Loading
Linda Soedibyo, pemilik jenama UMKM 'Jan Ayu', menunjukkan karya fesyen yang dipamerkan dalam acara Festival Ekonomi Syariah (FESyar) Sumatera 2025 di Lampung City Mall, Bandarlampung, Selasa (24/6/2025). (ANTARA/Rizka Khaerunnisa)
DI BALIK motif-motif indah kain tradisional, ada kisah perempuan-perempuan tangguh yang tak hanya menjaga budaya, tetapi juga membuka jalan perubahan. Dari Lampung hingga Belitung, dua pelaku UMKM perempuan ini mengubah tapis dan batik menjadi media pemberdayaan, keberlanjutan, dan penguatan identitas.
Dari Kota Metro, Tapis Jadi Cerita Hidup Sehari-Hari
"Slow living," begitu Linda Soedibyo menyebut gaya hidupnya kini. Setelah pensiun dan kembali ke kampung halaman di Kota Metro, Lampung, Linda memutuskan untuk memulai sesuatu yang baru: mengenalkan kembali tapis ke generasi masa kini.
Tapis, kain adat Lampung yang dulu hanya dikenakan pada upacara atau pernikahan, menurut Linda terlalu berharga untuk hanya disimpan di lemari. Ia menciptakan versi tapis tanpa benang emas—lebih ringan, lebih fleksibel, dan cocok digunakan sehari-hari. Dari sinilah lahir Jan Ayu, label fesyen yang menghadirkan tapis sebagai outfit ke kantor, arisan, hingga jalan-jalan ke mal.
Alih-alih membangun pabrik besar, Linda memilih sistem kemitraan dengan para penjahit dan perajin lokal. Setiap bulan, Jan Ayu memproduksi puluhan hingga ratusan busana, tergantung permintaan.
Baca juga:
Menjahit Makna, Menenun Harapan, Kisah Dua Perempuan UMKM yang Menghidupkan Wastra Nusantara“Kalau kamu bisa mengerjakannya sendiri, berarti mimpimu belum cukup besar,” ujar Linda. “Karena saya tidak bisa sendirian, saya tahu mimpi ini sudah cukup besar.”
Bagi Linda, setiap helai kain bukan sekadar produk. Ia menanamkan pesan budaya dan nilai lokal ke dalam desain. Salah satunya adalah motif Raja Medang, yang dulunya digunakan dalam pengangkatan sultan, kini ditafsirkan ulang sebagai simbol transformasi diri. Bahkan, Linda menyisipkan pesan-pesan anti-korupsi dalam aksara Lampung ke dalam koleksinya—membuat busana bukan hanya indah, tapi juga penuh makna.
Tak berhenti di sisi budaya, Jan Ayu juga menerapkan prinsip zero waste. Kain perca tak dibuang, melainkan dijahit ulang menjadi produk baru. Filosofi “Merawat tradisi, menjaga bumi” menjadi nafas utama brand ini.
Dukungan dari Bank Indonesia semakin memperluas jangkauan Jan Ayu. Lewat pelatihan, kurasi produk, dan pameran di dalam dan luar negeri, produk Linda kini menjangkau pasar internasional—mulai dari Jepang, Australia, hingga Nikaragua.
Meski tantangan ekonomi membuat permintaan dari instansi menurun, Linda tak patah semangat. Fokusnya kini tertuju pada pelanggan loyal dan menjaga kualitas agar nilai-nilai di balik kain tetap hidup.
Kelekak Batik: Menumbuhkan Harapan dari Rumah
Di sisi timur laut Sumatra, Diana memulai langkahnya dari rumah di Belitung, hanya dengan modal Rp1 juta dan semangat belajar. Ia mendirikan Kelekak Batik, sebuah label yang tak hanya melestarikan batik pesisir, tapi juga menjadi ruang aman dan produktif bagi penyandang disabilitas.
Nama “Kelekak”—yang berarti tempat yang rindang dalam bahasa lokal—dipilih sebagai simbol harapan. Di sana, Diana tak hanya membatik, tapi juga melatih para pekerjanya yang sebagian besar adalah tunarungu. Mereka diajarkan membuat batik tulis, cap, hingga ecoprint dari daun asli.
“Mereka hanya butuh ruang untuk berkembang,” ujar Diana. “Dan saya ingin menciptakan ruang itu.,”tambahnya dikutip dari Antara.
Awalnya, semua bahan baku harus didatangkan dari Solo—pewarna, malam, hingga canting. Biaya tinggi dan keterbatasan produksi menjadi tantangan tersendiri. Tapi Diana tak menyerah. Ia bahkan membuat alat cap batik sendiri dari kardus bekas demi efisiensi.
Sejak didampingi Bank Indonesia pada 2021, Kelekak Batik mulai dikenal luas. Penjualan yang semula hanya Rp7 juta per bulan kini melonjak hingga rata-rata Rp35 juta. Meskipun permintaan dari instansi kini menurun, Diana sigap beradaptasi lewat pemasaran daring dan memperluas pasar ritel.
Warisan Budaya Sebagai Jalan Perubahan
Baik Linda maupun Diana menunjukkan bahwa warisan budaya bisa menjadi jalan menuju pemberdayaan dan perubahan sosial. Di tangan Linda, tapis bukan lagi kain sakral semata, melainkan pakaian yang penuh cerita dan nilai. Sementara di tangan Diana, batik menjadi medium inklusi sosial dan pemberdayaan difabel.
Keduanya memulai dari ruang sederhana—dari rumah, dari komunitas kecil. Namun dengan visi besar dan langkah strategis, karya mereka kini menembus batas-batas geografis dan sosial. Mereka bukan sekadar pelaku UMKM, tetapi juga penjaga budaya, agen perubahan, dan inspirasi bagi banyak perempuan Indonesia lainnya.