Selasa, 27 Januari 2026

Suherman, Perajin Serang yang Ubah Limbah Kayu Jadi Miniatur Ikonik Bernilai Ekspor


 Suherman, Perajin Serang yang Ubah Limbah Kayu Jadi Miniatur Ikonik Bernilai Ekspor Suherman (35), ketua Komunitas Cipta Handycraft Innovation Product (CHIP) menunjukkan beragam kerajinan seni hasil produksi komunitasnya. Komunitas CHIP berhasil mengolah limbah peti kemas menjadi usaha kerajinan seni yang kini beromzet hingga ratusan juta rupiah.(Humas-PR)

SIAPA sangka limbah kayu yang kerap dianggap tak bernilai justru bisa menjadi sumber inspirasi dan penghasilan? Suherman (40), seorang perajin asal Desa Kadikaran, Kecamatan Ciruas, Kabupaten Serang, Banten, membuktikan hal itu dengan mengubah potongan-potongan kayu sisa menjadi karya seni miniatur bernilai tinggi.

Awalnya, Suherman mencoba peruntungan di bidang pembuatan furnitur. Namun karena pasar yang kurang menjanjikan, ia memutar haluan. Sejak tahun 2016, ia menekuni dunia kerajinan tangan dengan mengandalkan limbah kayu, terutama kayu jati Belanda bekas olahan pabrik yang banyak ditemukan di kawasan Kragilan hingga Cikande.

Dari Taj Mahal hingga Leuit Badui: Miniatur Bernuansa Budaya dan Ikonik

Bersama usaha rumahan miliknya yang diberi nama Cipta Handycraft Innovation Product (CHIP), Suherman menciptakan miniatur berbagai bangunan ikonik dari dalam dan luar negeri. Beberapa karya terkenalnya meliputi miniatur:

Masjid Taj Mahal, India

Menara Pagoda, Tiongkok

Leuit (lumbung tradisional) khas masyarakat adat Badui

Menara Masjid Agung Banten

Kapal legendaris Perahu Pinisi

Titik Nol Kilometer Provinsi Banten

Tak hanya bentuk dan desainnya yang menarik, setiap detail miniatur dikerjakan dengan ketelitian tinggi, menjadikan setiap karya bukan hanya pajangan tetapi juga representasi budaya.

Menembus Pasar Internasional: India dan Arab Saudi Jadi Pelanggan

Kualitas kerajinan Suherman telah membawanya menembus pasar ekspor. Produk-produk miniatur kayunya telah dipesan oleh pembeli dari berbagai negara, termasuk India dan Arab Saudi. Bahkan, saat ini CHIP sedang mengerjakan proyek miniatur Masjid Nabawi di Madinah atas pesanan khusus.

“Biasanya kami terima pesanan lewat media sosial atau marketplace. Produk dikirim dan dijual kembali oleh pelanggan di negara tujuan,” jelas Suherman.

Usaha Ramah Lingkungan yang Menggerakkan Ekonomi Lokal

Tidak hanya kreatif, usaha ini juga ramah lingkungan karena memanfaatkan limbah kayu yang seharusnya dibuang. Selain itu, Suherman juga memberdayakan masyarakat sekitar. Saat ini, ada 15 karyawan lokal yang membantunya memproduksi berbagai pesanan miniatur.

Harga tiap miniatur bervariasi tergantung tingkat kerumitannya, mulai dari Rp200 ribu hingga Rp2 juta per unit. Dalam sebulan, CHIP mampu memproduksi hingga 200 unit kerajinan, dengan omzet bulanan berkisar antara Rp20 juta hingga Rp50 juta.

Bertahan di Tengah Pandemi Berkat Digitalisasi

Ketika banyak usaha gulung tikar di masa pandemi, CHIP tetap bertahan berkat pemasaran digital. Dengan mengoptimalkan penjualan melalui marketplace dan media sosial, serta menjalin kerja sama dengan instansi pemerintah, usaha ini tetap bergerak dan bahkan tumbuh.

“Beberapa kementerian sempat memesan produk kami untuk suvenir. Penjualan online sangat membantu kami bertahan saat kondisi sulit,” tambahnya dikutip dari Antara.

Editor : Farida Denura

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Arah Preneur Terbaru