Menurut cerita yang berkembang, di Bukit Soeharto itu tersimpan cerita hantu yang sangat menyeramkan. (Net)
INDONESIA belakangan ini disibukkan dengan rencana pemindahan ibu kota republik Indonesia dari Daerah Khusus Ibukota (DKI) Jakarta ke Ibu Kota Nusantara (IKN) di Kalimantan Timur. Lokasi IKN adalah sebagian Kabupaten Penajam Paser Utara dan sebagian dari Kabupaten Kutai Kartanegara.
Dan sudah menjadi rahasia umum bahwa bangsa ini masih sangat kental dengan kepercayaan akan hal-hal atau mistik yang berkaitan dengan dunia supranatural, alam gaib. Sehingga, tatkala bangsa ini hendak membangun IKN, sebagian masyarakat pun serta merta berpikir tentang hal-hal atau cerita-cerita mistik yang menyelimuti IKN. Apalagi dikaitkan dengan pohon-pohon besar yang dibabat habis untuk membangun IKN. Dan itu tentu sangat mengganggu keberadaan makhluk-makhluk astral yang sejak ratusan tahun menghuni tempat itu.
Selain itu, masyarakat pun langsung terbayang akan keangkeran salah satu obyek wisata yang ada di Bukit Soeharto yang letaknya tidak jauh dari IKN. Bahwa di Bukit Soeharto itu, selain terkenal sangat indah panorama alamnya, juga terkenal dengan cerita-cerita horornya yang berkembang hingga hari ini.
Menurut cerita yang berkembang, di Bukit Soeharto itu tersimpan cerita hantu yang sangat menyeramkan. Kisah hantu itu konon muncul akibat korban kerja paksa pada masa penjajahan Jepang yang kerap disebut Romusha.
Hantu-hantu dari zaman Romusha, Jepang itu masih bergentayangan di pohon-pohon di Bukit Soeharto. Hantu-hantu itu, seperti diceritakan masyarakat di sana, sering mengganggu masyarakat yang berkunjung ke Bukit Soeharto tersebut.
Bentuk gangguannya, yakni sering menampakkan diri dengan wajah penuh darah sambil berteriak histeris kesakitan yang terdengar sangat memilukan sekaligus sangat menyeramkan seperti seseorang yang sedang digorok lehernya. Masyarakat meyakinkan bahwa hantu-hantu itu adalah arwah yang mengeram kesakitan karena disiksa dengan sangat kejam oleh penjajah Jepang ketika itu. Mereka disiksa dan dibantai ketika terjadi kerja paksa.
Belum lagi ada bayang-bayang tentang IKN bisa menjadi “kota hantu” apabila kota baru yang sangat luas itu nantinya kekurangan penghuni, karena para warga tidak mau langsung datang menghuni atau menempati IKN. Sehingga, dalam waktu yang sangat lama, yang menempati IKN hanya para pejabat negara.
Bukankah, apabila areal yang sangat luas itu akan kekurangan penghuninya, sehingga bisa membuat wajah IKN menjadi ibarat “kota hantu”?.
Semoga ini tidak terjadi.