Loading
Para pendiri klub surel berbasis langganan, Kiki Klassen (kiri), Bo Natakhin, dan Trinity Shiroma.Atas perkenan Kiki Klassen, Bo Natakhin, Trinity Shiroma. (Foto: CNBC)
DI TENGAH era digital dan kecerdasan buatan yang semakin mendominasi kehidupan sehari-hari, sebagian Generasi Z justru menemukan peluang cuan dari sesuatu yang terasa “jadul”: surat pos.
Dikutip dari CNBC, tren klub surat berlangganan atau snail mail club kini berkembang pesat di kalangan anak muda kreatif. Mereka mengirim surat personal, ilustrasi, kartu pos, hingga zine eksklusif kepada pelanggan setiap bulan — dan hasilnya tidak main-main. Ada yang berhasil meraup ribuan dolar AS per bulan hanya dari bisnis ini.
Salah satu sosok yang mencuri perhatian adalah Kiki Klassen, perempuan 28 tahun asal Niagara, Ontario, Kanada. Ia menjalankan usaha sampingan bernama The Lucky Duck Mail Club sejak 2024.
Setiap bulan, Klassen menghabiskan waktu berjam-jam menyusun surat ketik, ilustrasi artistik, dan kartu pos ke dalam amplop warna-warni. Semua dikerjakan secara manual di meja makan rumahnya.
Yang mengejutkan, ia melakukan proses itu hampir 900 kali untuk para pelanggan setianya.
“Kadang saya menghabiskan enam jam setiap malam selama seminggu penuh hanya untuk menyiapkan semuanya,” ujar Klassen seperti dikutip dari CNBC.
Setiap pelanggan membayar sekitar 8 dolar AS per edisi. Dari bisnis tersebut, Klassen mengaku bisa menghasilkan rata-rata sekitar 4.385 dolar AS per bulan.
Dari Hobi Kreatif Jadi Sumber Penghasilan Stabil
Fenomena klub surat berlangganan ini berkembang pesat berkat media sosial, terutama TikTok dan Instagram. Tagar Snail Mail sendiri telah digunakan lebih dari 150 ribu kali di TikTok.
Banyak anak muda tertarik karena konsep ini menghadirkan pengalaman yang lebih personal dan “nyata” di tengah dunia digital yang serba cepat.Menurut Marni Shapiro, salah satu pendiri perusahaan riset dan konsultasi The Retail Tracker, tren ini muncul karena Generasi Z mulai mencari pengalaman yang lebih taktil dan nostalgik sejak pandemi Covid-19.
Selain surat dan ilustrasi, beberapa kreator juga menjual stiker, pembatas buku, cerita pendek, hingga perhiasan handmade melalui sistem langganan bulanan.
Klassen sendiri mengaku bisnis kecilnya memberikan rasa aman finansial yang sebelumnya tidak pernah ia rasakan.
“Rasanya menyenangkan karena saya tidak lagi terus-menerus memikirkan hidup dari gaji ke gaji,” katanya.
Saat ini, Klassen bekerja penuh waktu sebagai manajer media sosial di sebuah grup restoran. Namun bisnis klub suratnya tetap menjadi sumber pemasukan tambahan yang signifikan.
Meski biaya pengiriman cukup besar — sekitar 2.000 dolar AS untuk mengirim 900 surat ke Kanada dan Amerika Serikat — ia mengaku masih bisa mempertahankan margin keuntungan hingga sekitar 70 persen.
Viral di Media Sosial, Pelanggan Datang Ribuan
Kisah sukses serupa juga dialami Trinity Shiroma, seniman asal Orlando, Amerika Serikat.
Perempuan 25 tahun itu memiliki lebih dari 49 ribu pengikut di Instagram dan menjalankan layanan bernama The Architecture Club.Setiap bulan, Shiroma melukis landmark terkenal dunia seperti Museum Metropolitan New York, Café de Flore di Paris, atau Painted Ladies di San Francisco dalam bentuk kartu seni ukuran kecil.
Setelah itu, ia mencetak salinan ilustrasi, menulis surat pengantar, lalu mengirimkannya ke ribuan pelanggan.
Shiroma memulai proyek ini pada September lalu, dan hanya dalam beberapa bulan ia berhasil mengumpulkan lebih dari 1.300 pelanggan.
Ia mengatakan biaya produksi setiap surat hanya sekitar 2 dolar AS, sementara pelanggan membayar 8,88 dolar AS per bulan. Dari edisi Mei saja, Shiroma memperkirakan keuntungan yang diperoleh hampir mencapai 18.300 dolar AS.
“Awalnya saya tidak tahu apakah ini bisa menjadi pemasukan stabil. Tapi setelah dihitung, bahkan jika hanya ada satu pelanggan, saya tetap untung,” ujarnya.
Bisnis tersebut kini membantu Shiroma dan suaminya menabung untuk pindah ke apartemen yang lebih besar lengkap dengan studio pribadi.
Berawal dari Konten TikTok
Selain Kiki Klassen dan Trinity Shiroma, ada juga Bo Natakhin, mantan fotografer mode asal Toronto, Kanada.
Pria 26 tahun itu nekat meninggalkan pekerjaan lamanya demi fokus penuh menjalankan klub surat bertema memasak bernama Little Kitchen of Bo.
Natakhin mengirim buku resep mini setebal 52 halaman kepada hampir 4.000 pelanggan berbayar. Setiap edisi dijual seharga 20 dolar AS.
Sebelum resmi diluncurkan, ia lebih dulu membangun audiens lewat TikTok dengan membagikan video memasak dan proses pembuatan zine resep.
“Sekarang apartemen saya lebih mirip gudang produksi dibanding rumah,” katanya sambil bercanda.
Ia mengaku sempat bekerja hingga 12 jam sehari termasuk akhir pekan demi menyelesaikan edisi pertamanya.
Jika bisnis ini terus berkembang, Natakhin berharap bisa pindah ke Paris bersama istrinya dan melanjutkan sekolah memasak di Le Cordon Bleu.
Side Hustle yang Bikin Lebih Percaya Diri
Bagi banyak Gen Z, klub surat berlangganan bukan hanya soal uang. Bisnis kecil ini juga membantu mereka membangun rasa percaya diri dan keberanian mengambil peluang baru.
Klassen mengaku kesuksesan The Lucky Duck Mail Club membuatnya lebih percaya diri meminta promosi jabatan di tempat kerja.
Dari yang awalnya hanya bekerja sebagai barista, kini ia dipercaya menangani media sosial perusahaan tempatnya bekerja.
“Saya jadi lebih berani karena Lucky Duck berhasil menghasilkan uang. Sedikit keberanian dan kenekatan ternyata menarik perhatian mereka,” ujar Klassen.
Fenomena ini menunjukkan bahwa di era digital sekalipun, sentuhan personal dan kreativitas manual masih punya tempat tersendiri di hati banyak orang.
Bagi Gen Z, surat pos kini bukan sekadar nostalgia — tapi juga peluang bisnis yang menjanjikan.