Loading
Nagelsmann hadapi masa berat pertamanya di Hoffenheim. (FootBall5Star.com)
BERLIN, ARAHKITA.COM - Masa dua tahun Julian Nagelsmann di Hoffenheim layak disebut sebagai salah satu cerita sukses yang layak dikenang di Liga Jerman.
Pelatih termuda yang pernah ada di Liga Jerman saat dipekerjakan pada usia 28 tahun, Nagelsmann tampil impresif dengan metode-metode latihan inovatif, akal taktisnya, dan kemampuan untuk menghidupkan kembali karier para pemain yang sebelumnya sempat merosot.
Mantan pemain bertahan itu, yang kariernya terhenti akibat cedera lutut pada usia 20 tahun, Nagelsmann kemudian mampu mendongkrak mantan tim desa itu menuju zona aman setelah mereka sempat "bermesraan" dengan degradasi.
Musim lalu, ia memimpin tim untuk finis di peringkat keempat Liga Jerman, torehan terbaik mereka, di mana dalam perjalanannya mereka sempat mendulang kemenangan perdana atas Bayern Munich.
Meski mereka dikalahkan Liverpool pada persaingan untuk memperebutkan tiket ke fase grup Liga Champions pada Agustus, Hoffenheim terlihat akan meneruskan apa yang mereka tinggalkan ketika mereka sempat naik ke peringkat kedua klasemen Liga Jerman awal musim ini.
Namun hal itu tidak terwujud.
Nagelsmann melihat pecahnya tim tahun lalu ketika bek Niklas Suele dan gelandang Sebastian Rudy dibajak Bayern Munich, dan diikuti oleh Sandro Wagner pada Januari, sedangkan bek kanan Jeremy Toljan bergabung dengan Borussia Dortmund.
Hal itu diikuti oleh perjalanan yang tidak sukses di Liga Europa, di mana mereka gagal melaju dari fase grup yang dihuni oleh Ludogorets Razgrad, Braga, dan Istanbul Basaksehir.
Sementara itu, baik sang pelatih dan klub terdistraksi oleh pembicaraan bahwa Nagelsmann dihubung-hubungkan dengan Bayern Munich sebagai pelatih masa depan untuk jangka panjang.
"Setiap hari, saya mendapatkan sekitar 14 pertanyaan pers, sudah cukup," tuturnya pada suatu saat.
Ketertarikan Bayern mereda setelah Carlo Ancelotti dipecat dan Jupp Heynckes, yang dipekerjakan untuk keempat kalinya secara beruntun, memimpin mereka dalam laju di mana mereka mendulang 19 poin untuk menduduki posisi puncak klasemen.
Ketika kedua tim bertemu pada Januari, Heynckes bermurah hati untuk memuji Nagelsmann, menyebut sejawatnya itu sebagai inspirasi terhadap pelatih-pelatih lain.
Bagaimanapun, Bayern tidak begitu ramah di atas lapangan, di mana mereka bangkit dari tertinggal dua gol untuk kemudian menang 5-2.
Sejak itu, situasi semakin memburuk bagi Hoffenheim yang turun ke peringkat kesembilan di klasemen, hanya memenangi satu pertandingan tahun ini dan menghadapi hal terdekat pada krisis sejak penunjukan Nagelsmann.
Mereka dicemooh saat meninggalkan lapangan setelah ditahan imbang 1-1 oleh tamunya Freiburg Sabtu silam, memicu para petinggi klub untuk melakukan pertemuan dua jam dengan para penggemar di lapangan latihan mereka pada Selasa.
Direktur olahraga klub Alexander Rosen mengatakan kedua pihak telah menepikan berbagai perbedaan dan ia berhadap kebangkitan larut pada musim ini, yang dimulai dengan lawatan ke markas Augsburg pada Sabtu.
"Dialog itu sangat penting bagi kami," ucapnya sebagaimana dilansir Antara dari Reuters.
"Saya sangat antusias untuk melihat betapa banyak hasrat dan keyakinan para penggemar kami, demi membawa tim dan memberikan kontribusi mereka terhadap kesuksesan kami." "Dengan penarik di belakang kami, kami dapat dengan percaya diri bersama-sama melaju untuk sepuluh pertandingan terakhir."