkan dengan peristiwa Bondowoso yang merenggut 46 nyawa tapi diberitakan begitu heboh, sedangkan pembantaian massal di Makassar tidak digubris. Soekarno selalu berkoar-koar tentang pembantaian di Bondowoso, dan di Makassar seperti didiamkan.

Mengenai angka jumah korban pembantaian, disarikan dari detiksulsel/detik.com. Westerling sendiri mengatakan ada 600 orang. Sedang yang dicatat dan dilaporkan angkatan darat sekira 3..000 orang sedangkan Anhar Gonggong, seorang sejarawan yang ayahnya ikut dibantai Westerling mengatakan jumlah sekira 10.000 orang

Di balik kisah pembantaian dan monumen itu sendiri, ada banyak kisah dan cerita misteri yang mengitari monumen tersebut, seperti banyak penampakan berupa sosok makhluk gaib di lokasi monumen. Ada yang menamakkan diri dalam bentuk makhluk gaib, seperti kuntilanak, ada yang dalam sosok jin tinggi besar berjenggot, berambut panjang, dan ada yang menampakkan diri dalam sosok orang tua renta.Banyak yang muncul dalam sosok hantu tanpa kepala, banyak yang menjerit dan merintih kesakitan, dan macam-macam.

Semua itu menggambarkan tentang beragam sosok korban yang dibantai dan jadi korban yang berada di sekitar monumen.

Bayangkan betapa menyeramkan ketika melihat ribuan warga dibantai malam-alam subuh oleh penjajah yang tidak berperikemanusiaan di bawah perintah Westerling yang kejam dan bengis yang sudah dirasuki iblis.

Editor : Farida Denura
Penulis : Thomas Koten

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Cerita Misteri Terbaru