Loading
Yarni Nabuasa, perempuan asal TTS yang membangun Asett Sambal dari patah hati dan modal Rp150 ribu hingga menembus pasar nasional dan internasional. (Foto: Dok. Pribadi)
SIAPA sangka sebuah luka hati bisa menjadi awal perjalanan seorang perempuan muda menuju dapur-dapur Indonesia dan luar negeri. Yarni Nabuasa, sosok di balik brand sambal kemasan Asett Sambal, menjadikan masa paling kelam dalam hidupnya sebagai bahan bakar untuk bangkit dan membangun usaha kuliner yang kini dikenal luas.
Lahir dan besar di Kecamatan Noebeba, Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), Nusa Tenggara Timur, Yarni—yang akrab disapa Yaya—bukan hanya menghadirkan sambal dengan cita rasa pedas khas, tetapi juga menyajikan kisah ketekunan dan transformasi diri yang inspiratif.
Patah Hati & Gagal Ujian, Titik Awal Semua
Tahun 2022 menjadi tahun yang sulit bagi Yaya. Di saat dirinya bersiap menghadapi ujian kompetensi untuk menjadi perawat profesional (ners), ia justru harus menerima kenyataan pahit: ditinggal kekasih yang telah bersamanya selama enam tahun. Sebulan sebelum ditinggal, mantan bilang modelan lu ditinggal tau jadi apa. Dikira bercanda eh ternyata sebulan berjalan ditinggal tanpa komunikasi.
“Beta ingat sekali dia bilang,"Lu mau jadi apa tanpa beta?’ Itu menyakitkan, tapi justru jadi bahan bakar hidup saya sekarang,” ujar Yaya, mengenang kalimat terakhir sang mantan.
Patah hati itu berdampak pada persiapan ujiannya. Ia gagal lulus dan kehilangan arah. Pulang ke kampung terasa berat, malu, dan kecewa. Ia pun memilih menetap di Kupang untuk mencari kesibukan—dan dari sinilah titik balik hidupnya dimulai.
Dari Dapur Restoran ke Dapur Sendiri
Yaya mulai bekerja sebagai pelayan di sebuah restoran di Kupang. Di sanalah ia menyadari bahwa sambal—makanan sehari-harinya—bisa punya nilai jual. Ia bahkan menantang chef di tempatnya bekerja untuk mencicipi sambal racikannya sendiri.
“Chef-nya bilang enak dan menyarankan untuk dijual. Dari situ saya mulai berpikir serius,” ujarnya.
Sebagai pecinta sambal sejak kecil, ia sudah terbiasa makan dengan sambal racikan sendiri. Maka pada awal 2023, lahirlah Asett Sambal—brand yang namanya diambil dari bahasa Dawan, pelesetan kata "Maset" atau “pedas”.
Modal Rp150 Ribu, Rasa Tak Tertandingi
Dengan uang Rp150 ribu, Yaya membeli bahan baku dan memproduksi sambal secara mandiri dari dapur kosnya. Promosi dilakukan lewat media sosial, WhatsApp, dan dukungan teman-teman kerja.
Dibantu beberapa chef profesional, ia mengembangkan resepnya hingga empat kali uji coba sebelum menemukan cita rasa khas. Kini Asett Sambal hadir dalam dua varian utama—Sambal Cumi dan Sambal Cakalang, masing-masing tersedia dalam tiga level kepedasan, termasuk varian "Original" tanpa pemanis yang cocok bagi pencinta pedas sejati.
Tak Sekadar Sambal: Ini Tentang Martabat dan Pemberdayaan
Meski kini juga bekerja sebagai Tenaga Kesehatan Desa (TKD) di kampung halamannya di Sais Ana, Noebeba, Yaya terus menekuni bisnisnya. Ia memanfaatkan setiap kesempatan untuk memperkenalkan sambalnya, termasuk dalam acara persiapan pemekaran desa.
Saat kunjungan kerja Bupati TTS, Seperius E. Sipa, ke desa tempatnya mengabdi, Asett Sambal diborong dan dibagikan sebagai bentuk apresiasi terhadap inovasi lokal. “Bapak bilang, ini bagus untuk TTS. Saya bangga sekali,” kenangnya ketika membagikan kisahnya melalui WhatsApp kepada arahkita.com, Kamis (3/7/2025).
Produk Yaya kini telah menembus pasar berbagai kota di Indonesia—dari Kalimantan, Surabaya, Bali, hingga Makassar—dan bahkan merambah ke Timor Leste dan Turki.
Lebih dari sekadar produk kuliner, Asett Sambal menjadi kendaraan bagi Yaya untuk memberdayakan keluarga dan warga sekitar. Ia mengajak saudara-saudaranya yang putus sekolah untuk bergabung dalam produksi, dan merancang program kolaborasi dengan petani lokal untuk menanam cabai.
Ia menggandeng kelompok tani milenial bernama GEJALA yang berkomitmen menjaga ekosistem pertanian meski menghadapi keterbatasan sumber daya air.
Tidak hanya melibatkan anak muda, Yaya juga merangkul orang tua dari anak-anak perantauan untuk ikut aktif. Harapannya, mereka yang sudah merantau bisa melihat potensi desa dan terpanggil untuk kembali.
Mimpi: Ruko, Oleh-Oleh Khas TTS, dan Digitalisasi
Yaya bercita-cita memiliki ruko di pusat Kota SoE, agar Asett Sambal bisa menjadi salah satu oleh-oleh khas dari TTS. Selain itu, ia juga aktif mengikuti seminar UMKM dan terus belajar mengenai pengurusan legalitas dan pengembangan usaha secara digital.
“Beta percaya, setiap tempat kerja yang pernah saya singgahi—restoran, klinik, bahkan penjual salome—semua kasih saya pelajaran buat bangun usaha ini. Beta tidak pulang dengan tangan kosong,” ujarnya seraya merasa bangga Asett Sambal bakal berkolaborasi dengan Sayur Kendal milik pengusaha asal Timor, NTT, Fransiscus Go.
Dalam kesempatan mengunjungi lokasi produksi Asett Sambal, pada Selasa (24/6/2025), Frans Go juga mengumumkan rencana kerja sama antara Sambal Asett dan Sayur Kendal, jaringan distribusi sayur dari Jakarta. Produk Sambal Asett sebelumnya sudah sempat dipasarkan melalui Tokopedia dari Jakarta, dan kini akan diperkuat agar lebih dikenal di pasar nasional.
"Kami ingin memastikan produksi sambal ini terus berjalan untuk menghidupkan petani cabai di Soe. Sayur Kendal siap menjadi mitra distribusi agar produk ini menjangkau lebih luas," jelas Frans Go.